
Zeeko mulai melakukan penyelidikan ulang tentang kecelakaan mobil yang dialami Ellea. Juga fakta mengenai masa lalu Ellea yang ternyata tak semulus yang Zeeko kira.
Sementara Zeeko sibuk mencari fakta, Trisha memilih kembali ke London. Hari ini Trisha berpamitan dengan Mila yang kini jadi teman dekatnya.
"Kau tahu, aku tidak pernah punya teman dekat seperti ini. Dulu sekali pernah. Tapi... Orang itu mengkhianatiku. Dan aku sudah melupakan persahabatan kami," cerita Trisha.
"Nona adalah orang yang baik. Pasti Nona akan mendapatkan teman yang baik juga."
"Kau sendiri bagaimana? Apa Dokter Dom sudah mulai melupakan Ellena?"
Mila mengedikkan bahunya. "Entahlah. Aku tidak berharap lebih. Mungkin suatu saat aku akan menemukan pria baik lainnya."
Trisha menepuk-nepuk bahu Mila. "Jangan khawatir! Kau gadis yang baik dan kuat. Sampai bertemu lagi ya!" Trisha berpelukan dengan Mila.
"Ehem! Apa kalian hanya akan berpelukan berdua saja?"
"Dokter Dom?"
Trisha juga memeluk sebentar pria itu. "Terima kasih."
"Jaga kandunganmu, Nona."
Trisha mengangguk. Trisha melambaikan tangan tanda sebelum pergi.
Mila melepas haru kepergian Trisha.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kau sedekat itu dengan Nona Trisha." Dom melingkarkan tangannya ke bahu Mila. Namun secara tak terduga gadis itu menepisnya. Bahkan ia memelintir tangan Dom ke belakang.
"Aw aw aw! Mila! Apa yang kau lakukan?" Dom meringis kesakitan.
"Harusnya aku yang tanya. Kenapa kau tiba-tiba menempelkan tanganmu di bahuku, ha?"
Entahlah. Secara spontan Mila yang biasanya manis kini berubah sedikit bar bar. Apa karena dia berteman dengan Trisha? Beberapa teknik bela diri sudah Mila kuasai. Agar ia tak lagi diremehkan oleh para pria seperti Dom.
Dengan kasar Mila menghempas tangan Dom lalu pergi meninggalkannya. Dom yang kesakitan hanya bisa menggeleng sambil memegangi tangannya.
"Sejak kapan Mila bisa bela diri?" Dom bergumam sendiri sambil tersernyum. Rasanya lucu dirinya kalah dengan gadis muda seperti Mila.
...***...
"Bebaskan aku dari sini! Lalu aku akan membantumu untuk menemukan pembunuh Ellea yang sebenarnya. Bagaimana?"
Penawaran Ellena memang menggiurkan bagi Zeeko. Tapi ia juga tak ingin tertipu. Ellena adalah wanita licik. Zeeko tahu Ellena penuh tipu muslihat.
"Kau tidak percaya? Tanyakan saja pada Ernest. Kau akan mendapatkan petunjuk dari dia."
Ellena beranjak dari duduknya dan bersiap kembali ke sel tahanan.
"Jika kau tidak percaya padaku, maka jangan pernah menampakkan batang hidungmu di depanku lagi!"
Zeeko masih tetap diam. Ia harus mengambil keputusan yang tepat untuk ini.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan membebaskanmu dari sini. Tapi kau harus ingat, jangan main-main denganku. Jika kau berani, kau akan tahu akibatnya!" Zeeko meninggalkan Ellena lebih dulu.
Sepeninggal Zeeko, Ellena tersenyum puas karena berhasil membujuk Zeeko untuk membebaskan dirinya.
"ππ¦π£π¦π―π΅π’π³ ππ’π¨πͺ π’π¬πΆ π’π¬π’π― π£π¦π£π’π΄ π₯π’π³πͺ π±π¦π―π«π’π³π’. ππ¬πΆ πΊπ’π¬πͺπ― π‘π¦π¦π¬π° π΅π’π¬ π±π¦π³π€π’πΊπ’ π₯π¦π―π¨π’π― π’π±π’ πΊπ’π―π¨ π’π¬π’π― π΅π¦π³π«π’π₯πͺ π΄π¦π΅π¦ππ’π© πͺπ―πͺ..."
...***...
Zeeko menanti kedatangan Ellena dan Ernest di sebuah private room sebuah resto. Ellena yang meminta Zeeko datang, tapi ternyata Ellena sendiri yang datang terlambat.
"Lama sekali dia!" gerutu Zeeko. Baginya setiap detik adalah hal yang berharga untuk pebisnis seperti dia.
"Hai, Zee." Sebuah sapaan membuat Zeeko menoleh.
"Huh! Akhirnya kalian datang juga! Kalian pikir aku ini punya banyak waktu, untuk meladeni kegilaan kalian ini, ha?"
Ernest malah tertawa. "Tenang, kawan. Kau belum tahu saja tentang kebenarannya. Jika kau sudah tahu, maka kau akan sangat terkejut."
"Katakan apa rencana kalian?" Zeeko memilih mengalah saja.
"Baik, dengarkan aku!" Ellena membisikkan sesuatu ke telinga Zeeko.
...***...
*πΌπππ πππ πππππ πππ ππΏ ππ’π ππππ ππππ πππππππ ππππ πππππ ππππππππ πππ πππππ. ππππππ πππππ π«°π«°
__ADS_1