Istri Kecil Mr.Arrogant

Istri Kecil Mr.Arrogant
Part 23


__ADS_3

Brukk..


Araya yang tadi nya sedang memeluk Evan kini tubuh kecil itu berada di bawah kungkungan Evan. "Siapa kau" tanyak Evan dengan suara jantan nya.


Araya yang gugup tidak mampu menjawab pertanyaan Evan. "Siapa kau yang berani menyentuh ku" tanyak Evan lagi namun Araya tetap diam.


Evan yang tidak mendapat jawaban dari Araya merasa kesal lalu mengambil pisau yang tadi Araya pakai untuk membuka ikatan tangan Evan. "Jawab atau aku akan membunuh mu" Evan mengarah kan pisau itu tepat di bawa dagu Araya.


Araya semakin takut. "Aa_aku Araya, istri anda" jawab Araya ketakutan dengan nafas yang naik turun.


Mendengar nama Araya membuat tangan Evan melemah dan pisau yang tadi Evan pegang kini jatuh ke lantai. "Jangan menyentuh ku lagi! Ini peringatan trakhir".


"Aku istri anda! Mengapa aku bahkan tidak bisa menganti kemeja suami ku" Araya yang kesal memutar bola mata nya dengan malas dan tanpa sengaja melihat otot-otot milik Evan karena semua kancing kemeja nya sudah terlepas.


Araya menggelang dan segera menepis pikiran kotor nya itu lalu mendorong tubuh Evan ke samping. "Minggir" Evan yang tidak siap pun terduduk di samping Araya.


"Berani sekali kau mendorong ku" desis Evan namun sedetik kemudian Evan di buat melongo dengan keberanian istri kecil nya.


Araya turun dari ranjang lalu menarik kerah kemeja sang suami dengan paksa agar lebih mendekat dengan nya hingga Evan terduduk di pinggir ranjang dengan kaki yang menyentuh lantai sedangkan Araya berdiri di hadapan nya.


"Diamlah, aku hanya ingin mengganti kemeja anda" Evan seperti mati kutu saat istri kecil nya melakoni peran nya sebagai istri baik.

__ADS_1


Evan tidak mengerti mengapa istri kecil nya itu sangat nakal bahkan dengan lancang nya membuka kemeja Evan tanpa rasa takut sedikit pun. "Mengapa kau ingin menikah dengan pria buta seperti ku" Evan menahan tangan Araya saat mencoba mendorong kemeja Evan kebelakang agar terlepas.


Posisi mereka saat ini begitu dekat hingga nafas Araya yang naik turun bisa Evan rasakan. "Terpaksa" hanya jawaban itu yang mampu Araya ucap kan.


Sesaat mereka berdua saling tatap dengan lamunan mereka masing-masing. Dunia seperti berhenti berputar dan menyorot momen mereka berdua.


Araya kembali menggeleng menepis semua pikiran nya lalu mengambil handuk kecil dan perlahan lahan melap tubuh Evan. "Pergilah atau aku juga akan membuka pakaiaan mu". Evan menarik pinggang kecil milik Araya hingga menyentuh tubuh nya.


Seketika tangan Araya terhenti tepat di dada bidang Evan saat mendengar ucapan Evan barusan. Araya bungkam dengan tangan yang bergetar


Entah mengapa tiba-tiba saja Araya merinding dan takut. "Lepas kan! Apa yang anda lakukan" Araya memberontak namun tetap saja tubuh kecil nya tidak bisa mengalahkan kekuatan Evan.


Baru kali ini Araya melihat Evan tersenyum walaupun hanya senyuman licik yang terukir di bibir nya namun Evan terlihat sangat seksi dan menawan.


Seketika fokus Araya teralihkan dan terus menatap Evan tanpa berkedip. "Gadis bodoh" desis Evan merasa jengkel. Bukan nya takut Araya malah terlihat bernafsu menatap Evan.


Sudah berapa kali Araya menggeleng untuk menepis pikiran kotor nya itu namun tetap saja pemandangan di depan mata nya tidak boleh di lewat kan begitu saja.


Brak..


Seketika pikiran kotor Araya terhenti saat pintu dari luar di dobrak oleh June dan beberapa pengawal. "Nona apa yang anda lakukan". June menghampiri Evan dan Araya.

__ADS_1


"Berani sekali kau masuk ke dalam kamar ku tanpa permisi".


"Maaf Tuan Muda" June menunduk karena merasa bersalah. "Saya hanya melakukan perintah dari Nyonya Lusy".


Beberapa pengawal menarik tangan Araya dengan paksa agar keluar dari kamar Evan. "Apa yang kalian lakukan" teriak nya saat Araya sudah berada di luar dan pintu kamar Evan sudah tertutup rapat.


"Maaf atas kelancangan ku Nona. Bukan kah anda sudah di peringat kan untuk tidak membuka ikatan Tuan Muda" June berkata dengan raut wajah datar tanpa expresi sedikit pun.


"Sebenar nya apa tujuan kalian mengikat nya seperti itu!!" dengan berani Araya membentak June.


June menatap Araya agak lama lalun mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.


"Kejiwaan Tuan Muda sangat buruk setelah kematian Tuan Ivan yaitu saudara kembar Tuan Evan" June menjeda ucapan nya "Tuan Muda selalu berhalusinasi lalu berteriak dan menyakiti siapa pun yang berada di dekat nya bahkan Tuan Muda bisa menyakiti diri nya sendiri" lanjut June.


Entah mengapa setelah mendengar ucapan June membuat hati Araya semakin kalut. Bukan karena takut pada Evan namun Araya hanya merasa khawatir pada kondisi Evan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2