
Setelah menyantap sarapan yang di siapkan Zeeko, Trisha membersihkan diri dan berangkat ke sekolah. Tiba disana, Kepala Sekolah memanggil Trisha karena sudah bolos kerja tanpa ada keterangan apapun.
Trisha mendapat surat teguran pertama dari kepala sekolah.
"Tolong jangan diulangi ya, Miss Trisha. Anak-anak sangat menyukai jam pelajaran Anda. Jadi, tolong lebih profesional dalam bekerja."
Trisha mengangguk. "Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf."
Akhirnya hari ini Trisha menjalani harinya dengan cukup santai. Trisha banyak bercanda dengan murid-muridnya. Trisha sangat menyukai pekerjaan ini. Karena menurutnya, ini bisa mengurangi tingkat stress yang kadang melandanya. Apalagi jika mengingat hubungannya dengan Zeeko yang masih jalan ditempat.
Pukul empat sore, Trisha keluar dari ruang kelas dan akan menuju pulang ke rumah. Trisha bukanlah tipe orang yang suka duduk berjam-jam di dalam cafe dan mengobrol. Ia lebih memilih melatih skillnya di sebuh gym.
Namun karena sekarang fasilitas gym ada di rumahnya, Trisha lebih baik pulang ke rumah dan nge-gym.
Baru saja Trisha akan memasuki mobilnya, ponselnya berdering. Panggilan dari rumah.
"Iya, Esme. Ada apa?"
"Nona, maaf jika saya mengganggu. Begini Nona, Nyonya Emilia datang berkunjung ke rumah."
"HAH?! Mommy Emilia datang?"
Sekejap mata Trisha langsung panik. Ia meminta Esme untuk memindahkan barang-barang Trisha ke kamar Zeeko. Tapi Esme bilang, sudah terlambat. Esme sudah mencari alasan lain mengenai hal itu.
Dengan terburu-buru Trisha kembali ke rumah. Bersamaan dengan itu, ternyata Zeeko juga baru tiba disana.
"Kau?! Apa kau mendapat telepon dari Esme juga?" tanya Trisha.
Zeeko mengangguk. Mereka berdua masuk bersama ke dalam rumah.
"Nah ini dia yang ditunggu! Kalian datang bersama? Ouch, kalian sungguh menggemaskan!" Emilia menyapa putra dan menantunya itu.
Emilia memeluk Trisha dan mencium kedua pipi menantunya itu.
"Maaf, aku tidak tahu Mommy akan datang," ucap Trisha dengan suara lembutnya.
Zeeko memutar bola mata malas. Trisha dan dirinya memanglah sama. Pandai berakting untuk mengambil hati Emilia.
"Mom, kenapa tidak bilang kalau mau datang? Aku kan bisa menjemputmu!" Zeeko merangkul bahu ibunya dan membawanya duduk di sofa ruang keluarga.
"Ah, tidak tidak! Aku tidak mau merepotkan kalian. Lagi pula aku senang memberi kejutan seperti ini!" Emilia melirik pasangan suami istri itu dengan penuh selidik.
Trisha hanya tersenyum dan memilih diam.
"Kalian mandi saja dulu! Mommy sudah siapkan makan malam untuk kalian berdua!"
Zeeko dan Trisha saling pandang. Jika mereka pergi ke kamar, maka Emilia langsung tahu jika mereka pergi ke kamar yang berbeda.
__ADS_1
"Kenapa? Kalian pikir mommy tidak tahu, kalau kalian pisah kamar?" Emilia menyilangkan tangannya.
"Mom, dengarkan aku dulu!" Zeeko berusaha merayu Emilia.
"Hentikan! Esme sudah menceritakan semua padaku. Dan ya... Aku cukup senang dengan keputusan kalian."
Zeeko dan Trisha saling pandang. Mereka tak paham dengan maksud kalimat Emilia.
"Ternyata kalian nakal juga ya! Kalian memiliki sensasi hubungan yang tak biasa." Emilia membisikkan sesuatu ke telinga Zeeko.
Zeeko tersenyum kikuk setelahnya.
"Sialan! Sebenarnya apa yang dikatakan Esme pada Mommy?" batin Zeeko bertanya.
"Sudah, sekarang kalian bersihkan saja dulu tubuh kalian. Trish, kau pasti lelah setelah mengajar seharian. Ini, mommy bawakan aromaterapi yang bisa kau gunakan saat mandi. Ini punya banyak khasiat. Terutama untuk para wanita."
Trisha menerima sebuah paperbag dari Emilia.
