
"Bagaimana keadaan Tuan Muda" tanyak Araya pada Lili yang sedang melipat pakaiaan.
"Jika anda merasa khawatir, anda bisa datang menjeguk suami anda, Nona" Lili melirik Araya sekilas lalu kembali melipat pakaiaan.
"June melarang ku masuk" terukir jelas raut kecewa di wajah cantik Araya.
"Ini sudah sore dan saat nya Tuan Muda untuk membersihkan diri nya" Lili menghampiri Araya seraya membawa handuk kecil dan beberapa botol obat.
Seketika Araya mengingat kejadian saat diri nya membantu Evan beberapa saat yang lalu. "Aku tidak mau" Araya nampak takut jika harus menyentuh pria arrogant itu.
"Sesuai perintah Tuan Abraham jika anda akan selalu membantu Tuan Muda Evan untuk melakukan segala hal dan salah satu nya membantu nya untuk membersihkan diri"
Tak ada pilihan lain, Araya meraih handuk kecil dan botol obat dari tangan Lili lalu melangkah keluar menuju kamar Evan yang gelap.
Perasaan bersalah dan rasa takut bercampur menjadi satu. Setelah sampai di depan pintu kamar Evan. Araya menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan agar perasaan takut nya sedikit nya berkurang.
Saat tangan Araya hampir memengang gagang pintu tiba-tiba seseorang membuka pintu dari dalam. "Selamat sore Nona" June yang melihat Araya berdiri di depan pintu dengan rasa hormat sedikit membungkuk menyapa Araya.
"Saat ini Tuan Muda sedang tidak sadar kan diri. Anda hanya perlu menyapukan handuk basah di tubuh beliau setelah itu memasang kan kemeja bersih untuk beliau" lanjut June sembari bergeser kepinggir memberikan ruang untuk Araya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Araya hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kamar gelap namun sangat luas. Perlahan lahan Araya mendekati Evan yang sedang tak sadar kan diri.
Araya melihat Evan dengan perasaan kasihan dan wajah yang tadi nya takut kini berubah sendu saat melihat pria arrongant terbaring lemah di atas kasur dengan tangan yang di ikat di sisi ranjang.
Araya duduk di samping sang suami lalu perlahan lahan membuka kancing kemeja yang di gunakan Evan. "Mengapa mereka begitu tega memperlakukan anda seperti ini" tanpa sadar air mata Araya menetes melihat kondisi Evan.
Pria yang selalu bertingkah angkuh dan Arrogant kini terbaring lemah dengan keadaan yang sangat memperhatikan.
Araya yang kesulitan melepas kemeja Evan mencoba mencari gunting untuk membuka ikatan Evan. Araya tidak dapat menemukan gunting hanya ada pisau buah di atas meja samping tempat tidur Evan.
Araya mengambil pisau itu lalu mencoba membuka ikatan Evan.
Srett
"Akhh"
Evan bangun!!!
Jantung Araya seakan ingin keluar dari tempat karena terus berdebar sangat kencang. Apalagi saat melihat Evan yang terus memberontak menahan sakit di kepala nya.
__ADS_1
"Akhh" Evan meringis kesakitan dengan satu tangan terus memukul kepala nya yang sakit.
"Akhh"
"Apa yang harus aku lakukan" Araya tidak bisa berpikir jernih saat sedang berada di situasi genting begini.
"Apa ini sakit? Biar aku lepaskan" dengan secuil keberanian Araya kembali membuka ikatan tangan Evan yang satu.
Evan yang merasakan sakit di kepala nya terus memberontak dan memukul kepala nya dengan tangan nya sendiri. Araya yang melihat nya dengan spontan menahan tangan Evan agar berhenti memukul kepala nya sendiri.
Namun tubuh kecil Araya tak mampu menahan tangan Evan hingga akhir nya Araya memeluk tubuh Evan dengan sangat Erat. "Tuan jangan seperti ini, anda hanya menambah rasa sakit itu" kata Araya dengan lembut sembari berusaha menahan tubuh Evan yang sedang memberontak.
Mendengar ucapan Araya entah mengapa tubuh Evan menjadi lemah dan berhenti memberontak di pelukan Araya.
Araya mendongak menatap Evan lebih lekat. "Apakah sudah mendingan" tanyak Araya saat tubuh Evan tiba-tiba saja diam.
Bruk..
.
__ADS_1
.
.