
Trisha kembali ke rumah dengan perasaan dongkol yang teramat sangat. Ia menuju ke ruang gym dan meluapkan kekesalannya pada samsak yang ada di sana.
"Semalaman? Apa kau pria hyper, Zeeko Howard? Mana ada orang yang sekuat itu bermain diatas ranjang?"
Trisha mengumpat sambil terus memukuli samsak itu. Entah apa salah samsak itu hingga menjadi sasaran Trisha untuk mengeluarkan emosinya.
Setelah merasa lelah, Trisha pun berhenti dan jatuh terlentang diatas kasur matras yang ada disana. Matanya menatap menerawang langit-langit kamar itu.
Trisha ingat bagaimana Zeeko selalu menolak kehadirannya dulu. Zeeko yang dingin dan misterius. Trisha tak menyangka jika Zeeko bisa jatuh cinta dan menikah dengan Ellea.
Saat mendengar Zeeko menikah tiga tahun lalu, hati Trisha hancur. Pria yang selama ini diam-diam disukainya malah menikah dengan wanita lain.
Trisha memilih untuk mempelajari beladiri agar hatinya bisa sekeras batu menghadapi kerasnya hidup. Trisha tak suka bila harus ber-melow ria menghadapi sebuah patah hati.
Makanya seperti hari ini, ketika Trisha mengetahui durasi Zeeko bermain bersama Mellanie, maka hatinya tetaplah keras seperti batu. Tak ada air mata yang mengiringi kekecewaan dihatinya. Ia meluapkan semuanya dengan tenaga sampai kelelahan. Begitulah Trisha. Sejak dulu hingga sekarang.
"Zeeko... Aku menyukaimu... Aku mencintaimu..."
Trisha memejamkan matanya hingga dirinya terlelap ke alam mimpi.
#
#
#
Pukul tujuh malam, Zeeko kembali ke rumah. Suasana tampak sepi tanpa adanya Trisha yang biasanya menonton televisi di ruang keluarga.
"Dimana Trisha?" Tanya Zeeko pada Esme.
"Tadi saya lihat Nyonya Trisha masuk ke ruang gym, Tuan. Dan sepertinya belum keluar hingga sekarang."
"Baiklah, terima kasih. Tolong siapkan makan malam untuk kami!"
Esme menunduk hormat. "Baik, Tuan."
Zeeko melangkahkan kakinya menuju ke ruang gym. Saat membuka pintu, Zeeko melihat tubuh Trisha terlentang di kasur matras dan terpejam.
"Astaga! Apa yang dia lakukan disini?"
Zeeko menyentuh lengan Trisha dengan kakinya.
"Trish! Bangun! Ini sudah malam!"
Trisha sama sekali tidak terusik. "Trish! Kau tidur seperti mayat! Hei!"
Zeeko menggoyang tubuh Trisha. Pria itu bingung harus bagaimana membangunkan Trisha. Hingga akhirnya Zeeko menggendong tubuh Trisha dan membawanya keluar dari ruang gym.
#
#
__ADS_1
#
Trisha terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap sejenak dan memperhatikan sekelilingnya.
"Dimana aku?"
Trisha baru sadar jika dirinya ada di kamarnya sendiri.
"Siapa yang membawaku ke kamar? Apakah Zeeko? Baik sekali dia!"
Trisha memilih untuk membersihkan diri sebelum menemui Zeeko. Tubuhnya terasa lengket usai meluapkan emosinya pada samsak yang tak bersalah itu.
Lima bekas menit kemudian, Trisha sudah siap dengan dress rumahan dan akan menemui Zeeko. Ia akan berterimakasih pada pria itu, sekaligus menjalankan misi yang sejak tadi memenuhi otaknya.
Trish menuju ke kamar Zeeko. Karena tidak dikunci, maka Trisha dengan berani langsung membuka pintu kamar Zeeko.
Betapa terkejutnya Trisha ketika melihat Zeeko yang baru selesai mandi dan hanya berbalut handuk di pinggangnya. Namun bukan Trisha namanya jika harus heboh menghadapi hal semacam ini.
Trisha tampak tenang dan malah Zeeko yang heboh.
"Kau! Kenapa masuk kamar orang tanpa mengetuk pintu lebih dulu? Dasar tidak sopan!" Kesal Zeeko.
"Astaga! Ini kamar suamiku sendiri. Untuk apa aku harus bersikap sopan? Harusnya kamar ini juga menjadi milikku!"
Trisha melangkah maju mendekati Zeeko. Membuat pria itu malah berjalan mundur.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Zeeko yang pemain wanita malah takut ketika istri bar-barnya malah mendekatinya.
Trisha menyeringai menatap Zeeko yang kini malah terjerembab ke atas tempat tidur.
"Jangan gila, Trish! Kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan!" Zeeko melangkah mundur namun Trisha malah terus mendekat hingga tubuh Trisha kini menindih tubuh Zeeko.
