Istri Kecil Mr.Arrogant

Istri Kecil Mr.Arrogant
Part 30


__ADS_3

Pemandangan pertama yang Araya lihat saat pertama kali masuk adalah Evan yang sedang berendam dan bersandar di bathum sembari memejam kan kedua mata nya.


Araya perlahan lahan mendekati Evan lalu menyentuh rambut Evan. "Tuan, anda baik-baik saja kan".


"Hem" Evan hanya berdehem menjawab pertanyaan Araya namun kedua mata nya masih terpejam.


Setelah memastikan Evan baik-baik saja Araya pun hendak beranjak keluar dari kamar mandi namun Evan malah menahan tangan Araya. "Mau kemana" tanyak nya dengan menatap wajah Araya.


Araya tidak menjawab. "Pakai kan aku shampoo" kata Evan lalu kembali memejam kan mata nya tanpa melepas genggaman tangan Araya.


"A_apa kata nya" Araya merasa terkejut dengan perintah Evan namun mau tidak mau Araya tetap melakukan nya.


Araya benar-benar melakukan perintah yang Evan suruh namun mata Araya terus menatap Evan dan melihat sedari tadi tangan Evan terus bergetar dengan suara napas yang tersenggal senggal seperti menahan rasa sakit.


"Akh"


"Tuan, anda baik-baik saja kan" tanyak Araya panik saat mendengar Evan merintih kesakitan dan dengan spontan Araya membantu Evan untuk duduk dengan baik.


Evan dapat merasakan jika Araya saat ini sedang merasa khawatir. "Keluarlah" kata Evan lirih. "Aku ingin sendiri" lanjut Evan lalu memalingkan wajah nya.


Namun gadis nakal itu malah nekat menyentuh pipi Evan lalu mengarahkan wajah Evan tepat di depan wajah nya. "Aku tidak akan keluar sebelum anda juga ikut keluar".


Mereka berdua seakan saling tatap dalam diam dengan waktu cukup lama. Araya tidak bisa berkedip saat menatap wajah Evan yang sangat gagah. Rambut Evan yang tebal, alis yang lebat serta bulu mata yang panjang dan lentik.

__ADS_1


Namun yang paling Araya suka adalah bibir indah Evan. lalu tanpa sadar Araya menyentuh bibir Evan yang basah.


Evan yang sedari tadi hanya diam kini menatap tangan gadis nakal itu yang berani menyentuh bibir nya. "Kau melakukan pelanggaran.. Gadis bodoh" lirih Evan membuat Araya tersadar apa yang sedang dia lakukan sekarang.


"Ma_maaf Tuan" kata Araya lalu segera berdiri dengan pipi yang bersemuh merah seperti tomat.


Araya dengan cepat keluar dari kamar mandi yang membuat nya hampir kehilangan kesadaran namun sebelum keluar Araya sempat menyimpan dua handuk kecil di samping Evan.


Araya yang merasa malu dengan ulah nya tadi terus berguling kesana kemari di atas ranjang membuat ranjang itu sangat berantakan.


Brukk..


"Aww" karena terus berguling kesana kemari tanpa sengaja Araya terjatuh ke lantai lalu dengan cepat naik kembali ke atas ranjang. "Akh araya kau sangat bodoh" kata Araya lalu menutupi tubuh nya dengan selimut lalu sedetik kemudian Araya tersenyum genit mengingat momen itu.


"Kau memang bodoh dan agresif" suara berat Evan membuat Araya terperanjat dan senyuman Araya berganti dengan expresi takut dan gugup. Araya perlahan lahan mengintip Evan dari balik selimut.


Araya melihat Evan sedang duduk pinggir ranjang sebelah. "Keringkan rambut ku". Evan melempar handuk kecil ke wajah Araya.


"Hah!" Araya melotot.


Evan lalu menoleh seakan menatap Araya dengan tatapan tajam membuat Araya semakin takut dan gugup. Araya mengambil nafas sejenak lalu berdiri dengan kedua lutut nya tepat di balakang Evan agar tinggi badan mereka seimbang.


Perlahan lahan Araya mengusap rambut Evan menggunakan handuk kecil. "Mengapa kau ingin menikah dengan pria buta seperti ku".

__ADS_1


Entah mengapa tiba-tiba saja Evan menanyakan ini pada Araya dan seketika tangan yang tadi nya mengusap lembut rambut Evan berhenti saat mendengar pertanyaan Evan.


Araya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan Evan lalu kembali mengusap rambut Evan.


Brukk..


Evan berbalik lalu menindih tubuh istri kecil nya dengan bertelanjang dada membuat jantung Araya semakin tidak karuan. "Katakan" kata Evan.


Bukan nya menjawab pertanyaan Evan, Araya malah panik saat melihat hidung Evan mimisan. "Tuan, anda mimisan" Araya merasa panik saat melihat cairan merah keluar dari hidung Evan.


"Jangan peduli pada ku" Evan memalingkan wajah nya.


Dengan berani Araya memegang pipi Evan dengan lembut. "Mengapa aku tidak bisa perduli sedangkan aku ini istri anda" kata Araya lalu mengusap darah yang keluar dari hidung Evan dengan tangan nya sendiri.


Evan menatap wajah Araya dalam-dalam agak lama hingga Akhir nya sebuah kecupan singkat Evan berikan pada bibir Araya. Evan kembali menatap Araya namun gadis nakal itu hanya bungkam tanpa menolak ciuman singkat Evan.


Evan kembali menundukan wajah nya mencium bibir Araya memperhatikan wajah istri kecil nya yang hanya diam dengan memejamkan mata tanpa melakukan perlawanan.


Sekali lagi Evan kembali mencium bibir mungil Araya membuat kedua nya larut dalam indah nya malam. Perlahan lahan ciuman Evan turun ke leher Araya dan dada bagian atas milik Araya.


Araya hanya meremas sprei dengan kuat sembari menahan sebuah desa-han yang akan membuat nya malu.


"Tidurlah" kata Evan lalu berbaring di samping Araya sembari memeluk tubuh mungil istri nya. Araya yang tadi nya hampir melayang kini di jatuh kan begitu saja oleh Evan dan di tenggelam kan di dada bidang milik Evan.

__ADS_1


Di satu sisi Araya sangat senang karena tidak menyangkah Evan akan memeluk nya seperti malam ini padahal Araya tahu jika Evan paling tidak suka di sentuh oleh siapa pun.


__ADS_2