
Suasana menjadi canggung setelah Leon mengutarakan persetujuan untuk menjadi ayah dari bayi Trisha. Sebenarnya saat itu Trisha hanya merasa tertekan karena sikap Zeeko yang tak kunjung berubah padanya.
Namun ternyata Leon menanggapi hal itu dengan serius. Kini Trisha yang harus menghadapi Leon yang sangat perhatian padanya.
"Ini, aku belikan persediaan makanan untukmu dan bayimu."
Lamunan Trisha buyar ketika mendengar suara Leon. Ternyata sedari tadi Leon berbelanja usai mengantarnya periksa kandungan. Leon berpamitan pergi sebentar.
"Kenapa membeli banyak barang, Leon?"
"Hehehe, aku bingung harus membeli apa saja. Pelayan di minimarket bilang jika semua makanan ini baik untuk ibu hamil. Kau bisa menyimpannya di lemari pendingin jika belum mau memakannya."
Trisha tersenyum. "Terima kasih banyak, Leon."
"Jangan sungkan! Bukankah aku adalah ayah dari bayimu?"
"Eh? Leon! Maaf jika kemarin aku salah bicara. Kau jadi salah mengartikan."
Leon terdiam. Sebenarnya ia juga tahu Trisha hanya asal bicara saja. Anak yang dikandungnya tetaplah anak Zeeko apapun yang terjadi. Leon tidak bisa mengubah fakta itu.
"Sekarang duduklah! Aku akan masak makan malam untukmu. Oke?!"
Dengan sigap Leon membawa beberapa bahan makanan ke dapur lalu mengolahnya. Trisha tersenyum melihat Leon yang terampil memasak.
#
#
#
Max bergegas mendatangi Zeeko ketika mendapatkan kabar tentang Trisha.
"Tuan! Kabarnya Tuan Leon menggunakan pesawat pribadinya untuk terbang ke Belanda."
Kalimat Max tentu saja membuat Zeeko bersemangat.
"Lalu? Apa kau menemukan sesuatu?"
Max menunduk. "Maaf, Tuan. Aku tidak bisa melacak keberadaan Tuan Leon di Belanda."
Zeeko menyeringai. "Sudah kuduga! Leon adalah orang yang menyembunyikan Trisha. Jadi, Trisha ada di Belanda?"
Max ragu untuk menjawab. "Itu... Itu saya juga belum tahu, Tuan."
"Argh! Kau ini! Kau mau mempermainkan aku, hah?!" kesalnya pada Max.
"Maaf, Tuan. Saya akan menyelidiki lebih lanjut mengenai Tuan Leon dan bisnisnya."
"Hmm, bagus! Sekarang kau boleh pergi! Kau hanya membuatku bertambah pusing saja!" usir Zeeko.
Zeeko memilih mendatangai klub malam milik Linda untuk melepas penat. Zeeko memesan beberapa wine terbaik disana.
"Aaah, segarnya!" gumam Zeeko saat menikmati tegukan demi tegukan yang turun ke tenggorokannya.
__ADS_1
"Zee, kau disini? Kenapa minum disini? Kau punya tempat khusus disini, kenapa harus bergabung dengan banyak orang begini?" Linda menyapa Zeeko yang sedang duduk di meja bartender.
"No, Lind. Aku sedang suka keramaian. Rasanya aku tidak sendiri saat ini."
"Zee, kau memang tidak sendiri. Ada aku dan juga keluargamu yang mendukungmu. Ayo kita bicara di ruangmu saja!" Linda menarik lengan Zeeko, tapi pria itu menolaknya.
"Tidak, Lind. Aku ingin disini saja!"
Linda menghela napas. Ia membiarkan Zeeko melakukan hal sesuka hatinya. Zeeko adalah pria yang keras kepala, tentunya Linda sangat tahu akan hal itu.
Sementara itu di kediaman keluarga Johanson, Ariana datang kesana karena ingin menanyakan kabar Trisha. Tapi yang ia dapatkan adalah hal yang mencengangkan dari Anthony.
"Bagaimana bisa kau membiarkan putrimu pergi, Anthony? Dia sudah menikah kenapa malah meninggalkan Zeeko?"
Anthony hanya tersenyum sinis melihat kegundahan Ariana.
"Apa kau belum sadar juga, siapa yang sudah membuatnya begini?" sarkas Anthony.
"Apa maksudmu?"
"Dia menirumu! Entah sekarang ada dimana anak itu. Dia malah meminta tolong pada pria lain! Bukankah itu terdengar sepertimu?"
"Apa katamu?!" Ariana mengepalkan tangannya. Ia tak terima putrinya dituduh yang bukan-bukan. Meski dulu ia melakukan kesalahan, tapi ia tak ingin ada yang menghina Trisha seperti dirinya.
