
Kini senja pun berganti malam Araya dan Evan sudah siap untuk pergi ke mansion utama. "Nona biar koper nya kami yang bawa" koper itu di tuntun oleh para pelayan menuju mobil yang terparkir di depan mansion.
Araya pun mengikuti langkah pelayan namun langkah nya terhenti saat melihat Evan yang baru saja keluar dari mansion. Araya terdiam saat langkah Evan mulai mendekat namun dengan ke angkuhan Evan melewati Araya begitu saja tanpa menyapa nya lebih dulu.
"Mari Nona" suara June mengaget kan Araya.
Araya terdiam cukup lama karena perasaan gugup dan canggung. "Masuklah" suara berat Evan membuat Araya semakin gugup.
Setelah Evan masuk Araya juga ikut masuk dan duduk di sebelah Evan yang sedang fokus menatap ke depan. Gadis nakal itu terus melirik Evan dengan malu-malu sembari merapikan pakaian nya.
***
Setelah melewati perjalan yang cukup panjang dalam keheningan dan kecanggungan akhir nya Araya bisa bernafas lega setelah mobil yang di kendarai June berhenti di sebuah mansion mewah milik keluarga Abraham.
Sekali lagi Araya melirik sang suami yang keluar lebih dulu. Entah mengapa akhir-akhir ini gadis nakal itu selalu melirik Evan lalu tersenyum dengan malu-malu. Evan yang merasa sering di tatap pun menjadi salting karena istri nya itu.
"Mari Nona" para pelayan menarik koper Araya dan Evan masuk ke dalam mansion meninggalkan Araya yang diam mematung di samping mobil.
Langkah Evan terhenti di depan pintu saat merasakan bahwa gadis nakal itu tidak berjalan bersama nya. Evan menoleh ."Gadis bodoh" kata Evan lalu kembali berjalan masuk ke dalam mansion meninggalkan Araya.
Araya ragu untuk masuk karena mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat diri nya mengacaukan acara penyambutan Vina dan Evan. Perasaan takut dan gugup menjadi satu dalam diri Araya.
__ADS_1
Araya menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan untuk mengurangi rasa gugup nya. "Bismillah" kata Araya lalu melangkah masuk ke dalam mansion.
"Selamat datang Nona Muda, senang bisa melihat anda lagi" seorang wanita paruh baya sedikit membungkkuk di hadapan Araya dengan tersenyum.
"Bibi Gu" Araya tersenyum lebar melihat Bibi Gu. Ternyata selama ini bibi Gu kembali berkerja di mansion Utama.
"Sebelah sini Nona" bibi Gu kembali tersenyum lalu mengantar Araya ke sebuah ruangan. "Silahkan masuk Nona" bibi Gu mempersilahkan Araya masuk setelah membuka kan pintu untuk Araya.
"Terimakasih" kata Araya lalu melangkah masuk.
Araya masuk ke dalam dengan perasaan canggung karena di ternyata di ruangan itu hanya ada Nyonya Lusy dan Tuan Abraham yang sedang memandang nya.
"Mendekatlah Araya" kata Tuan Abraham dan dengan langkah gemetar dan perasaan takut Araya mendekati mereka lalu berdiri di hadapan mereka. "Duduklah" kata Tuan Abraham dengan ramah.
"Kau hanya perlu memastikan bahwa tidak ada seeorang pun yang melihat Evan saat penyakit nya kambuh termasuk para pelayan" Nyonya Lusy menjeda ucapan nya. "Aku tidak mau menanggung malu jika gosip tetang Evan yang buta dan gila tersebar luas jadi pastikan saat penyakit Evan kambuh dia harus di kamar nya" jelas Nyonya Lusy.
Araya hanya diam meremas gaun berwarna silver yang Araya gunakan tanpa ingin bertanyak lebih banyak lagi.
"Kamar Evan ada di lantai dua, untuk sementara kalian akan tidur di kamar yang sama" kata Tuan Abraham.
"Apa!" pekik Araya tanpa sadar membuat Tuan Abraham berdiri dari duduk nya.
__ADS_1
"Mengapa kau berteriak! Bukan kah di mansion Evan kau juga sekamar dengan nya lalu apa beda nya jika di mansion ini kau juga sekamar"
Araya semakin bingung dengan situasi nya. Di masion bahkan Araya tidak bisa masuk ke kamar suami nya jika bukan perintah dari Tuan Abraham. "Apa ada ini" batin Araya.
Melihat Tuan Abraham yang sedikit marah membuat Nyonya Lusy dengan cepat mengalihkan pembicaraan. "Berikan obat ini setiap pagi dan sore pada Evan, pastikan dia mengomsumsi obat ini agar penyakit nya tidak kambuh" Nyonya Lusy memberikan sebotol obat pada Araya.
Araya meraih obat itu dengan tangan yang bergetar. "Baik aku akan melakukan nya" mau tidak mau pun Araya harus melakukan nya. "Tapi boleh kah aku menjeguk ibu ku yang berada di rumah sakit" semenjak menikah dengan Evan, Araya tidak perna lagi bertemu dengan ibu nya atau bahkan mendengar kabar ibu nya yang masih terbaring koma di rumah sakit.
"Tentu saja" bukan Nyonya Lusy yang menjawab malain kan Tuan Abraham. "Tapi kau harus memeperhatikan beberapa hal" lanjut Tuan Abraham.
"Terimakasih Tuan" Araya merasa senang saat di beri izin untuk menjeguk ibu nya yang sangat dia rindui.
Tuan Abraham dan Nyonya pun meninggalkan Araya sendiri di ruangan itu dan saat Araya ingin ikut keluar tanpa sengaja Araya melihat sebuah foto keluarga yang besar tergantung di dinding.
Araya menyipitkan mata nya memperhatikan dengan seksama foto itu. "Itu Tuan Evan atau Tuan Ivan" gumam Araya karena di foto itu hanya ada Varre, Vina Tuan Abraham, Nyonya Lusi dan ada satu pria yang berdiri di belakang Tuan Abraham entah itu Ivan atau Evan.
Senyuman di wajah Araya seketika luntur saat melihat dengan jelas bahwa di foto itu bukan Evan melain kan Ivan saudara kembar nya. "Bukan kah Tuan Muda Evan juga putra mereka tapi mengapa mereka selalu mengabaikan nya. Apakah mereka tidak punya hati sama sekali" guman Araya.
"Karena dia tidak suka di foto"
Deg
__ADS_1
Deg