Istri Kecil Mr.Arrogant

Istri Kecil Mr.Arrogant
Part 11


__ADS_3

Malam telah menyapa dan Araya masih merasa khawatir dengan keadaan Evan yang belum juga terlihat setelah tadi pagi penyakit nya kambuh. Araya berdiri di beranda kamar sembari melihat kebawah arah jendela kamar Evan yang sangat gelap.


Ya, Araya bisa melihat kamar Evan dari beranda kamar nya karena kamar Evan berada di bawah sedangkan kamar Araya berada di atas.


"Nona"


Araya yang masih menatap jendela kamar Evan pun terkaget saat lili datang tiba-tiba. "Ya ampun Lili kau membuat ku kaget saja" Araya terperanjat.


"Maaf Nona" Lili tersenyum melihat expresi Araya. "Apa yang anda fikirkan Nona" tanyak Lili pada Araya yang terlihat gusar.


"Bagaimana keadaan Tuan Muda? Apakah dia sudah sadar?" tanyak Araya.


"Tuan Muda belum sadar kan diri" jawab Lili dengan menunduk.


"Apakah Tuan Muda sering seperti ini?" tanyak Araya yang terlihat semakin khawatir.


"Saya kurang tahu Nona karena saya baru berkerja di mansion ini" jawab Lili seadanya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Araya kembali terperanjat saat mendengar suara ketukan dari luar, begitu pun dengan Lili yang juga ikut kaget. "Masuk" perintah Araya.


Setelah memberi izin, kini terlihat wanita paruh baya yang sedang berjalan sembari menenteng beberapa paper bag dan menghampiri Araya lalu sedikit membungkun saat berada di depan Araya.


"Nona, ini surat perjanjian pernikahan anda dengan Tuan Muda Evan" Bibi Gu menyerahkan sebuah map berwarna biru pada Araya.


Araya mengambil berkas itu lalu membaca nya dengan alis yang berkerut. "Perjanjian macam apa ini" Araya kurang setuju dengan isi kontrak nikah nya yang hanya menguntungkan bagi pihak pria saja.


Wlaupun di surat itu tertulis jika setelah bercerai dengan Tuan Muda Evan, maka Araya akan mendapat kan uang yang jumlah nya tidak sedikit bahkan mampu menghidupi tujuh generasi berikut nya.


Di surat itu juga tertulis jika selama pernikahan semua yang berhubungan dengan Tuan Muda Evan akan di ambil alih oleh Araya, seperti memberikan obat pada Evan setiap hari dan semua nya akan Araya lakukan mulai malam ini.


Setelah membaca isi kontrak nya Araya mengembalikan berkas itu pada bibi Gu dan diam membisu tanpa ingin menjawab pertanyaan dari bibi Gu.


"Nona anda baik-baik saja" tanyak Lili sembari memberikan segelas air pada Araya.

__ADS_1


"Perjanjian yang sangat aneh" jawab Araya lirih.


"Maaf Nona, mulai malam ini anda memiliki jadwal khusus untuk mengunjungi kamar Tuan Muda setiap hari nya lalu membantu Tuan Muda dalam beberapa hal" Bibi Gu menjeda ucapan nya.


"Mungkin Tuan Muda bukan suami yang sempurna untuk anda tapi biar bagaimana pun anda sebagai seorang istri harus menjalan kan kewajiban anda"


"Dan malam ini anda harus membantu Tuan Muda Evan untuk mebersihkan diri terlebih daluhu sebelum Tuan Muda Evan sadar" pinta Bibi Gu yang membuat Araya melotot.


"Saya tidak mau"


"Tapi di surat kontrak nya tertera jika mulai malam ini semua kebutuhan Tuan Muda akan di ambil alih oleh anda" Bibi Gu mengingatkan Araya.


"Saya tidak setuju" Araya menolak isi kontrak itu karena hanya menguntungkan pihak pria saja.


"Ini sudah keinginan Tuan Abraham dan siapa pun tidak ada yang boleh menentang nya karena anda tidak akan sanggup menerima konsekuensi nya jika Tuan Abraham turun tangan" Bibi Gu mencoba mengancam Araya.


Yah mau tidak mau Araya harus menuruti kemauan Tuan Abraham karena yang selama ini Araya tau jika Tuan Abraham adalah pria nomor satu dan tidak ada yang bisa menolak keinginan nya.


"Baiklah" jawab Araya pasrah.

__ADS_1


Seketika senyuman terukir di bibir mereka berdua tapi tidak dengan Araya yang merasa tertekan dengan pernikahan ini. "Mari ikut saya, Nona" Bibi Gu berjalan lebih dulu menuntun Araya menuju kamar Tuan Muda Evan.


__ADS_2