"Sebagai ayah, harusnya kau bisa membela putrimu dan mencari keberadaannya. Masalah rumah tangga Trisha dan Zeeko, mungkin hanya mereka berdua saja yang tahu. Tapi melihat sepak terjang Zeeko, sudah bisa ditebak jika apa yang dilakukan Trisha ada sangkut pautnya dengan Zeeko. Istri mana yang tahan dengan kelakuan suaminya yang suka bermain wanita?"
"Cukup! Zeeko tidak seperti itu! Dia sudah berubah sejak menikah!" Anthony membela menantunya.
Ariana berjalan pergi meninggalkan Anthony yang masih mematung seorang diri. Kini ia merasa apa yang dikatakannya menjadi senjata makan tuan untuk dirinya sendiri.
#
#
#
Berita perginya Trisha terdengar juga di telinga Mercy. Dengan semangat membara Mercy mengikuti perkembangan rumah tangga Zeeko dan Trisha.
"Mungkin malam ini adalah malam keberuntunganku, Zee." Mercy tersenyum seringai ketika salah satu oranv suruhannya memberitahu jika Zeeko sedang ada di klub malam milik Linda.
Mercy berjalan mendekati Zeeko yang sedang duduk sambil menenggak minumannya.
"Ck, Zee. Kau hanya minum sendiri?" Mercy merebut gelas kecil yang akan diminum Zeeko lalu meminumnya sendiri.
"Hei, kau! Berani sekali mengambil gelasku!" Zeeko merebut kembali gelasnya.
"Easy, Zee. Dulu kita juga sering melakukannya kan?"
Zeeko tidak menggubris kehadiran Mercy. Zeeko masih asyik dengan dunia minumnya sendiri.
Mercy tak kehabisan ide. Mercy meminta minuman yang sama dengan yang diminum Zeeko.
"Kau tenang saja, Zee! Aku akan menemanimu minum malam ini. Bersulang!" Mercy mengangkat gelasnya dan meminta Zeeko agar menempelkan gelasnya juga.
__ADS_1
Dengan malas Zeeko menuruti keinginan Mercy. Meski sebenarnya kesal dengan mantan kekasihnya itu, tapi Zeeko tak punya pilihan lain. Zeeko butuh seseorang untuk menemaninya minum malam ini.
Dan ketika malam semakin larut, Zeeko mulai tak sadarkan diri. Mercy tersenyum seringai.
"Zee, ayo kita pulang! Aku akan mengantarmu." Mercy mengusap lembut lengan kokoh Zeeko.
"Tidak! Aku tidak mau pulang!"
"Ayolah, Zee. Kau sudah mabuk. Kau butuh istirahat!"
Tanpa mau peduli ocehan Zeeko, Mercy meminta dua orang suruhannya untuk membawa tubuh Zeeko keluar dari klub malam itu.
"Masukkan dia jok belakang!" titah Mercy.
Tubuh Zeeko yang sudah limbung hanya bisa pasrah ketika mobil yang dikendarai Mercy mulai melaju.
"Kau mau membawaku kemana?" gumam Zeeko lirih tapi masih bisa didengar Mercy.
Mercy tersenyum penuh kemenangan. "Kita habiskan malam ini dengan bersenang-senang, Zee!"
#
#
#
PRANG!
"Trish! Kau tidak apa-apa?"
Trisha terbangun di tengah malam karena merasakan tenggorokannya kering. Ia menuju ke dapur dan mengambil satu gelas air. Namun nahas, gelas ditangannya tergelincir dan jatuh ke lantai hingga menimbulkan bunyi.
Leon yang masih terjaga segera menghampiri Trisha.
"Trish!" Leon menyadarkan Trisha yang masih melamun.
"Pelan-pelan! Kau bisa terkena pecahan kacanya nanti."
Leon memapah tubuh Trisha agar tidak terkena pecahan kaca gelas.
"Terima kasih, Leon. Maaf ya aku membangunkanmu."
"Tidak, aku masih belum tidur. Aku masih mengurus beberapa pekerjaan."
Trisha menatap Leon penuh tanya. "Jika kau punya banyak pekerjaan, kenapa kau harus sampai datang kemari?"
"Tidak! Bukan pekerjaan besar. Sekarang kau duduk saja dulu. Aku akan ambilkan minum dan bersihkan pecahan gelasnya."
"Tapi, Leon..."
Leon tidak mendengarkan dan tetap melakukan apa yang dikatakannya. Trisha memegangi dadanya. Hatinya mulai mempertanyakan pertanda gelas pecah tadi.
"Perasaan apa ini? Kenapa rasanya aku tidak tenang malam ini? Apa terjadi sesuatu dengan Zeeko?"
__ADS_1