
Araya terhentak saat suara ******* dan erangan jantan keluar dari mulut Evan yang kesusahan melepas kemeja nya. "Apa yang dia lakukan" batin Araya. Kening Araya berkerut saat menyadari apa yang telah terjadi.
Evan yang sudah membuka kemeja nya berjalan dengan meraba raba dinding lalu duduk di lantai yang sangat dingin dan bersandar pada tembok.
Araya terperanjak saat melihat luka di lengan Evan yang cukup dalam seperti luka tusukan. Evan menahan luka nya menggunakan tangan nya sendiri agar darah nya berhenti keluar.
"Akh.."
Suara erangan Evan yang kesakitan menyayat hati Araya yang perlahan lahan mendekat pada sang suami dengan langkah yang sangat pelan.
Tepat di hadapan Evan yang sedang bersandar menahan kesakitan, Araya perlahan lahan menurunkan tubuh nya yang sangat tergunjang melihat Evan.
'Apa yang terjadi pada nya' tangan Araya bergetar dengan air mata yang mulai berjatuhan di wajah imut nya.
"Akh.."
Evan kembali mengerang seperti sangat kesakitan lalu merogoh saku celana nya untuk mengambil obat dan segera meminum nya tanpa air. Evan seperti nya sudah terbiasa meminum obat seperti ini.
Araya melihat botol pil obat yang sudah kosong di samping Evan lalu mengambilnya. "Ini obat pereda rasa sakit?" batin Araya.
Araya terkejut saat menyadari Evan mengomsumsi obat dosis tinggi untuk menahan rasa sakit pada tubuh nya. Araya kembali melirik wajah Evan yang sangat pucat dengan darah yang terus saja mengalir di lengan nya.
"Akhh.." nafas Evan memburuh membuat Araya semakin panik dan berjalan ke sisi jendela. "Siapa pun tolong suami saya" batin Araya sembari mengendarkan padangan nya di tengah hutan berharap ada seseorang yang lewat namun sayang nya tidak ada siapa pun di sana.
__ADS_1
Araya yang takut kembali melihat Evan yang semakin kesakitan. Araya yang mempunyai hati tulus nekat berlari di malam yang gelap dan hujan deras tanpa berpikir panjang. "Suami ku.. Bertahan lah" kata Araya sembari terus berlari menuju mansion lewat pintu belakang.
Setelah berhasil masuk ke mansion, Araya yang sudah hapal di mana kotak P3K di taruh dengan cepat mengambil nya lalu kembali berlari menuju bangunan itu.
Araya berlari di bawah hujan dengan tubuh basah kuyup dan berlari tanpa alas kaki. "Bertahan lah, aku akan mengobati luka anda" kata Araya yang terlihat sangat khawatir dan peduli pada Evan.
Brak..
Araya yang merasa khawatir pada Evan dengan sengaja menabrak pintu itu lalu menghampiri Evan yang masih merintih kesakitan.
"June... Apakah itu kau" tanyak Evan dengan suara yang terbata bata.
Araya hanya diam lalu mengeluarkan kapas dan betadine untuk di letakan di lengan sang suami yang sangat pucat menahan rasa sakit.
"Akhh.."
"Kumohon bertahan lah" batin Araya. Tangis Araya menjadi jadi saat mata Evan mulai terpejam.
Setelah membersihkan luka Evan, Araya lalu membalut luka itu dengan perban hingga akhir nya Evan tertidur karena efek obat yang tadi Evan minum.
Melihat Evan yang mulai tenang Araya dengan sedikit keberanian mengelus rambut Evan lalu mencium kening Evan sangat lama dengan air mata yang terus saja mengalir.
Setelah mencium kening Evan, Araya kembali menatap wajah pucat Evan sembari terus mengelus rambut Evan. "Siapa kau yang berani menyentuhku" kata Evan dengan setengah sadar.
__ADS_1
Araya terperanjak melihat tangan Evan yang menyentuh pergelangan tangan nya. "Mengapa kau perduli pada ku" sambung Evan namun Araya hanya diam saja.
"Siapa kau yang berani mengikuti ku" kata Evan namun setelah itu Evan kembali pingsan. Araya lalu pergi meninggalkan Evan di bangunan itu setelah merasa Evan sudah agak membaik.
Sebenarnya Araya pergi bukan tanpa Alasan tapi Araya akan kembali ke mansion dan memberitahu June tentang kondisi Evan saat ini.
***
Di sisi lain di sebuah ruangan nampak June dan Nyonya Lusy yang sedang membicarakan masalah serius.
"Bagaimana pun cara nya kau harus menghabisi anak tidak berguna itu"
June terperanjak. "Apakah tidak ada cara lain Nyonya?". tanyak June dengan menunduk dan rasa gugup.
"Tidak ada!! Aku sudah muak melihat anak tidak berguna itu dan aku ingin dia segera menyusul ibu dan kakak nya di alam lain"
June hanya diam tanpa menjawab ucapan Nyonya Lusy. "Ingat June, kau sudah berkhianat pada ku, menyembunyikan kondisi Evan yang sebenar nya" Nyonya Lusy menatap June dengan angkuh.
"Kau tahu apa akibat nya jika kau mengulangi nya lagi" Nyonya Lusy menatap June dengan tatapan tajam sedangkan june yang sedari tadi menunduk kini menegakan kepala nya.
"Maaf Nyonya, Tuan Muda Evan memang sudah melakukan operasi pendonoran mata tapi penglihatan beliau terganggu karena efek obat yang kita berikan selama ini" June menjeda ucapan nya.
"Tuan Muda Evan hanya bisa melihat di bawa cahaya yang cukup namun itu hanya bersifat sementara jika obat yang kita berikan tidak di minum oleh Tuan Muda" jelas June.
__ADS_1
"Baguslah" kata Nyonya Lusy "Tambah kan dosis nya dua kali lipat, aku sudah muak melihat anak tidak berguna itu" Nyonya Lusy beranjak dari sana.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dan mendengar semua ucapan mereka.