"Thanks, Mom."
#
#
#
Acara makan malam pun berlangsung. Trisha dan Zeeko makan malam bersama dengan Emilia.
"Mommy punya satu permintaan pada kalian." Emilia menatap Zeeko dan Trisha bergantian.
"Apa itu, Mom?"
"Mommy ingin kalian selalu baik-baik saja. Jika ada masalah, maka selesaikan secara baik-baik. Menikah itu mudah, tapi mempertahankannya yang sulit."
Trisha hanya diam dan mendengarkan.
"Dan kau, Zee! Kau ini sudah menikah, jadi Mommy mohon tinggalkan kebiasaan lamamu. Bangunlah rumah tangga yang sehat dengan Trisha, Zee."
"Mom! Aku tidak seperti yang Mommy bilang! Aku dan Trisha baik-baik saja. Iya kan, sayang?"
Zeeko memberi kode pada Trisha agar menjawab seperti yang ia inginkan.
"Iya, Mom. Jangan khawatir! Mommy tahu kan siapa aku? Aku akan patahkan kakinya jika dia macam-macam!"
Zeeko mendengus kesal. Kenapa juga Trisha harus menjawab dengan nada begitu menyebalkan?
Emilia tertawa renyah mendengar jawaban Trisha. Emilia memang mempercayakan Zeeko pada Trisha agar anaknya itu mau berubah. Emilia percaya dengan kemampuan Trisha.
__ADS_1
"Dan... Milikilah seorang anak, Zee. Kalian akan lebih bahagia jika ada anak di pernikahan kalian."
Trisha menelan ludahnya. Permintaan Emilia bukanlah hal yang sulit. Karena Trisha memang sudah melakukannya dengan Zeeko.
Zeeko menelisik ekspresi Trisha yang malah diam dan tertunduk.
"Bukankah kami sudah melakukannya dua kali, kenapa belum ada tanda-tanda jika usahaku berhasil? Benihku itu benih premium, pasti berhasil mencetak anak yang genius." Zeeko membatin dengan penuh percaya diri.
Setelah berbincang cukup lama, Emilia akhirnya pamit pulang.
"Kalian yakin hubungan kalian baik-baik saja?" Emilia masih curiga jika terjadi sesuatu dengan mereka.
"Hahaha, Mom! Kau meragukan kami? Lihatlah, kami baik-baik saja!"
Dengan cepat Zeeko meraih pinggang Trisha. Tak lupa ia menarik tengkuk Trisha mendekat lalu mencium Trisha dengan mesra.
Apa yang dilakukan Zeeko membuat Trisha terkejut. Tangannya mencubit pinggang Zeeko agar melepaskan dirinya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Zeeko makin dalam mencium Trisha hingga gadis itu kesulitan bernapas.
"Aih, kalian ini! Lanjutkan saja di kamar sana!" Emilia tersipu malu melihat sikap putranya dan memilih pergi.
Setelah Emilia pergi, barulah Zeeko melepaskan tautan bibirnya.
"Kau!" Trisha murka.
Zeeko mengusap pinggangnya yang dicubit Trisha cukup keras.
"Apa! Kau sendiri mencubitku dengan sangat keras! Pasti berbekas ini!" Zeeko memeriksa kulit tubuhnya yang memerah.
"Kau harus tanggung jawab, hah!" protes Zeeko.
"Kau sendiri menciumku tanpa izin! Dasar mesum!"
"Hei, kau! Aku mencium istriku, apa yang salah dengan itu?"
"Hah! Dasar maniak! Kau mencari kesempatan dalam kesempitan!"
"Wah, kau juga! Kau keterlaluan karena mencubit pinggangku. Kau pikir tidak sakit?"
Dan pertengkaran diantara mereka tak bisa dielakkan lagi. Zeeko yang terlanjur tersulut emosi malah menggendong Trisha bak karung beras menuju kamarnya.
"Zeeko! Turunkan aku!"
"Tidak! Kau harus dihukum!"
"Brengsek! Lepaskan!"
"Semakin kau mengumpatku maka hukumanmu akan lebih berat!"
__ADS_1
"ARGH! Dasar Zeeko gila! Tidak waras! Hyper! Maniak! Duda gila! Casanova tidak waras!" Trisha terus memukuli tubuh Zeeko. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya pukulan Trisha tak mempan di tubuh Zeeko.
Dan banyak lagi umpatan yang diucapkan Trisha hingga akhirnya mereka berakhir di ranjang dan berbagi peluh bersama.