
Mentari pagi telah menerangi sebagian bumi ini. Sinarnya yang hangat bahkan menembus masuk ke celah-celah kaca jendela dimana dua orang manusia masih terlelap di dalam selimut yang sama.
Si wanita terbangun lebih dulu dan merasakan denyutan di kepalanya. Ia ingat jika semalam ia terpengaruh oleh obat yang ia masukkan sendiri ke dalam minuman seseorang yang sudah menjadi targetnya. Namun yang terjadi semalam adalah...
"Akh, sial! Kenapa aku malah berakhir dengan cecunguk ini semalam?" gumam si wanita yang adalah Mercy.
Mercy melirik pria disampingnya yang terlelap dengan posisi tengkurap dan bertelanjang dada.
"Sialan kau, Max! Berani sekali kau menyentuhku!" rutuk Mercy dengan kekesalan luar biasa.
Namun tak bisa ia pungkiri jika permainan Max sangatlah luar biasa. Max membuatnya merasakan kenikmatan dunia berkali-kali.
Ingatan Mercy menelisik ketika semalam ia membawa Zeeko dari klub malam menuju ke sebuah hotel. Mercy sudah mempersiapkan segalanya agar rencananya berhasil.
Namun nahas, ketika ia sudah merebahkan tubuh Zeeko ke atas ranjang, dari arah belakang ada seseorang yang memukul dirinya hingga tak sadarkan diri. Dialah Max, yang selalu siap siaga menjaga Zeeko dimanapun berada.
"Huh, kau pikir kau bisa melakukan niat busukmu itu? Lexi, cepat kau bawa Tuan Zeeko keluar dari sini."
Ternyata Max tidak sendiri. Max bersama dengan Lexi sudah mencurigai gerak gerik Mercy yang datang ke klub. Max langsung bersiap ketika Madam Linda meneleponnya dan memberitahu kondisi Zeeko.
"Baik, Max. Lalu bagaimana dengan Nona Mercy? Dia pingsan atau mati?" tanya Lexi sambil menelisik kondisi Mercy.
"Hei, jangan sembarangan bicara! Dia hanya pingsan. Kau tenang saja!"
Lexi mengangguk, lalu membawa tubuh Zeeko keluar dari kamar hotel itu. Max sengaja mengorbankan dirinya ketimbang Lexi yang harus melakukan ini. Lexi sudah bertunangan, dan Max tidak mungkin merusak hubungan Lexi dengan kekasihnya itu.
Max tersenyum seringai. "Baiklah, Nona. Jika kau ingin bermain, maka aku akan meladenimu!"
Max membopong tubuh Mercy dan merebahkannya ke atas ranjang. Dengan sengaja Max meletakkan gelas yang sudah berisi air itu, yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Mercy.
Setelah menunggu beberapa saat, Mercy mulai membuka matanya. Tangannya memegangi kepalanya. Rasa sakit yang tadi diterimanya masih terasa.
"Aw! Sialan! Siapa yang tadi memukulku? Dan... Zeeko?"
Mercy melihat sekeliling dan tak melihat siapapun disana.
"Akh! Sial! Pasti ada orang yang membantu Zeeko!" kesal Mercy.
"Wah wah wah, kau sudah bangun, Nona?"
Max duduk santai di sofa sambil menatap Mercy.
"Kau?! Jadi ini semua ulahmu?"
"Tentu saja! Apa kau pikir aku akan membiarkan Tuan Zeeko masuk ke dalam perangkapmu? Tidak akan!"
Mercy menggeram kesal. Ia bahkan tak sadar segera meraih segelas air diatas nakas dan meneguknya hingga tandas. Mercy merasa haus tadi.
"Sialan, Kau! Aku akan membalasmu nanti!" Mercy bangkit dari tempat tidur. Ia segera melangkah keluar dari kamar hotel itu.
Saat tiba di depan pintu, Mercy merasa jika tubuhnya merasakan hawa yang berbeda. Mercy terhenti sesaat dan tangannya kini mengibas-ngibas di depan wajah.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba terasa panas?" gumam Mercy yang baru menyadari jika air yang diminumnya tadi bukanlah air biasa.
"Bodoh kau, Mercy! Bagaimana bisa kau lupa dengan rencanamu tadi? Kau malah meminum obat itu sendiri. Sekarang aku harus bagaimana?"
Max menyeringai. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Mercy.
"Max! Tolong aku! Rasanya panas!" Mercy menarik kerah jas Max dan menghiba padanya.
"Max, pleasssseeee!"
Max malah tertawa melihat tingkah Mercy yang seperti cacing kepanasan. Mercy bahkan dengan berani melucuti kain yang melekat pada tubuh Max.
