
Entah mengapa ada sedikit rasa bersalah di hati Araya saat dia pergi bersama pria lain tanpa sepengetahuan suami nya. Di sepanjang perjalan Araya hanya diam sembari menatap jalanan yang lumayan padat.
"Araya, apakah kau suka coklat panas?" Alvin melirik Araya sekilas.
Lamunan Araya buyar saat mendengar kalimat Alvin. "Ya, aku sangat suka" jawab Araya tanpa melihat Alvin sedikit pun.
Alvin menepikan mobil nya. "Ayo kita minum coklat panas dulu" tanpa menunggu jawaban Araya, Alvin turun lebih dulu lalu membuka kan pintu mobil untuk Araya.
Araya menatap kedai kecil itu lalu melirik Alvin sekilas. Araya tidak menyangka jika Alvin Abraham seorang pria kaya raya ingin duduk dan minum coklat panas di kedai kecil seperti ini.
Araya dan Alvin memilih duduk di meja depan untuk melihat pemandangan ibu kota yang sudah lama Araya tidak lihat. "Araya kau ingin pesan apa" suara Alvin membuat Araya terperanjat.
"Aku ikut kakak saja, apa yang kakak suka pasti aku juga suka" kata Araya dengan polos dan tanpa sadar Alvin tersenyum melihat Araya.
"Jadi mau pesan apa?" tanyak pelayan itu.
"Kami pesan coklat panas seperti yang biasa aku pesan dua"
"Baiklah tunggu sebentar" kata pelayan itu lalu pergi dari hadapan Araya dan Alvin.
Hening.. Setelah kepergian pelayan itu tidak ada yang membuka suara baik Araya mau pun Alvin. "Apa yang kau pikir kan" akhir nya setelah beberapa menit hening kini Alvin yang memulai obralan saat melihat wajah Araya terlihat murung.
"Tidak ada" kata Araya sembari memaksakan tersenyum.
"Katakan saja jika ada yang mengganggu pikiran mu"
"Entah mengapa, aku merasa bersalah pada suami ku" kata Araya dengan lirih.
Alvin tidak langsung menjawab ucapan Araya karena seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Tenang saja Evan tidak akan marah pada mu" ucapan Araya benar-benar meruntuh kan senyuman Alvin. "Kau khawatir atau takut pada Evan?" tanyak Alvin.
__ADS_1
"Aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada suami ku dan aku malah duduk manis di sini" jawaban Araya membuat Alvin diam sejenak lalu tersenyum simpul
Alvin mengelus rambut Araya dengan sangat lembut. "Jangan khawatir, tidak akan terjadi apapun pada Evan" kata nya sembari melap sudut bibir Araya yang belepotan susu coklat.
"Biar aku saja" dengan cepat Araya menepis tangan Alvin lalu melap bibir nya sendiri dengan perasaan gugup.
Dan saat itu terjadi ada dua orang pria yang menatap kemesraan mereka dari jarak jauh. "Tuan, apa perlu aku turun untuk memanggil Nona Araya pulang bersama anda" tanyak June saat melihat Evan terus menatap Araya dari jauh.
"Tidak perlu" kata Evan tanpa mengalihkan tatapan nya dari Araya dan Alvin. Evan mengepal tangan nya erat-erat saat melihat bagaimana Alvin menyentuh Araya dan nampak di wajah Evan yang sedang terbakar api cemburu.
"Kembali ke mansion" setelah melihat pemandangan yang merusak mata dan hati nya kini Evan memilih untuk pergi dari sana dengan perasaan yang sulit di mengerti.
"Tapi bagaimana dengan pertemuan yang sudah di rencana kan oleh Tuan Abraham untuk anda, Tuan" sebenarnya June dan Evan sudah sampai di perusahaan namun karena Tuan Abraham sudah mengatur pertemuan Evan dengan kolega nya di sebuah cafe.
Karena jalanan yang lumayan padat membuat mobil Evan sedikit melambat dan tanpa sengaja mata nya melihat sosok yang sangat dia kenal yaitu Araya bersama pria yang sangat Evan benci yaitu Alvin.
"Jalan" perintah Evan dengan suara menggeler pada June yang memegang kemudi.
Di tengah jalan Evan tiba-tiba saja menyuruh June untuk berhenti tanpa memperdulikan situasi. "Berhenti".
"A_apa?"
"Beli kan aku bir"
"Tapi Tuan.." June menepikan mobil nya.
"Cepat" suara Evan kembali menggelegar dengan tatapan tajam nya menatap June seakan akan ingin memangsa June hidup-hidup.
"Baik Tuan" June yang tertekan terpaksa pasrah dengan keadaan dan berharap Evan tidak akan melakukan hal gila lagi.
****
__ADS_1
Buk
Buk
Buk
Setelah sampai di mansion utama secara medadak Evan meninju tembok dengan tangan kosong hingga tangan nya berdarah. "Tuan Muda tenanglah" kata June.
Mendengar ucapan June, Evan segera berhenti dan melangkah masuk ke dalam kamar nya dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Brak..
Brak..
Setelah sampai di kamar, Evan kembali meluapkan emosi nya dengan melempar semua barang yang ada di kamar nya. "Tuan, apa perlu aku menelfon Tuan Alvin untuk mengantar Nona Araya pulang?" kata June pelan untuk menenang kan Evan yang sedang mangamuk.
Tetes demi tetes darah mengalir dari tangan nya tapi Evan sama sekali tidak terlihat kesakitan. "Aku akan membunuh gadis bodoh itu jika kau menunjukan wajah nya di hadapan ku"
June yang sedari tadi menunduk kini menegadah melihat wajah tampan Evan yang terlihat tersenyum namun mata nya sangat merah seperti sedang menahan sesuatu.
"Tuan anda baik-baik saja?" June merasa ini sangat aneh. Evan bertindak gila namun masih sadar saat di tanyak.
"Tutup mulut mu atau aku akan merobek nya"
Glek..
June menelan saliva nya dengan susah payah saat mendengar ancaman dari Evan. "Keluar" perintah Evan pada June dan dengan cepat June keluar dari kamar itu meninggalkan Evan sendiri.
Evan duduk di lantai dekat ranjang sembari bersandar di samping ranjang dan mengingat kembali saat Alvin mengelus rambut Araya dan menyentuh bibir Araya dengan lembut.
Dengan perasaan kacau Evan meminum bir itu tanpa menggunakan gelas dan langsung meneguk nya dan dalam waktu singkat Evan diam membisu saat mengingat bagaimana gadis nakal itu tersenyum pada nya.
__ADS_1