
Pertemuan itu berjalan dengan baik hanya saja tatapan penuh kehinaan dan keangkuhan Nyonya Lusi yang menakutkan dan licik seperti nenek sihir.
Di dalam mobil Araya hanya diam membisu, entah apa yang sedang Araya pikir kan yang jelas tatapan Araya begitu kosong dan air mata yang berjatuhan di pelupuk mata.
Kini mobil yang di tumpangi Araya telah sampai di mansion mewah. Setelah mobil itu berhenti Araya segera berlari keluar melewati semua orang dan berlari menuju kamar.
Melihat Araya yang begitu terpuruk, Asma hanya bisa mengelus dada, sedang kan Eddy hanya bisa menggelengkan kepala dan merasa bersalah pada gadis kecil itu, biar bagaimana pun Araya juga anak nya yang sangat dia sayang sama seperti Aisya.
🍃🍃🍃
Hari demi hari berlalu namun Araya masih seperti sebelum nya duduk merenung dan tidak banyak bicara di dalam kamar padahal hari ini adalah pelaksanaan pernikahan.
Dengan gaun pengantin yang begitu indah dan mewah, Araya duduk menghadap cermin dengan wajah suram. menatap bayangan nya yang seperti gadis bodoh di sana.
__ADS_1
"Kalian semua jahat!!" teriak Araya melempar sebuah botol parfum tepat ke cermin saat melihat diri nya yang begitu menyedihkan.
Dari balik kamar Aisya mendengar suara Araya yang berteriak histeris. Ingin rasa nya Aisya masuk ke dalam menenangkan sang adik namun Aisya mengurungkan niat nya takut Araya akan semakin mengamuk.
Setelah menunggu hampir satu jam akhir nya pengawal Tuan Abraham datang menjemput calon pengantin Tuan Muda.
Araya berjalan nampak begitu cantik dan anggun walaupun tidak ada senyuman di wajah Araya sedikit pun, hanya mata yang sembab namun tidak memudarkan kecantikan yang Araya miliki.
Araya berjalan sembari melihat ke kiri dan kanan berharap ada celah sedikit pun untuk Araya bisa kabur dari pernikahan buruk ini. Namun pengawal Tuan Abraham yang begitu banyak dan Keluarga Araya yang terus memperhatikan gerak gerik Araya membuat Araya tidak bisa kabur dan hanya pasrah saja.
Sebelum keluar dari mobil Araya menatap keluar jendela, ada begitu banyak orang yang menunggu kehadiran nya.
"Bukan kah pernikahan ini di lakukan tertutup" Tanyak Aisya yang juga memperhatikan mansion mewah itu, namun Araya tidak menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"Ayo kakak bantu kamu turun, kamu jangan gugup dan jangan lupa untuk tersenyum" Ucap Aisya sembari mengulurkan tangan dengan senyuman indah terukir di wajah nya.
Araya pun menerima uluran tangan Aisya lalu berjalan di red karpet dan melewati begitu banyak orang dengan pandangan yang berbeda beda.
Di depan pintu mansion Nyonya Lusi telah menunggu Araya dan melebarkan tangan buat Araya untuk memeluk nya.
"Perkenalkan menantu ku yang sangat cantik dan manis. Dia memang cocok bersanding dengan putra ku yang tidak berguna itu" Nyonya Lusy berkata dengan keangkuhan nya.
"Cih!! ibu nya saja tidak suka dengan pria itu, bagaimana aku akan betah atau bahagia dengan nya" batin Araya merasa takut.
Araya kembali berjalan menuju Altar pernikahan dan tempat janji suci akan di lakukan. Dengan kepala yang di hiasi selendang putih Araya berjalan menjauh dari keramaian.
Di sana hanya ada beberapa orang saja dan wartawan, serta fotografer untuk mengambil gambar mereka.
__ADS_1
Setalah beberapa menit Akhir nya mempelai pria datang menggunakan kursi roda yang di dorong oleh Varrel dan di dampingi oleh pengawal. Pertemuan untuk ketiga kali nya Araya melihat Varrel dan tetap saja terpesona akan ketampanan Varrel. Sampai-sampai Evan yang sudah berada di samping nya pun di hiraukan begitu saja.