
Samar samar Araya melihat Evan Abraham duduk tepat di samping nya. Evan menggunakan stelan jas yang begitu keren dan senada dengan gaun yang Araya kenakan.
Mata Araya membola lebar saat melihat dengan jelas wajah sang suami walaupun Evan menggunakan kacamata hitam namun Evan tetap terlihat gagah dan berkarisma.
Deg.. Deg.. Deg
Jantung Araya seakan ingin berhenti karena terus berdebar debar melihat ketampanan Evan.
Araya fikir di dunia ini hanya Varrel yang memiliki wajah tampan. Ternyata Araya salah besar, Evan bukan hanya tampan tapi Evan begitu sempurna walaupun memiliki kekurangan fisik.
Araya terus melirik Evan dari balik selendang yang Araya kenakan tanpa sadar Evan telah mengucap kan janji suci di depan penghulu.
Saat semua orang bergemuruh dan bertepuk tangan, Araya terhentak dan dengan cepat memalingkan wajah nya.
Setelah mengucapkan janji suci, Evan memasangkan cincin permata di jari manis Araya begitu pun sebalik nya, Araya juga memasangkan cincin untuk Evan walaupun tangan Araya sangat gemetar dan gugup.
Setelah prosesi bertukar cincin, Kini masuk ke prosesi di mana Evan akan mencium kening Araya.
Semua tamu, wartawan dan fotografer bersiap mengambil foto mereka dan semua orang pun bertepuk tangan.
Cup
Setelah mencium kening Araya, Evan segera berdiri dan dengan cepat para pengawal menghampiri Evan, begitu pun dengan Varrel yang menuntun Evan keluar dari altar pernikahan.
Acara resepsi pun di mulai, namun Araya hanya mengempal kan tangan saat Evan di bawa pergi, bagaimana bisa Araya berdiri sendiri di atas pelaminan tanpa seorang pasangan, membuat Araya terlihat begitu bodoh.
__ADS_1
Pernikahan ini bener bener membuat Araya muak dan berfikir akan kabur setelah prosesi nikah. Araya tidak lagi berfikir bagaimana kehidupan Araya selanjut nya yang jelas di pikiran Araya hanya bagaimana dia bisa kabur dari pernikahan konyol ini.
.
Sore..
.
Kini suasana mansion mulai sepi dengan tamu undangan, Araya di tuntun oleh pelayan pribadi Tuan Abraham untuk segera istirahat. Namun dengan cepat Asma menarik tangan Araya dan memeluk nya dengan tangis haru. begitu pun denga Araya yang menangis pilu di pelukan sang bibi
Dari kejauhan Aisya melihat Araya dan dengan cepat Aisya menghampiri kedua nya dan ikutan memeluk Araya dengan tangisan sendu nya.
"Mari, Nyonya" Ucap pelayan itu menuntun Araya meninggal kan Aisya dan Asma dengan tangis nya.
Araya hanya bisa menangis saat di bawa oleh pelayan menuju mobil mewah milik kelurga Abraham.
Di dalam mobil Araya terus memandang keluar jendela dengan menggigit jari telunjuk nya karena gugup. Mobil itu berjalan menjauhi pusat kota dan kini masuk ke dalam hutan membuat Araya bergelik ngeri dengan suasana baru.
Hati Araya merasa begitu takut melewati hutan itu. bahkan tidak ada kendaraan satu pun yang melewati jalan itu. benar benar seperti jalan berhantu.
Setelah melewati hutan yang begitu jauh ahkir nya mobil yang di tumpangi oleh Araya sampai di sebuah mansion mewah, lebih mewah di banding mansion milik Tuan Abraham yang berada di pusat kota.
Sejenak Araya terpukau melihat Mansion mewah yang mirip kastil seperti layak nya istanan Rapunsel. Dan di satu sisi Araya juga takut, jantung Araya berdetak begitu cepat karena rasa takut berada dalam hutan yang begitu mengerikan.
Araya masuk kedalam mansion dengan sambutan beberapa pelayan dan ngawal yang membungkukkan tubuh nya menyambut kedatangan Araya.
__ADS_1
"Selamat datang Nyonya Muda" Ucap pelayan dan pengawal secara bersamaan.
Araya yang tidak terbiasa pun merasa canggung dan kebingungan dengan keadaan nya sekarang.
"Apakah aku bener-benar Nyonya muda di mansion ini? Rasa nya seperti mimpi buruk saja" Batin Araya.
"Mari Nyonya Muda, aku akan mengantar anda ke dalam kamar" Ucap salah satu pelayan yang sudah berumur bernama bibi Gu.
"Yaa" Jawab Araya singkat dan pelayan itu pun mengantar Araya masuk kedalam kamar yang begitu mewah dan luas.
Awal nya Araya ragu ragu untuk masuk ke dalam, takut suami nya menunggu di dalam namun dengan terpaksa Araya masuk dengan lankah gontai.
Araya berjalan ke tepi ranjang dan melihat seisi kamar mewah itu, tapi Araya tidak melihat suami nya setelah keluar dari Altar pernikahan.
"Nyonya Muda, apakah anda menginginkan sesuatu?" Tanyak pelayan itu.
"Tidak" Jawab Araya cepat.
Bibi Gu seorang pelayan senior yang tampak berpengalaman tersenyum pada Araya.
"Nyonya, ini malam pertama anda bersama Tuan Muda. Tuan Muda Evan sangat tertutup anda tidak usah kesal jika Tuan Muda Evan berkata kasar karena itu memang sifat nya" Jelas bibi Ann sembari tersenyum.
Entah mengapa Araya yang sedari tadi sibuk melihat furniture kamar itu pun terhenti dan membayangkan malam pertama nya yang begitu menyedihkan. Araya semakin kalut dan ketakutan.
"Baiklah, jika anda membutuhkan sesuatu panggil aku saja" Ucap bibi Gu dengan tersenyum sembari berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan perlahan.
__ADS_1