
Trisha tertegun melihat kedatangan Zeeko dengan kilatan mata tajam yang menatapnya. Rasanya saat itu juga nyali Trisha menciut.
"Jawab Trisha!" Nada suara Zeeko penuh penekanan dan menuntut.
"Zee... Aku bisa jelaskan semuanya!" Trisha mencoba menenangkan Zeeko yang akan marah padanya.
"Baiklah! Kita bicara di rumah saja. Ikut denganku!" Zeeko langsung menarik lengan Trisha agar mengikuti langkahnya.
Kali ini Trisha tak bisa menolak. Karena dirinya memang salah. Tidak memberitahukan cerita yang sebenarnya pada Zeeko.
Selama perjalanan kembali ke rumah, tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Trisha merasa aura yang dibawa Zeeko sangatlah berbeda.
"Kuharap dia mau mendengarkanku sebelum menghakimiku!" batin Trisha.
Jarak tempuh yang sebenarnya tidak terlalu jauh, terasa menjadi lambat karena suasana sunyi yang dibawa oleh keduanya. Bahkan si supir tidak berani melirik ke belakang dimana terdapat kedua bosnya.
Tiba di rumah, Zeeko turun lebih dulu dari dalam mobil diikuti Trisha. Zeeko melangkah menuju ruang kerjanya.
"Ikut aku ke ruang kerja!"
Trisha mengangguk. Mungkin Zeeko tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. Karena disana tempatnya cukup private dan kedap suara.
"Sebelum kau bertanya lebih lanjut mengenai kunjunganku ke makam kak Ellea, ada baiknya aku juga bertanya padamu. Bagaimana kau bisa tahu jika aku ada disana? Maksudku makam kak Ellea. Apa kau memata-mataiku, Zee? Kau masih tidak percaya padaku dan kau menyuruh anak buahmu untuk mengikutiku? Begitukah?"
__ADS_1
Tangan Trisha menyilang menandakan ia butuh jawaban jujur juga dari Zeeko.
"Itu benar! Aku meminta Lexi mengikutimu."
"Atas dasar apa kau melakukan ini, Zee? Itu artinya kau sudah mencuri privasiku! Aku memang istrimu, tapi bukan begini caranya kau menghargai istrimu! Kau bukannya peduli padaku, tapi kau sengaja memata-mataiku!" tuduh Trisha.
Zeeko mengusap wajahnya kasar.
"Baik, aku akui aku salah. Tapi kau juga harus menjelaskan padaku apa yang kau lakukan di makam Ellea? Apa kau mengenal Ellea?"
Kini suara Zeeko lebih lembut dari beberapa waktu yang lalu. Trisha senang karena Zeeko mau menurunkan egonya.
"Aku memang mengenal kak Ellea. Mungkin bisa disebut kami ini berteman. Kejadiannya setelah kau menikah dengannya." Trisha berkata jujur pada Zeeko.
"Lalu? Kenapa sejak awal kau tidak pernah cerita padaku?"
"Kau tidak bertanya!" Trisha menjawab dengan santai.
"Huft! Kau benar! Lalu, apa kau dekat dengan Ellea?"
Trisha mengedikkan bahu. "Lumayan! Kak Ellea adalah orang yang baik. Dia tahu jika aku menyukaimu. Tapi dia tidak marah. Dia malah memberi dukungan padaku."
Zeeko tak mengerti dengan arah pembicaraan ini.
__ADS_1
"Tunggu! Maksudnya Ellea setuju kau merebut suaminya?"
Trisha menggeleng. "Bukan begitu, Zee. Kak Ellea tidak menganggapku sebagai musuhnya. Dia malah menawarkan pertemanan denganku."
Zeeko duduk di kursi kerjanya. "Apa kau bertemu Ellea sebelum kecelakaan itu?"
Trisha merasa kata-kata Zeeko kurang enak didengar. Terasa menuduh dan mengintimidasi dirinya.
"Apa maksudmu bertanya begitu? Apa kau menuduhku?"
Zeeko mengerjapkan matanya. "Jadi kau merasa menjadi tertuduh?"
"Excuse me, Zee! Kau berkata seolah-olah menyalahkan aku atas apa yang terjadi dengan kak Ellea. Aku memang salah karena sudah merahasiakan kedekatan kami. Tapi aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai insiden kecelakaan itu."
Trisha berniat pergi dari ruang kerja Zeeko. Percuma saja bicara dengan orang yang sudah menuduhnya.
"Aku tidak menuduhmu, Trish. Aku hanya bertanya. Tapi... Jika kau merasa begitu, mungkin apa yang kupikirkan tentangmu itu benar. Kau terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Ellea. Kau sengaja menusuknya dari belakang karena obsesimu untuk memilikiku!"
Trisha berbalik badan dan menatap sinis Zeeko.
"Otak dan pikiranmu memang bermasalah, Zee. Persetan dengan semua tuduhanmu itu!"
Trisha keluar dari ruangan dan membanting pintu dengan keras.
__ADS_1
"Arrrrggghhh! Sialan! Ternyata selama ini aku tertipu!" Zeeko meninju udara dengan kesalnya.