
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?"
Kalimat Ariana membuat Trisha makin mendidih karena ternyata Zeeko mengenal kakak tirinya.
"Mercy? Kau..."
"Mercy adalah anak sambung Mommy. Dia anak Daddy Tom." Ariana menjelaskan.
"Baiklah, mari kita langsung ke meja makan saja!" ajak Daddy Tom yang merasa atmosfer antara Mercy dan Trisha kurang bagus.
Ariana berjalan lebih dulu bersama Mercy. Trisha mengikuti mereka bersama Zeeko.
"Bagus sekali ya? Kau bertemu dengan salah satu wanita bayaranmu!" bisik Trisha sarkas.
Zeeko tersenyum simpul. "Mercy bukan wanitaku, tapi dia temanku saat SMA dulu."
Trisha mengernyit bingung. "Aku tidak percaya! Kau pasti punya hubungan lebih dengannya!"
Zeeko memutar bola mata malas. "Terserah kau saja, Trish. Percuma saja aku jelaskan padamu!"
#
#
#
Acara makan malam berjalan cukup sengit dengan tatapan Trisha yang terus mengarah pada Mercy, kakak tirinya. Trisha juga memperhatikan ekspresi datar Zeeko yang terus di tatap oleh Mercy.
"Sayang, setelah makan malam, Mommy ingin bicara denganmu," ujar Ariana.
Trisha memutar bola mata malas. "Bicara saja disini! Sepertinya yang lainnya juga tidak keberatan! Benar kan?" Trisha menatap semua orang meminta persetujuan.
Ketika tatapan Trisha bertemu dengan Zeeko, pria itu malah memberikan kode jika Trisha harus bicara dengan ibunya. Dengan berat hati akhirnya Trisha menyetujuinya.
Trisha setuju hanya karena tidak ingin ada keributan di rumah itu. Itu saja!
Usai makan malam, Ariana mengajak Trisha bicara di ruang baca. Trisha menyibak buku-buku yang ada di ruang itu. Kebanyakan tentang ekonomi dan bisnis.
__ADS_1
"Kau sudah hidup enak sekarang. Jadi seharusnya kau tidak perlu lagi menggangguku dan juga Daddy."
Trisha menatap tajam wanita paruh baya di depannya.
"Trish, tolong dengarkan Mommy dulu." Ariana mencoba meraih tangan Trisha, namun ia menolaknya.
"Aku sudah bahagia dengan kehidupanku! Jadi kau tidak perlu datang lagi! Bagiku kau sudah lama mati!" Mata Trisha memerah dan berkaca-kaca. Sosok yang dulu sangat ia rindukan. Sosok yang dulu ia inginkan dekapannya, sekarang sudah Trisha hempas jauh-jauh.
"Trisha... Maafkan Mommy..." Ariana menitikkan air mata.
"Jangan berpura-pura! Aku tidak butuh!" Trisha geram dengan sikap ibunya yang seakan menjadi korban. Padahal Trisha dan ayahnya lah yang menjadi korban.
"Dua belas tahun! Kau meninggalkanku selama itu dan kau minta aku untuk bersikap seolah tidak terjadi apapun? Tidak bisa!"
Trisha mengusap kasar air mata yang sempat terjatuh. "Sudahlah! Aku tidak ingin bicara denganmu lagi!"
Trisha hendak keluar dari ruangan itu, tapi Ariana mencegahnya. Ariana memeluk erat tubuh Trisha.
"Maafkan, Mommy Nak! Izinkan Mommy memperbaiki segalanya! Berikan Mommy kesempatan!"
Di luar ruangan, Zeeko yang sibuk dengan ponselnya dikejutkan dengan kehadiran Mercy.
Zeeko menyeringai. "Tidak ada yang salah dengan itu kan?"
"Yeah, itu benar. Kukira aku masih punya kesempatan, Zee. Kita bisa mengulang masa-masa indah kita dulu."
Zeeko menarik sudut bibirnya miring. "Tidak ada masa lalu, Mercy. Kau sendiri yang meninggalkan aku untuk mencapai impianmu. Sekarang kau sudah mencapainya, dan aku juga sudah menemukan kebahagiaanku. Jadi, kau jangan berharap lebih padaku."
Mercy tertawa sumbang. "Kebahagiaan? Kau dan Trisha? Bahagia? Kau pikir aku tidak tahu dia gadis seperti apa? Kau tidak akan cocok dengannya, Zee."
"Ehem!" Suara dehaman dari arah belakang mereka membuat Zeeko berbalik badan.
"Sayang? Apa sudah selesai?" tanya Zeeko dengan ekspresi yang tetap tenang.
"Hmm, sudah selesai. Ayo kita pulang! Dan aku tidak akan sudi datang lagi kemari! Terlalu banyak kuman disini!"
Trisha melingkarkan tangannya di lengan kiri Zeeko. Mereka berpamitan pada Tom dan juga Ariana. Meski belum mencapai perdamaian, Trisha berusaha bersikap baik pada Ariana. Apalagi ada Tom disana.
__ADS_1
#
#
#
Tiba di rumah, Trisha menghempas tubuhnya kasar ke atas ranjang. Rasanya melelahkan meladeni dua wanita parasit dalam hidupnya.
"Trish!"
Panggilan disertai ketukan menggema di pintu kamar Trisha.
"Masuk saja! Aku tidak mengunci pintu!" teriak Trisha.
Zeeko masuk ke dalam kamar Trisha. Ia ingin menjelaskan perihal hubungannya dengan Mercy di masa lalu.
Zeeko melihat Trisha memejamkan mata sambil memijat pelipisnya pelan.
"Cepat katakan ada apa? Jika tidak ada yang mau kau bicarakan sebaiknya keluar saja sana!" ucap Trisha santai tapi penuh intimidasi didalamnya.
"Aku ingin memberitahumu tentang hubunganku dan Mercy di masa lalu."
Sontak saja Trisha langsung tersenyum dan berusaha tetap cuek. Padahal dalam hatinya ia gembira karena Zeeko mau berkata jujur padanya.
"Aku tidak punya maksud apapun. Aku hanya ingin kau tidak salah paham nantinya. Aku mengutamakan kejujuran dan keterbukaan dalam suatu hubungan. Jadi kuharap, kau bisa terbuka juga padaku."
Trisha membuka mata dan memposisikan dirinya duduk. Kini dia dan Zeeko duduk berhadapan diatas ranjang Trisha.
"Katakan! Aku ingin mendengarnya!" Trisha memasang wajah serius didepan Zeeko.
"Kami memang memiliki hubungan saat masih SMA dulu. Saat itu aku menyukai Ellea, tapi dia menolak perasaanku. Mungkin karena kami masih terlalu muda. Lalu, Mercy datang sebagai teman yang menghiburku. Dan ya, kami memang berteman."
Trisha masih mendengarkan cerita Zeeko. Ia justru tak mengira jika Zeeko akan menceritakan kisah masa lalunya.
"Singkat cerita, aku dan Mercy akhirnya berpacaran. Dia adalah pacar pertamaku."
"Pacar pertama sekaligus cinta pertama?" tanya Trisha.
__ADS_1
"Bukan! Mercy bukan cinta pertamaku. Ellea lah cinta pertamaku."
Trisha manggut-manggut. "Okey! Jadi, Mercy adalah pacar pertamamu tapi bukan cinta pertama. Lalu, aku cinta yang keberapa untukmu?"