"Hentikan, Nona!" Max memegangi tangan Mercy.
"Tidak, Max. Sebelum kau menyentuhku aku tidak akan berhenti!" kekeh Mercy.
Max hanya diam ketika Mercy malah mendorong tubuhnya hingga terjerembab keatas ranjang. Dengan tak sabarannya, Mercy membuka kain bagian bawah Max.
"Nona, pelan-pelan!"
"Aku tidak tahan lagi, Max! Cepat sentuh aku!" Mercy meraih tangan Max dan menempelkannya di aset berharganya.
Max tidak menolak. Ia bahkan membalik posisi. Max tak suka harus berada di bawah. Umumnya seorang pria lebih suka bersikap dominan jika sedang bercinta.
...***...
"Aaarrrgghhhh! Bodoh bodoh bodoh! Kau bodoh, Mercy!"
Max akhirnya terbangun karena mendengar suara Mercy yang ada di kamar mandi. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum.
"Semalam adalah hal tergila yang pernah aku lakukan. Aku melepas keperjakaanku dengan wanita seperti dia. Astaga!" Max memegangi kepalanya.
Mercy keluar dari dalam kamar mandi dan berlari cepat menuju ke arah Max.
"Aaarrggh! Brengsek kau, Max! Berani sekali kau menyentuhku! Pria rendahan sepertimu tidak pantas menyentuhku!"
Mercy memukuli tubuh Max yang besar itu. Max menangkap tangan Mercy dan membanting tubuh Mercy ke ranjang.
"Jangan pernah bermain-main denganku, Nona. Sekarang terima akibatnya!"
Max menerkam Mercy sekali lagi dengan penuh hasrat. Namun kali ini Max melakukannya dengan penuh kelembutan. Hingga membuat Mercy lupa jika tujuan utamanya adalah menjerat Zeeko, bukan asistennya.
...***...
Zeeko terbangun dari tidurnya dan keluar dari kamar. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat.
Semalam ia mabuk berat dan tak mengingat soal apapun.
"Tuan, Anda sudah bangun?"
Lexi dengan sigap menyapa Zeeko.
__ADS_1
"Lexi? Kau disini? Apa kau yang membawaku pulang?"
"Iya, Tuan."
Zeeko manggut-manggut. "Lalu dimana Max?"
"Max? Umm, dia..." Lexi bingung harus menjawab apa.
Hingga akhirnya Esme datang dan menginterupsi kegugupan Lexi.
"Tuan, saya sudah buatkan sup untuk mengurangi pengar Anda. Mari silakan dinikmati Tuan sebelum dingin."
Tanpa menunggu lagi Zeeko langsung mendatangi meja makan dan memakan sup buatan Esme. Lexi mengelus dada karena selamat dari cecaran pertanyaan Zeeko.
Lexi berdiri di samping Zeeko yang sedang menikmati sarapan paginya.
"Bagaimana perkembangan pencarian Trisha?"
Lexi mengatur napasnya sebelum menjawab.
"Sepertinya Nona Trisha memang benar ada di Belanda, Tuan."
Zeeko menerawang jauh. "Lalu apa kau sudah dapatkan info lainnya?"
"Maaf, Tuan. Belum. Saya akan menyuruh beberapa orang untuk menelusuri kota-kota di Belanda."
"Kau jangan bodoh, Lexi. Belanda itu luas. Trisha bisa ada dimanapun."
"Maaf, Tuan."
Lexi membungkukkan sedikit badannya. Lexi pamit undur diri karena harus menerima panggilan telepon dari anak buahnya.
"Apa?! Kau yakin?" Wajah Lexi tiba-tiba memucat sambil menatap Zeeko.
"Baiklah. Terima kasih atas infonya. Kau berhati-hatilah!"
Lexi menutup panggilan telepon. Ia segera menghadap kembali pada Zeeko.
"Tuan!"
Zeeko melirik Lexi. "Ada apa?"
"Baru saja saya mendapat telepon dari orang suruhan saya. Dia bilang sudah menemukan dalang dibalik penyerangan markas kita."
"Apa?! Kau serius?"
Lexi mengangguk.
"Siapa yang berani menantangku, Lex?"
"Tuan Leonard Maldini. Dia adalah sahabat Nona Trisha."
__ADS_1
"APA! Brengsek! Jadi dia yang sudah menghancurkan bisnisku? Dan kini dia ingin menghancurkan pernikahanku. Tidak akan kubiarkan! Lexi, siapkan anak buah terbaikmu. Kita akan ke Italia hari ini juga!"