
June yang mendengar kalimat terakhir Evan di buat melongo sangking kaget nya. June sudah beberapa tahun mendampingi Evan namun baru kali ini ada yang menganggu pikiran nya karena selama ini walaupun Evan terus di hina dan di kucil kan, Evan tidak perna perduli ucapan mereka.
Brukk..
Lamunan June buyar saat menoleh ke belakang dan melihat tubuh Evan yang jatuh tersungkur ke lantai. "Tuan Muda" June sedikit berlari menghampiri Evan.
Entah mengapa Evan yang tadi nya baik-baik saja kini merasakan sakit dan sesak di dada nya. Hingga tubuh nya jatuh tersungkur di lantai depan kamar mandi.
June yang sudah tau penyakit Evan dengan sigap mengambilkan nebulizer (alat bantu pernapasan bagi penderita asma) untuk Evan lalu membantu Evan untuk berbaring di atas ranjang.
"Akhh.." Evan terus saja mengiris kesakitan.
Brak..
Evan melempar semua barang yang ada di atas meja samping tempat tidur nya. Evan mulai memberontak. June yang melihat tanda-tanda penyakit Evan mulai kambuh dengan cepat mengambil tali lalu mengikat kedua tangan Evan di sisi ranjang.
"Maaf Tuan Muda" June tidak tega mengikat Evan namun ini semua June lakukan agar Evan tidak melukai diri nya saat penyakit nya sedang kambuh.
———
Kini jam sudah menunjukan pukul dua dini hari namun Araya belum juga bisa tertidur. Araya terus berguling ke kiri dan kanan mencari posisi yang nyaman saat tidur namun tetap saja mata Araya sulit terpejam.
__ADS_1
"Menyebalkan!! Mengapa ciuman Evan terus saja berputar di kapala ku" Araya merasa aneh dengan pikiran kotor nya itu. "Dasar Mr.Arrogant" pekik Araya dengan suara tertahan.
Araya yang merasa kesal mencoba memejam kan mata nya kembali dengan mematikan lampu kamar dan menutup wajah nya menggunakan selimut. Hingga beberapa saat Araya pun tertidur dengan pulas.
****
Malam pun berganti pagi yang sangat cerah namun seorang gadis kecil enggan untuk bangun dari tidur nyenyak nya.
Tok
Tok
Tok
"Ada apa? Mengapa membawa sarapan nya ke sini?" tanyak Araya heran.
"Maaf Nona tapi hari ini anda di larang keluar kamar oleh Tuan Muda" Lili sedikit menunduk menjawab pertanyaan Araya.
"Apa!!" pekik Araya tak percaya dengan ucapan Lili.
"Di mana dia? Aku ingin berbicara pada nya!" kesal Araya.
__ADS_1
"Tuan sedang sarapan" jawab Lili seadanya.
"Minggir" Araya yang kesal mendorong tubuh Lili ke samping dan berlari menuruni anak tangga menuju ruang makan namun saat sampai di ruang makan Evan sudah tidak ada di sana.
"Nona tenanglah" Lili menghampiri Araya dan berusaha menenangkan Araya yang sedang kesal.
Araya tidak perduli pada ucapan Lili dan terus mencari keberadaan Evan hingga tanpa sengaja mata Araya menangkap sosok yang sedari tadi dia cari.
Araya yang kesal menghampiri Evan yang sedang duduk di pinggir kolam dengan santai nya. "Tuan Muda Evan" teriak Araya membuat semua penghuni mansion menatap nya.
Evan yang mendengar nama nya di panggil tidak menoleh sama sekali dan mengabaikan istri kecil nya.
Mengapa anda ingin mengurung ku di dalam kamar" tanyak Araya sembari berdiri berkacak pinggang di depan Evan yang sedang duduk.
"Ada masalah?" tanyak Evan lalu berdiri menatap Araya.
"Jelas ada" Araya terus menatang Evan. "Anda pikir aku seorang tahanan yang harus di kurung di dalam kamar! Apakah belum cukup anda mengisolasi aku di dalam mansion seram ini!!" ucap Araya dengan emosional.
"Mengapa kau nakal sekali?" tanyak Evan sembari meletakkan jari telunjuk nya di bawah dagu Araya lalu mengangkat sedikit dagu itu dengan angkuh. "Gadis bodoh" desis Evan.
.
__ADS_1
.
.