Istri Bar-bar Duda Cassanova

Istri Bar-bar Duda Cassanova
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Trisha mendatangi Mercy yang sedang berada di sebuah klub. Dengan langkah pasti Trisha mendekati Mercy yang sedang bersama teman-temannya.


"Halo, Kak. Kita berjumpa lagi!" sapa Trisha dengan senyum menyeringai.


"Kau! Bagaimana bisa kau datang kemari?"


Mercy sangat terkejut melihat kehadiran Trisha.


"Hahaha, kaget ya? Ini memang kejutan untukmu, Kak."


Mercy tersenyum smirk. "Aku yakin kau sengaja membaca pesan di ponsel Zeeko. Dan kau melarangnya untuk menemuiku."


Trisha menyeringai. "Bingo! Kau salah besar! Zeeko tidak tahu aku menemuimu disini. Dan jangan terlalu percaya diri. Meski Zeeko membaca pesan darimu, belum tentu juga dia akan bersedia menemuimu."


Mercy menggeleng pelan. "Aku hanya kasihan pada Zeeko. Karena dia harus mendapatkan istri sepertimu. Kau tahu, beda antara kau dan Ellea itu seperti bumi dan langit. Sayang sekali umurnya tidak panjang."


Trisha merasa amat kesal dengan wanita dewasa di depannya. Trisha tak mau lagi mengindahkan yang namanya menghormati orang yang lebih tua, atau juga menganggap Mercy sebagai kakak.


Trisha mengambil botol wine yang ada di meja dan menyiramkannya perlahan ke kepala Mercy. Sontak saja beberapa orang berbisik-bisik dengan aksi ekstrem yang dilakukan Trisha.


"Kau ini memang wanita murahan! Sangat pantas disiram seperti ini agar otakmu bisa digunakan untuk bekerja, jangan hanya diam di tempat!"


Kata-kata sarkas Trisha tentunya membuat kawan-kawan Mercy geram.


"Hei, apa yang kau lakukan? Dasar gadis bar-bar!"


Trisha tersulut emosi kata-kata yang dilontarkan teman pria Mercy. Trisha bersiap menyerangnya. Tapi tiba-tiba dari arah belakang juga ada pria yang menyerang Trisha lebih dulu. Pria itu menendang punggung Trisha hingga keseimbangan Trisha terganggu.


"Sialan kalian semua!" Trisha sudah tak bisa lagi menahan emosinya. Ia segera mengambil ancang-ancang dan menyerang mereka balik.

__ADS_1


Mercy hanya diam dan menyaksikan keributan yang sedang terjadi. Ternyata Mercy sudah menyiapkan segalanya. Para pria yang ada di dekatnya bukanlah teman-temannya melainkan orang-orang yang sudah ia bayar untuk menghajar Trisha.


Tapi bukan Trisha namanya jika harus menyerah. Tentu saja ia meladeni setiap pria yang datang menyerangnya.


Pihak klub pun hanya diam tanpa mau berbuat apapun karena memang mereka sudah dibayar oleh Mercy.


"Hiyaaaaat!" Tanpa ampun Trisha menyerang pria-pria bertubuh besar itu. Bahkan tak ayal Trisha juga terkena pukulan dari mereka.


Dan ketika Trisha akhirnya muncul sebagai pemenang, sosok yang memang diundang oleh Mercy akhirnya tiba. Ternyata sejak tadi Zeeko hanya diam dan melihat apa yang sedang diperbuat Trisha terhadap Mercy.


"Zeeko?" Pekikan Mercy membuat Trisha menoleh.


Mercy langsung menghampiri Zeeko dan berakting layaknya orang yang teraniaya.


"Zee, lihatlah apa yang sudah dilakukan istrimu. Dia sudah menghancurkan klub dan juga dia melukaiku. Dia menyiramku dengan sebotol wine. Dia sungguh kejam dan bar-bar, Zee..." Mercy berpura menangis terisak.


Sedang Trisha merasa jengah dengan sikap kakak tiri yang baru dikenalnya itu. Trisha menghampiri Zeeko yang masih terdiam.


"Trish, apa yang kau lakukan? Kau mengacaukan tempat ini dan..." Zeeko melihat lima orang pria terkapai di lantai.


"Aku kemari karena tidak ingin kau berbuat nekat, Trish. Sudah cukup kau membuat ulah!"


Trisha menatap Zeeko. "Ulah? Aku berulah katamu? Kau harusnya tahu aku begini karena siapa! Karenamu! Kau yang sudah membuatku terpaksa melakukan ini!"


"Aku tidak memintamu, Trish. Harusnya kau bisa bicarakan baik-baik dulu denganku. Kenapa kau selalu saja bertindak sesuka hatimu? Aku suamimu. Harusnya kau bertanya padaku baik-baik, jangan main hakim sendiri."


"Hei, apa aku harus bersikap baik dengan wanita jálang seperti dia? Kau tahu dia punya niat tak baik untukmu. Aku hanya..."


"Tidak, Zee. Dia berbohong. Aku mengundangmu hanya untuk makan bersama saja. Tidak ada hal lain lagi. Dia terlalu berlebihan dengan datang kemari dan membuat ulah." Mercy merasa jika dirinya harus menjadi kompor diantara Zeeko dan Trisha.

__ADS_1


"Haaah! Sudahlah hentikan! Kalian berdua adalah keluarga. Kenapa harus bertengkar?" Zeeko merasa kepalanya berdenyut karena mendengar suara keras kedua wanita di depannya.


"Jadi... Kau lebih memihak padanya? Kau peduli padanya makanya kau datang kemari? Begitukah, Zeeko?" Trisha berusaha tetap kuat meski hatinya terus saja dihantam rasa kecewa.


"Aku datang karena tidak ingin kau membuat keributan. Tapi sepertinya kau memang tidak bisa diatur, Trish. Kau benar-benar membuat kesabaranku habis."


Trisha mulai paham apa yang ingin disampaikan oleh Zeeko. Trisha memilih keluar dari klub tanpa peduli pada Zeeko.


"Cih, kau memang menyedihkan Trish. Hidupmu menyedihkan!" Trisha mengutuk dirinya sendiri.


Trisha memilih untuk menaiki taksi ketimbang mobil yang diberikan Zeeko untuknya. Ia menyerahkan kunci mobil pada petugas vallet yang berjaga.


#


#


#


Malam itu juga Zeeko harus terbang ke Italia untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi disana. Untuk sementara Zeeko akan mengesampingkan masalahnya dengan Trisha.


Ada banyak orang yang bergantung padanya dan Zeeko harus segera datang. Zeeko meminta Max mengirim anak buah terbaiknya untuk mengawasi keseharian Trisha selama dirinya tak ada di rumah.


Rupanya Zeeko cukup khawatir dengan emosi Trisha yang suka meledak-ledak itu. Dan ya, Zeeko tadi melihat jika Trisha terluka karena berkelahi dengan pria-pria di klub tadi. Zeeko ingin memastikan jika Trisha baik-baik saja.


"Tuan, aku mengirim Lexi untuk menjaga Nona Trisha," lapor Max.


"Hmm, baiklah. Suruh dia awasi Trisha!" jawab Zeeko sambil memejamkan mata.


"Tuan, jika Tuan khawatir dengan Nona Trisha, harusnya Tuan bawa saja Nona bersama. Bukankah biasanya Tuan membawa Nona?"

__ADS_1


Zeeko mengangkat tangannya. Itu pertanda jika Max harus segera diam atau dia bisa saja dihempaskan dari atas pesawat.


__ADS_2