
Sudah dua hari ini Araya tidak bertemu dengan Evan sejak kejadian pertengkaran bersama Tuan Abraham beberapa waktu yang lalu. Araya juga di larang untuk bertemu dengan Evan karena alasan penyakit Evan kambuh.
Sore ini langit tampak mendung seperti akan turun hujan yang sangat deras. "Anda mau kemana Nona" tanyak Lili saat melihat Araya yang sedang memakai jaket hitam.
"Aku bosan di kamar ini. Aku ingin jalan-jalan di sekitar sini"
"Biar aku yang menemani anda Nona. Aku bisa mengalihkan perhatian para pengawal" kata Lili dengan bersemangat lalu merapi kan pakaiaan Araya dan menggenggam tangan Araya.
"Tunggu Lili" Araya terhenti dan melepas kan tangan Lili. "Biar aku saja yang pergi, kau tetap lah di sini" kata nya.
"Tapi Nona.." Lili tanpak kecewa dan khawatir jika Araya akan pergi sendiri apalagi Araya belum mengenal seluruh mansion besar ini takut nya Araya malah tersesat.
"Aku hanya sebentar dan segera kembali" kata Araya dengan tersenyum lalu berjalan menuju beranda kamar nya.
Gadis nakal itu turun dari balkom kamar nya lalu ke atap lantai satu sebelum akhir nya turun ke lantai dasar dengan tangan kosong tepat di samping kolam renang.
"Ya ampun Nona" Lili terpengarah melihat kelihaian Araya turun dari lantai atas ke lantai dasar tanpa menggunakan alat sama sekali.
Sebenarnya Araya keluar hanya untuk mencari Evan karena merasa khawatir pada Evan dan entah mengapa hati Araya gelisa saat tidak melihat Evan beberapa hari ini.
Araya terus berjalan ke belakang mansion yang cukup jauh hingga tanpa sengaja Araya melihat sebuah bangunan kosong lumayan jauh dari mansion tapi masih berada di pekarangan Tuan Abraham.
Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi Araya berjalan ke bangunan kosong itu dengan jantung yang tidak karuan. Ada perasaan takut tapi perasaan kepo Araya lebih tinggi hingga keberanian Araya muncul mendadak.
Setelah sampai di bangunan itu, Araya mengendap endap seperti maling dan mengintip di jendala yang lumayan tinggi. Araya yang mempunyai tubuh pendek dan imut terpaksa harus mencari sesuatu agar lebih tinggi sedikit dan bisa mengintip di jendela itu.
Belum sempat Araya mengintip nya, Araya dengan yakin mendengar suara dari dalam bangun itu. Suara rintihan dan erangan seseorang dari dalam bangunan itu.
__ADS_1
Araya yang merasa takut menghentikan aksi nya untuk mengintip tapi lagi-lagi rasa penasaran Araya lebih tinggi hingga dengan berani Araya mengintip dengan perasaan campur aduk.
Deg
Deg
Mata Araya membola dengan sempurna saat melihat seseorang sedang terduduk sembari bersandar di dinding dengan darah yang mengalir di lengan nya yang masih memakai kemeja
Araya yang terkejut tungkai nya begitu lemah hampir saja terjatuh dari tempat dia berdiri. Araya membungkam mulut nya sendiri agar tidak mengelurkan suara.
Bruk!!
Araya menjatuhkan tubuh nya di atas tanah yang basah dan dengan sekuat tenaga Araya membungkam mulut nya agar tidak menimbulkan suara.
"Siapa yang berada di dalam sana" batin Araya merasa takut. Araya yang sudah pergi cukup lama hingga langit sudah gelap berniat ingin kembali ke kamar namun entah mengapa ada perasaan yang memaksa Araya untuk masuk dan menolong orang itu.
Dengan hati yang tulus dan sedikit keberanian Araya mengililingi bangunan itu mencari jalan masuk nya dan saat berada di samping tanpa sengaja Araya melihat lentera tepat di depan pintu masuk.
"Siapa di sana"
Deg
Suara yang menyapa dari dalam menyentak perasaan Araya. "Suara ini.." dengan wajah syok Araya diam mematung, suara ini tidak asing bagi Araya, bahkan seperti nya Araya sering mendengar suara ini, tapi siapa?.
Bangunan itu sangat gelap hanya ada satu penerang yaitu lentera yang Araya pegang saat ini. Dengan berani Araya berjalan mengendap endap mencari pria itu dan tidak jauh dari tempat nya berdiri sekarang Araya berhadapan langsung dengan pria itu.
Deg
__ADS_1
Tes
Tes
Hujan turun dengan lebat dan angin kencang serta suara kilatan dari luar yang kilauan nya menembus sela-sela bangunan itu.
Perlahan lahan Araya mengangkat naik lentera yang ada di tangan nya dengan hati-hati untuk melihat jelas siapa pria itu.
"Dia.." Araya dengan cepat membungkam mulut nya sendiri agar tidak bersuara lagi.
Pria yang mempunyai paras sangat tampan berdiri di hadapan nya dengan mata yang sangat indah hanya saja tatapan pria itu kosong seperti tidak bisa melihat.
Waktu terasa berjalan sangat lambat saat Araya dan pria yang sepertinya tidak bisa melihat itu saling berhadapan. Mulut Araya terngaga saat sadar siapa yang sedang berdiri di hadapan nya saat ini.
"Tuan Muda Evan.." batin Araya.
"Siapa di sana" mata Evan yang indah seakan menatap Araya, tatapan pria itu sangat tajam.
Araya yang gugup hanya diam membisu dengan langkah yang mundur perlahan lahan sedikit menjauh dari Evan dan tanpa sadar langkah Araya terhenti di balik pintu.
Evan yang merasa ada seseorang di bangunan itu selain diri nya, berjalan dengan meraba raba hingga sampai di balik pintu tempat Araya berdiri.
Araya yang pendek dengan cepat menunduk saat tangan Evan meraba raba pintu itu sedetik kemudian Araya mendongak melihat wajah Evan yang sangat gagah tapi dengan tatapan yang kosong.
Evan seperti nya tidak tahu jika Araya sedang berada di depan tubuhnya. Hujan yang deras seakan membantu Araya menyembunyikan nafas nya yang memburuh.
Merasa tidak ada siapa pun di dalam sini, Evan segera mundur perlahan dan masuk kedalam ruangan yang tadi Araya lihat saat pertama kali mengintip.
__ADS_1
Evan berdiri membelakangi Araya sembari membuka satu persatu kancing kemeja nya. "Apa yang dia lakukan" batin Araya saat berada di ambang pintu.
Araya ingin membuang pandangan nya pada tubuh sang suami tapi Araya sama sekali tidak bisa berpaling dari Evan yang sedang berusaha membuka kemeja nya hingga mata Araya terus menatap tubuh Evan tanpa berkedip.