
Trisha menatap Zeeko lekat. Ia ingin tahu seperti apa perasaan Zeeko yang sebenarnya terhadap dirinya.
"Jawab saja! Aku cinta yang ke berapa untukmu?"
Tatapan mata teduh Trisha berhadapan dengan mata elang milik Zeeko. Keduanya sedang saling menyelami satu sama lain.
Akhir-akhir ini cukup banyak hal yang terjadi pada mereka. Pernikahan yang baru seumur jagung itu banyak menerima cobaan. Ditambah sekarang orang dari masa lalu turut hadir mewarnai kisah mereka.
"Cinta terakhir."
Jawaban Zeeko membuat Trisha tak percaya.
"Tidak mungkin! Cinta terakhir? Kau yakin aku adalah cinta terakhirmu? Tidak akan ada wanita lain dalam hidupmu setelah aku?"
Trisha masih terus mendesak Zeeko agar mengatakan yang sebenarnya.
"Aku yakin! Kau adalah cinta terakhirku."
"Omong kosong! Memangnya kau mencintaiku?"
"Iya, aku mencintaimu."
"Sejak kapan?"
Zeeko berdecak sebal. Trisha terus saja mendesak dan Zeeko makin terdesak.
"Katakan sejak kapan?"
"Kau perlu bukti?"
Trisha berpikir sejenak. "Boleh!"
"Sejak kita menikah aku tidak pernah bermain dengan wanita manapun. Kau tanyakan saja pada Max. Dia selalu ikut denganku kemanapun aku pergi."
Trisha menyilangkan tangannya. "Max bekerja padamu, jadi wajar jika dia membelamu!" sengak Trisha.
Zeeko melepas jas yang melekat pada tubuhnya. Lalu melepas dasi dan dua kancing atas kemejanya. Lengan kemejanya juga ia gulung hingga ke siku.
"Kau mau apa?" tanya Trisha.
Zeeko menyeringai. "Memberimu bukti!"
Zeeko langsung mendorong tubuh Trisha hingga terjerembab keatas ranjang. Tanpa basa basi Zeeko menautkan bibirnya dengan bibir Trisha.
Entahlah. Mendengar Trisha terlalu banyak bicara membuat gairahnya meningkat.
"Aku suka wangimu, Trish."
"Ck, omong kosong apa lagi ini?"
"Argh! Kau sungguh menjengkelkan, Trish!"
Zeeko menyerang Trisha makin brutal. Ia membuat banyak tanda di sekitar leher Trisha. Dengan kasar ia juga tega merobek pakaian Trisha.
__ADS_1
"Hei, pelan-pelan!" pekik Trisha. Ia juga menikmati apa yang dilakukan Zeeko.
"Kau selalu memancingku, Trish. Sungguh kau membuatku gila!"
Semua racauan Zeeko bercampur dengan desah kenikmatan dari bibir Trisha. Sungguh malam ini mereka menggila bersama.
Jika kemarin kamar Zeeko yang menjadi saksi. Maka kali ini giliran kamar Trisha yang menjadi saksi bersatunya dua insan menuju gairah puncak dunia.
#
#
#
Pagi harinya, Trisha terbangun sendirian di atas ranjang. Tak ada tanda-tanda Zeeko yang semalam menghabiskan malam dengannya.
"Astaga, kami mengulanginya lagi. Dan semalam dia lebih gila dari sebelumnya. Sepertinya dia memang hyper."
Trisha memperhatikan sekeliling. Zeeko benar-benar sudah pergi. Bahkan pakaian yang semalam tercecer di lantai kini sudah tidak ada.
"Kemana dia?" gumam Trisha sambil bangkit dari ranjang.
"Dasar sialan! Itu dress baruku dan dia merobeknya dengan asal! Dasar maniak!"
Dengan berjalan tertatih Trisha menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Meski kondisinya lebih parah dibanding yang pertama, tapi Trisha berusaha kuat untuk tetap mengajar kelas hari ini.
Dua puluh menit Trisha berada di kamar mandi. Kini ia sedang memperhatikan penampilan dirinya di depan cermin.
"Zeeko sialan! Kenapa memberi tanda di tempat terbuka begini sih? Bagaimana jika murid-muridku melihatnya?"
Trisha ingat semalam Zeeko bicara jika Trisha hanyalah miliknya. Trisha tersenyum miring saat mengingatnya.
"Entah itu benar atau tidak. Tapi yang jelas aku mulai masuk ke dalam hati Zeeko."
