
Brahm dan Emilia datang ke Italia untuk mengunjungi Zeeko dan Trisha. Setelah mendengar kabar jika Trisha sudah ditemukan, Emilia sangat bahagia karena bisa melihat menantunya itu.
"Bagaimana kandunganmu, Nak?" Emilia mengelus pelan perut Trisha.
"Baik, Mom. Dia sangat kuat seperti aku." Trisha menunjukkan ototnya ke hadapan Emilia.
Gelegar tawa menggema di ruangan itu.
"Oh ya, Mom, Dad. Kalian menginap disini kan?" tanya Zeeko.
"Umm, kami..." Emilia melirik suaminya. "Kami sudah memesan hotel, Nak."
"Eh? Kenapa menginap di hotel? Di mansion ini banyak kamar kosong, Mom!" Zeeko membujuk ibunya.
Namun bujukan Zeeko dan Trisha rasanya sungguh tak mempan untuk Emilia dan Brahm.
"Dengar, Zee. Ibumu ini ingin berbulan madu, jadi... Kami ingin menghabiskan waktu berdua saja." Brahm merangkul mesra Emilia.
"Hahaha, jadi begitu. Wah, aku dan Trisha jadi iri melihat kemesraan kalian. Sayang, apa kita juga rencanakan bulan madu untuk kita? Ah, mungkin namanya bukan honeymoon, tapi babymoon." Zeeko mengusap perut Trisha.
__ADS_1
"Apa sih? Kau ini ada-ada saja!" Trisha menyikut Zeeko.
"Mom, kalian makan malam dulu disini. Baru setelah itu kalian berbulan madu. Bagaimana?" usul Trisha.
"Hmm, boleh. Sudah lama kami tidak berkumpul dengan keluarga besan dan..." Emilia melirik Ariana dan Mercy.
"Trisha adalah putriku! Meski aku dan Anthony sudah berpisah, ikatan seorang ibu tidak akan terputus dengan putrinya." Ariana membela diri.
Mercy tersenyum kecut menanggapi sorotan tajam Emilia. Sejak dulu Emilia kurang suka dengan Mercy.
"Bibi, apa kabar? Lama tidak berjumpa." Mercy mencoba berbasa basi dengan Emilia.
"Hmm, aku baik. Jadi, kau adalah saudara tiri menantuku sekarang? Semoga saja kau sudah berubah ya! Kau harus tahu diri jika Zeeko sudah menikah."
"Tuan, makan malam sudah siap." Seorang pelayan datang menghampiri.
Zeeko mengangguk. "Ayo semua, kita ke ruang makan. Aku menyiapkan hidangan spesial untuk kalian semua." Zeeko mempersilakan tamu-tamunya untuk menuju ke meja makan.
...***...
__ADS_1
Usai makan malam, Brahm dan Emilia pamit undur diri karena harus menginap di hotel dengan alasan berbulan madu. Mereka berkendara menuju ke hotel dan saling mendiamkan diri selama perjalanan.
"Bukankah Zeeko bisa curiga jika kita menginap di hotel. Kenapa tidak menginap di mansion Zeeko saja?"
Emilia menatap Brahm tajam. "Kau pikir aku masih bisa berakting jika kita tinggal di mansion Zeeko? Tidak! Aku bosan setiap hari berpura-pura kita baik-baik saja."
"Em, kita baik-baik saja. Kau saja yang terlalu memperbesar masalah!" kesal Brahm.
"Aku? Kau yang berselingkuh dan aku yang disalahkan? Sungguh tidak bermoral! Kau bahkan berani bermain api di atas pesawat! Apa kau pikir aku bisa menerima itu?"
Brahm mengusap wajahnya kasar. "Itu hanya... Khilap sesaat, Em. Tolong mengerti!"
"Khilap? Di dalam pesawat kau bisa khilap? Jika aku tidak memergokimu apa kau akan bercinta dengan semua pramugari itu? Brengsek kau, Brahm! Aku tidak percaya Zeeko menuruni sifatmu. Tapi beruntung sekarang dia sudah berhenti."
"Baiklah, oke! Aku minta maaf! Sudah puas? Apa kita akan terus bertengkar hingga kembali ke London?"
"Tidak jika di depan Zeeko dan Trisha!" Emilia keluar dari mobil karena sudah tiba di depan lobi hotel.
"Aarrgghh!" Brahm menggeram kesal. Ia pun ikut turun dan mengikuti langkah Emilia.
__ADS_1
Saat sedang memasuki lobi hotel, dari jauh Brahm melihat sosok yang tidak asing di matanya. Matanya memicing untuk memastikan apakah benar sosok yang dilihatnya adalah orang yang ia kenal.
"Hah?! Benarkah itu dia? Rasanya tidak mungkin! Bagaimana mungkin Ellea masih hidup?"