"Ayo, Zee! Tunjukkan padaku seberapa kuatnya dirimu! Jangan hanya para jálàngmu saja yang menikmati tubuhmu. Aku ini istrimu, jadi aku lebih berhak dari pada mereka!"
Zeeko tak mampu lagi menolak ketika bibir Trisha membungkam bibirnya. Sentuhan Trisha begitu lembut. Zeeko terbuai dengan rangsangan yang dimulai Trisha.
Zeeko membalikkan posisi. Kini Trisha berada dalam kungkungannya.
"Sudah kubilang jangan membangunkan singa yang tertidur, Trish. Kau akan menyesal nanti!"
Trisha tersenyum seringai. "Aku sudah siap, Zee. Aku ini milikmu, dan kau berhak melakukan apapun padaku..."
Keberanian Trisha membuat Zeeko tertantang. Meski sebenarnya Zeeko bisa melihat ada kecemasan di wajah Trisha. Terlebih saat Zeeko menghempas handuk yang melilit pinggangnya.
Terpampang sudah pusaka berharga milik Zeeko yang membuat wanita berteriak kesenangan.
"Astaga! Ternyata sebesar itu! Bagaimana ini? Apa muat masuk ke lúbangku yang sempit ini?" Batin Trisha mulai diliputi kegelisahan.
"Zee, oke! Kita bisa bicarakan ini dulu. Kita..."
Trisha tak lagi bisa melanjutkan kalimatnya karena Zeeko mulai menjelajahi tubuh Trisha. Zeeko menyingkap dress Trisha hingga naik ke atas dada dan akhirnya terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
"Oh, Zeeko!" Jerit Trisha ketika bibir Zeeko menyentuh aset miliknya yang berharga.
"No, Zee! Aku belum siap!" Pekik Trisha.
Zeeko yang sudah dikuasai birãhi tak bisa menghentikan kegiatan ini. Apalagi dirinya sudah berpuasa hampir tiga bulan lamanya.
"Ck, Trish! Sudah terlambat untuk membatalkannya. Sekarang nikmati saja!"
Zeeko melepas benda segitiga itu dari tubuh Trisha. Kepalanya ia benamkan diantara sela pangkal paha Trisha.
"Tidak, Zee!"
Trisha mencengkram erat seprei yang akan menjadi saksi menyatunya dua insan dalam kabut kenikmatan dunia.
#
#
#
Acara makan malam yang sudah terhidang rapi di atas meja nyatanya harus kembali dingin karena dua insan di dalam kamar sedang saling menghangatkan diri. Esme hanya tersenyum ketika melihat Trisha memasuki kamar Zeeko dan belum kembali hingga saat ini.
"Syukurlah jika mereka baik-baik saja. Sebaiknya aku rapikan saja meja makan ini. Mungkin mereka tidak akan keluar hingga esok hari.
Dan benar saja, apa yang dikatakan Esme jadi kenyataan. Trisha sama sekali tak keluar dari kamar Zeeko karena pria itu menggempurnya semalaman.
Trisha baru terbangun ketika merasakan silau cahaya matahari yang memasuki kamar milik Zeeko.
"Argh! Jam berapa ini?"
Trisha merasakan tubuhnya seakan remuk usai bermain dengan Zeeko semalaman. Apa yang dikatakan Mellanie memang benar. Zeeko tak mudah kalah di atas ranjang. Zeeko selalu mendominasi dan membuat lawan kalah terlebih dulu.
Namun dibalik itu semua, Trisha merasa bahagia karena sudah menyerahkan hal yang dijaganya selama ini pada sang suami.
"Zee, bangun! Apa kau tidak ingin berangkat kerja?"
Trisha mendengar getaran ponsel Zeeko yang terus menggema.
"Hmm, aku mengantuk. Aku ingin tidur!" Gumam Zeeko.
Trisha memutar bola mata malas. Ia harus segera bangun karena ia ada kelas mengajar hari ini.
"Aduh! Kenapa perih sekali? Zeeko, kau membuatku tak bisa berjalan!"
"Sudah kukatakan kau jangan memancingku! Tapi kau tidak percaya. Sekarang rasakan akibatnya!" Zeeko masih bergumam dengan mata terpejam. Seringai licik terlihat di bibirnya.
Sementara itu, Max yang khawatir dengan kondisi Zeeko, malah mendatangi rumah Zeeko dan bertemu Esme.
"Kau jangan khawatir. Tuan Zeeko baik-baik saja. Dia masih ada di kamar bersama Nyonya Trisha. Sepertinya Tuan Zeeko hari ini tidak akan pergi ke kantor."
Ucapan Esme membuat Max tercengang. "Benarkah? Tuan Zeeko bersama Nona Trisha? Wah ini sungguh pencapaian yang luar biasa!"
__ADS_1