
Pagi ini langit tidak menampakan sinar mentari karena tertutup awan mendung setelah semalam hujan. Araya yang semalam terlelap dengan kedua kaki yang terbuka lebar di atas ranjang, bangun dalam keadaan sangat kusut dan rambut yang acak-acakan.
"Ehmm... Hoaaamm" Araya menguap membuka mata nya pelan-pelan lalu memutar badan nya ke sisi kiri dan meraba-raba ranjang yang dingin di sebelah nya.
Baru saja Araya ingin kembali terlelap di alam mimpi nya, mata nya tak sengaja menatap cermin yang memantul kan diri nya. "Oh ya ampun" dengan spontan seluruh puing-puing kesadaran Araya kembali dan dengan cepat Araya duduk dari posisi tidur nya.
Araya turun dari ranjang berjalan dengan tergesah gesah dengan susah payah menuju cermin. "Aakhh" keluh Araya saat merasakan perih di bagian intim nya namun tetap melangkah.
Mata Araya membola dengan sempurna. "Astaga.. Apa yang sudah aku lakukan" Araya menatap tubuh nya yang penuh dengan tanda merah di bagian leher karena ulah Evan semalam.
Sejenak Araya melupakan apa yang telah terjadi semalam, hingga beberapa detik kemudian ingatan Araya kembali soal semalam. "Aakhh memalukan sekali" Araya tersenyum genit.
Wajah Araya berubah bersemu merah seperti tomat saat mengingat kejadian semalam saat Evan mencium nya dengan buas dan dengan pasrah Araya memberikan tubuh nya begitu saja.
__ADS_1
Araya menatap tubuh nya di pantulan cermin yang hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh kecil nya yang tidak memakai pakaiaan. "Oh astaga.. Kenapa dia bisa melakukan itu pada gadis polos seperti ku" rasa nya sangat malu jika Araya mengingat kejadian semalam saat bersama Evan.
Araya tersenyum lebar dan sekali kali menutup wajah nya menggunakan selimut yang dia kenakan. "Huaaa!! Memalukan!" pekik Araya dengan suara tertahan.
Araya kembali menatap tubuh nya di pantulan cermin dan seketika senyuman nya hilang saat sadar penampilan nya sangat buruk. "Kenapa aku jelek sekali semalam" Araya menangkup kedua pipi nya dengan senyuman yang tiba-tiba luntur. "Dasar mr.arrogant mesum!!" pekik Araya kesal.
"Ada apa dengan mu?"
"Omegod.." Araya yang sibuk menggerutu tidak menyadari ke beradaan Evan yang sedari tadi menatap nya dengan wajah datar, entah apa yang di pikir kan oleh Evan saat melihat tingkah istri nakal nya pagi ini.
Namun beberapa detik kemudian Araya merasa lega saat sadar jika Evan tidak bisa melihat nya karena dia buta. "Huft untung saja dia tidak bisa melihat ku" Araya merasa lega dan menghampiri Evan yang masih diam sembari menatap Araya.
"Sejak kapan anda di sini" tanya Araya dengan tenang setelah sampai di samping Evan.
__ADS_1
"Sejak kau mengoceh tidak jelas"
Araya tersenyum lalu melambaikan tangan di hadapan Evan. "Dia beneran tidak bisa melihat kan?" gumam Araya namun Evan tidak memberi respon dan terus menatap tingkah Araya yang sangat konyol.
"Wlee.." Araya menjulur kan lidah nya di depan Evan dengan tangan yang berada di atas telinga sembari dia goyangkan dan dengan wajah yang di buat jelek-jelek.
"Apakah kau lupa meminum obat mu pagi ini?" tanyak Evan dengan tersenyum melihat tingkah lucu Araya dan tanpa sadar tangan Evan bergerak menoyor dahi Araya.
"Aaww" keluh Araya dengan mengelus dahi yang baru saja di toyor oleh Evan. "Anda bisa melihat ku?" alis Araya berkerut menatap Evan.
"Ya, aku bisa melihat wajah jelek mu ini" Evan tersenyum lalu menyubit pipi Araya dan beranjak meninggalkan Araya yang masih syok setengah mati.
Sangking kaget nya, Araya tiba-tiba cegukan. "Apakah aku mimpi" Araya memukul-mukul dada nya sendiri memastikan apakah dia bermimpi atau tidak. "Aaww, ternyata aku tidak bermimpi" entah saat ini perasaan Araya kacau dan bingung.
__ADS_1