
Evan melangkah maju tepat di hadapan Alvin yang sedang menyentuh pipi nya yang perih. "Tutup mulut busuk mu sebelum aku merobeknya" Evan tersenyum sinis menatap Alvin yang tersungkur di atas lantai.
Suara beberapa asisten mengalihkan asitensi Araya lalu menghampiri jendela dan melihat apa yang terjadi di bawa sana. Araya melotot dengan sempurna sembari membungkam mulut nya dengan tangan nya sendiri saat melihat Evan yang sedang memukul wajah Alvin.
"Jika kau tidak bisa membahagia kan nya maka aku dengan suka rela menggantikan posisi mu" Evan yang tadi nya ingin pergi kini menghentikan langkah nya dan menoleh pada Alvin.
"Kau memang suka dengan sesuatu yang bekas" desis Evan lalu melanjutkan langkah nya namun kali ini langkah nya terhenti lagi karena kalimat menohok Alvin.
"Kau pikir Araya menikahi mu karena rasa cinta?" Alvin tertawa mengejek Evan. "Araya terpaksa menikahi mu agar perusahaan paman nya tidak bangkrut". Alvin berhenti tertawa dan melanjut kan ucapan nya.
"Kau tidak pantas untuk nya! Kau hanya pria tidak berguna dan hanya membebani keluarga dan istri saja!"
Perkataan Alvin membuat Evan tersenyum tipis lalu menaikan lengan kemeja nya sampai siku dan menghampiri Alvin. "Pantas atau tidak, itu bukan urusan kau dan jangan perna ikut campur dengan masalah ku jika kau masih sayang dengan nyawa mu" Evan menyeket leher Alvin lalu mengangkat nya tinggi hingga wajah Alvin berubah menjadi merah.
Tap
Tap
__ADS_1
Suara langkah kaki Araya menggema di mansion itu. "Apa yang anda lakukan" teriak Araya dengan mendorong keras tubuh Evan hingga mundur beberapa langkah. "Apa anda sudah gila!" sambung Araya saat cekikan Alvin terlepas dari tangan Evan.
"Kau kesini hanya untuk membela pria ini?" Evan menunjuk dada Alvin. "Apakah kau ingin melihat aku membunuh pria bre*sek ini! Hah!!" baru kali ini Evan membentak Araya dengan sangat keras lalu menggenggam tangan Araya dengan kuat hingga pergelangan tangan Araya merah.
Araya menangis sesegukan. "Evan!! Kau jangan kasar pada wanita" Alvin menggenggam tangan Araya yang sebelah kiri dengan lembut.
"Singkirkan tangan mu atau aku benar-benar akan mematahkan nya" tatapan Evan sangat mematikan hingga nyali Alvin menciut dan segera melepas tangan Araya.
Evan lalu menarik tangan Araya namun dengan cepat Araya menghempas kan tangan Evan. "Mengapa anda marah? Anda bahkan tidak menyukai ku dan sering mengusirku" Araya menjeda ucapan nya.
"Sikap anda yang seperti ini terlihat seperti suami yang sedang cemburu. Apakah anda cemburu?" Araya lalu mengusap kasar wajah nya untuk menghampus sisa air mata yang menetes di wajah cantik nya.
Araya yang melihat Evan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan nya. Kini mengikuti langkah Evan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
Araya pikir Evan akan kembali ke kamar mereka namun nyata nya salah. Saat Araya membuka pintu kamar nya Evan tidak ada di sana.
Araya menoleh menatap Lili. "Di mana Tuan Muda" tanyak Araya pada Lili yang sedari tadi mengikuti langkah Araya.
__ADS_1
"Maaf Nona tapi sebaiknya anda jangan menemui Tuan Muda dulu" saran Lili. "Biarkan Tuan Muda tenang dulu" sambung Lili memcoba membujuk Araya agar tidak ke kamar Tuan Muda.
"Tunjukan di mana kamar nya".
Sebuah permintaan yang tidak bisa mereka tolak dan dengan terpaksa mengantar Araya ke dalam kamar pribadi milik Evan. Kini Araya sudah berdiri di depan kamar Evan dengan gusar saat mendengar suara barang berjatuhan dari kamar Evan, seperti nya penyakit Evan sedang kambuh.
"Nona, mohon urung kan niat anda untuk...."
"Aku ingin masuk" potong Araya begitu yakin.
June yang baru saja keluar dari kamar Evan kaget melihat Araya yang memaksa untuk masuk. "Maaf Nona, demi keselamatan anda mohon agar anda kembali ke kamar". June berdiri tepat di depan pintu menahan langkah Araya.
Araya melangkah lebih dekat pada June lalu berbisik di telinga June. "Siapa kau yang berani menentang ku?" Araya dengan angkuh membungsungkan dada nya dengan tatapan tajam.
Entah sejak kapan keberanian ini muncul, semua pelayan terkejut saat keangkuhan Tuan Muda mereka seperti nya menular juga pada istri kecilnya.
Lili dan June yang tadi nya tunduk kini mengangkat wajah nya dengan raut wajah keget. "Minggir" tegas Araya lalu mendorong tubuh June ke samping dan segera masuk ke dalam kamar sang suami dan menutup pintu nya rapat-rapat lalu mengunci nya dari dalam.
__ADS_1
Araya terdiam sejenak bersandar di balik pintu menetralisi kan perasaan nya lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan lahan mengurangi rasa gugup.