TING
Sebuah dering pesan masuk mengejutkan Trisha.
"Itu kan ponsel Zeeko. Apa ketinggalan?"
Sebenarnya Trisha tidak ingin tahu siapa yang menghubungi Zeeko dan untuk apa. Namun tiba-tiba naluri seorang istri mengatakan jika bisa saja suaminya malah berkirim pesan dengan wanita lain.
Trisha dengan cepat meraih ponsel Zeeko. Sebuah pesan yang membuat Trisha mendidih. Ternyata benar firasatnya sebagai seorang perempuan.
"Apa-apaan ini? Wanita ulat itu tidak akan menyerah untuk mendapatkan Zeeko. Dasar wanita berkepala ular!"
Ternyata pesan yang masuk adalah pesan dari Mercy, kakak tiri Trisha sendiri. Mercy meminta Zeeko untum datang ke sebuah klub malam.
"Dasar jàlang! Ini masih pagi dan dia ingin menjebak Zeeko? Dia pikir aku tidak tahu akal bulusnya? Kita lihat saja nanti!"
Trisha keluar dari kamar dengan membawa ponsel Zeeko yang ia masukkan ke dalam paperbag. Trisha keluar dari rumah dengan terburu-buru. Hari ini ia sama sekali tidak mood untuk mengajar. Ia akan izin hari ini.
"Zeeko kemana?" tanya Trisha pada Esme.
__ADS_1
"Tuan Zeeko sudah pergi pagi-pagi sekali, Nona."
Trisha manggut-manggut. Ia meraih kunci mobil lalu bergegas pergi.
Trisha tiba di sebuah gedung perkantoran. Ya, Trisha mendatangi kantor Zeeko dengan sengaja.
Langkah kakinya melebar dengan menghentak karena sedang kesal.
"Cinta terakhir? Mudah sekali dia mengobral cinta dan janji. Makan saja itu cinta!"
Tiba di ruangan Zeeko, Trisha bertemu dengan Sarah. Trisha sempat memperhatikan penampilan Sarah dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Trisha tersenyum menyeringai. "Bagus! Kau ternyata sangat penurut. Pertahankan semua ini. Ya?" Trisha menepuk bahu Sarah.
Sarah dengan takut-takut hanya bisa mengangguk.
"Dimana Zeeko?" tanya Trisha. Karena untuk itu Trisha datang kesana.
"Tuan Zeeko tidak ada di tempat, Nona."
Trisha paham. "Tidak masalah. Tolong berikan ini padanya saat dia kembali!" Trisha menyerahkan paperbag untuk Zeeko.
Setelah menyerahkan benda itu, Trisha kembali melangkah keluar dari gedung.
"Perempuan gatal, kini giliranmu! Aku akan memberimu pelajaran," ujar Trisha dengan senyum misterius nya
#
#
#
Zeeko kembali ke kantor dengan wajah muram dan langsung merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu. Max yang mengikuti langkah Zeeko, dihentikan oleh Sarah.
"Max, berikan ini untuk Tuan Zeeko!" Sarah menyerahkan paperbag pada Max.
"Apa ini?"
"Nona Trisha datang dan memberikan ini. Dia bilang itu untuk Tuan Zeeko."
Max memeriksa isi paperbag itu. Sebuah ponsel. Max mengerutkan kening. Ia langsung paham apa yang sedang terjadi.
Max menemui Zeeko yang sedang terpejam di kursi kebesarannya. Terjadi masalah dengan bisnisnya di Italia. Dan Zeeko sedang memikirkan cara untuk menyelesaikannya.
"Tuan... Maaf mengganggu. Ini... Ada titipan untuk Tuan. Nona Trisha tadi datang kemari." Max berucap dengan hati-hati karena tak ingin Zeeko marah.
"Trisha? Datang kemari?" Zeeko langsung membuka mata dan melihat apa yang Max bawa.
Dengan tak sabar Zeeko membuka paperbag itu dan melihat ponselnya disana.
"Ah, aku lupa membawa ponselku."
Begitu ia mengaktifkan ponsel, tampilan di layar membuatnya terbelalak.
__ADS_1
"Trisha! Kita harus segera pergi, Max. Sepertinya gadis itu membuat ulah lagi!"
Zeeko segera beranjak dari kursinya dan keluar dengan terburu. Yang Zeeko lihat tadi adalah tampilan pesan dari Mercy yang sudah terbaca. Pastinya sudah dibaca oleh Trisha.