
Araya dan Lili berjalan menuju meja makan namun langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Nyonya Lusy di ruang tamu.
"Selamat malam ibu" sapa Araya dengan sedikit mengbungkuk saat melihat Nyonya Lusy duduk di sofa.
Nyonya Lusy menatap Araya sinis. "Apa aku perna meminta mu untuk memanggilku dengan sebutan itu" kata Nyonya Lusy sembari duduk di sofa tanpa menyuruh Araya untuk duduk.
Araya hanya diam membisu. "Kau pasti sangat senang bukan menjadi istri orang kaya" lanjut Nyonya Lusy.
Araya hanya bungkam dengan senyuman manis walaupun hati nya saat ini sangat sakit oleh perkataan nenek sihir itu. "Haha aku hanya bercanda sini duduk bersama ku" Nyonya Lusy tertawa melihat Araya lalu menepuk sofa di samping nya.
Araya terdiam cukup lama lalu menghampiri Nyonya Lusy dan duduk di samping nya dengan ragu-ragu. "Jangan perna bermimpi lebih tinggi. Kau hanya gadis sewaan untuk mendampingi pria buta yang menyedihkan" setelang mengucapkan kalimat pedas Nyonya Lusy berdiri dan meninggalkan Araya yang terdiam. Ucapan pedas Nyonya Lusy membuat hati Araya semakin sakit.
Brum
Brum
Lamunan Araya buyar saat mendengar suara mobil yang masuk ke halaman mansion. Ternyata yang datang adalah Vina bersama Varrel.
"Araya" Vina yang melihat Araya sedang berdiri segera menghampiri nya dan memeluk nya dengan erat. "Akhir nya kamu datang" Vina menjeda ucapan nya. "Kak Evan di mana" tanya Vina dengan celingak celinguk mencari keberadaan Evan.
__ADS_1
"Dia lagi di kamar" jawab Araya ragu karena sebenar nya Araya tidak tahu Evan di mana karena setelah sampai di mansion Evan melongos pergin tanpa mengajak Araya.
"Nona, Tuan Abraham sudah menunggu anda untuk makan malam bersama" Vina melirik Lili lalu kembali melihat Araya "Ayo" kata Vina lalu berjalan lebih dulu dengan tersenyum.
.
.
.
Araya datang bersama Vina sedangkan Varrel dan Nyonya Lusy sudah duduk di kursi meja makan bersama Tuan Abraham. "Araya, kemana suamu mu?" Araya yang tadi nya menarik kursi untuk duduk kini malah terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Ah iya aku akan memanggil nya untuk makan bersama" kata Araya lalu bergegas pergi meninggalkan ruang makan yang membuat jantung nya terus berdegup kencang karena tatapan Nyonya Lusy membuat suasana ruang makan lebih horor di banding film hantu.
Araya menaiki anak tangga setelah sampai di atas Araya di buat bingung. "Kamar Tuan Muda yang mana" gumam Araya dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Tok
Tok
__ADS_1
Araya mencoba mengetuk kamar pertama namun tidak ada jawaban dari dalam. Hingga kamar ke dua, ketiga dan keempat tetap saja tidak ada yang bersuara. "Pasti Tuan Muda ada di sini" gumam Araya karena tersisa satu kamar lagi yang belum Araya ketuk yaitu kamar paling ujung.
Tok
Tok
Terdengar dehaman dari dalam kamar dan Araya yakin itu pasti Evan. Araya dengan berani membuka pintu kamar itu. "Tuan Muda an.. Aaaaaa" Araya sontak menutup kembali pintu kamar itu saat melihat bukan Evan yang berada di dalam melain kan Alvin yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit pinggang nya.
"Maaf saya tidak sengaja" kata Araya di balik pintu lalu berlari kembali menuju meja makan namun saat ingin menuruni anak tangga tanpa sengaja Araya menabrak seseorang.
Bruk..
"Aawww" Araya jatuh tersungkur dan meringis kesakitan. "Akh sial banget sih hari ini" batin Araya.
Araya mendongak. "Tuan Muda" gumam Araya saat melihat Evan sedang berdiri di depan nya. "Gadis bodoh" umpat Evan lalu pergi meninggal kan Araya tanpa berniat membantu nya sedikit pun.
Araya yang melihat Evan pergi begitu saja merasa kesal dengan mencak mencak lalu menyumpahi Evan dengan sumpah serapah.
"Araya, kenapa kau lama sekali?" kata Nyonya Lusy saat Araya sudah berada ruang makan.
__ADS_1
Araya tidak menjawab mata nya tertuju pada Evan yang duduk sendiri di ujung meja makan mengisahkan jarak antara mereka semua. Seperti nya di sisi sebelah sana hanya untuk Araya dan Evan. Tidak ada seorang pun yang duduk di sebelah nya.