
Setelah kepergian Nyonya Lusy, June tampak frustasi dan tanpa sadar meninju dinding ruangan itu dan berlalu pergi menuju sang majikan yaitu Evan.
June yang sudah tahu di mana Evan sekarang segera menghampiri nya dan membawa Evan kembali ke dalam kamar. Apapun yang meninpa Evan saat ini adalah ulah Nyonya Lusy tanpa sepengetahuan Tuan Abraham.
Obat yang menurut Evan bisa menyembuhkan rasa sakit nya ternyata adalah racun bagi nya. Nyonya Lusy dengan sengaja memberikan racun pada Evan agar perlahan lahan Evan bisa menyusul ibu dan kakak nya.
Bukan tanpa alasan Nyonya Lusy ingin membunuh Evan karena Nyonya Lusy tidak ingin Evan yang menjadi pewaris keluarga Abraham. Bahkan kematian Ivan pun ada campur tangan Nyonya Lusy yang dari jauh menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Evan secara halus dan tanpa jejak.
***
Pagi ini sangat cerah warna biru nya sangat ceria, masih sangat pagi burung berkicau kesana kemari. Hari ini Araya mendapat kesempatan untuk menjeguk sang ibu yang sudah lama di tinggal kan bahkan sejak menikah dengan Evan, Araya tidak perna lagi bertemu dengan ibu nya atau bertanyak kabar tentang ibu nya.
"Nona, anda terlihat sangat ceria hari ini" kata Lili sembari menyiap kan pakaiaan untuk Araya.
"Aku akan bertemu dengan ibu ku" kata Araya dengan tersenyum lebar. "Aku sudah tidak sabar ingin melihat nya, aku sangat merindukan nya" Araya dengan cepat turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi untuk segera bersiap.
Hampir satu jam Araya bersiap untuk pergi menemui sang ibu yang entah masih berada di rumah sakit atau sudah kembali ke rumah sang paman.
"Nona, mari sarapan dulu" kata Lili saat melihat Araya sudah rapi dan kali ini penampilan Araya sangat cantik menggunakan dress mewah dengan rambut yang sudah di tata rapi oleh Lili.
Di ruang makan semua keluarga Abraham sudah berkumpul untuk sarapan bersama kecuali Evan dan Araya yang belum datang.
"Kemana Evan dan Araya" belum lama Tuan Abraham menanyakan keberadaan menantu nya kini suara sapaan para pelayan sontak membuat mereka semua berbalik menatap Araya.
Selama menikah dengan Evan, ini adalah pertama kali nya Araya tampil sangat cantik memakai dress mewah. Alvin melirik adik ipar nya yang menuruni anak tangga dengan anggun.
"Selamat pagi adik ipar" Alvin terus melihat Araya hingga sampai di meja makan tatapan Alvin terus saja pada Araya.
"Selamat pagi kak" Araya menjawab dengan sangat lembut lalu duduk di kursi yang biasa nya di tempati tepat di samping Evan.
Araya tampil sangat cantik hingga semua orang terpukau melihat nya bahkan senyuman Araya pagi ini sangat berbeda seperti biasa nya.
Hari ini Araya merasa sangat senang karena setelah sekian lama nya tinggal di mansion jauh dalam hutan kini saat nya Araya untuk melepas sejenak rasa lelah dan hari ini Araya akan menikmati waktu bersama sang ibu yang sangat Araya rindui.
__ADS_1
"Bagaimana tidur mu malam ini, nyenyak kan" sontak semua pandangan kini beralih menatap Alvin yang menanyakan pertanyaan yang sedikit aneh menurut mereka.
"Ya, tidur ku malam ini sangat nyenyak" Araya tersenyum manis saat mengingat semalam diri nya dengan lancang mencium kening Evan yang sedang terbaring lemah di sebuah bangunan kosong.
"Selamat pagi Tuan Muda" sapaan para pelayaan saat Evan tiba di ruang makan dan mengalihkan pandangan beberapa orang yang sedang sarapan.
Evan melewati semua orang yang ada di sana tanpa menyapa atau sekedar menjawab sapaan mereka. Dia berjalan dengan keangkuhan nya walaupun memakai tongkat tapi itu tidak mengurangi karisma nya sedikit pun.
Evan dengan kemeja putih, melipat lengan baju nya sampai siku, dasi yang menggantung di leher dengan rapi membuat Araya terus menatap Evan tanpa berkedip hingga tanpa sadar Evan sudah duduk di samping Araya.
"Selamat pagi Evan" sapa Tuan Abraham.
"Pagi ayah"
Evan melirik wajah imut Araya yang sangat berbeda dari biasa nya. Hari ini Araya nampak lebih dewasa saat menggunakan riasan yang cantik dan memakai dress yang sangat indah.
"Bu siang ini aku akan pergi ke trinida bersama tim ku, kemungkinan aku pergi selama tiga hari setelah itu aku akan kembali ke Prancis" kata Vina sembari menyantap sarapan nya.
Alvin yang sedari tadi sibuk memperhatikan Araya kini sontak menoleh menatap sang adik. "Ngapain ke sana?" tanyak Alvin dengan tatapan menyelidik.
Entah mengapa ada perasaan aneh saat Vina izin akan pergi ke trinida untuk melakukan acara bakti bersama tim nya. Padahal Vina sudah terbiasa berlibur bersama teman-teman nya hingga ke berbagai negara sekalipun walaupun banyak pengawal yang selalu menjaga nya.
"Evan, ikutlah bersama ayah ke perusahaan" kata Tuan Abraham sebelum meninggal kan meja makan.
Evan yang sedari tadi tidak bisa melepas tatapan nya dari sang istri kini menoleh pada sang Ayah dengan cepat. "Ya" jawab nya singkat.
Tidak butuh waktu lama Evan juga menyusul Tuan Abraham yang sudah menunggu di dalam mobil. "Tuan Muda" panggil Araya saat Evan berada di ambang pintu utama untuk menemui Tuan Abraham.
Evan menoleh. "Ada apa" jawab nya singkat sembari menatap Araya.
"Emm.." Araya ragu-ragu berbicara bahkan hanya sekedar pamit untuk menemui sang ibu yang masih berada di rumah sakit.
"Cepatlah" suara Evan membuat Araya terperanjak dari rasa gugup nya.
__ADS_1
"Bolehkah saya pergi ke rumah sakit untuk menemui ibu saya?" kata Araya dengan menunduk takut jika Evan akan melarang nya.
"Pergilah" jawab Evan cuek lalu pergi dari hadapan Araya menuju mobil sang Ayah.
Araya kesal melihat langkah Evan yang semakin jauh meninggalkan nya. "Dasar Mr.Arrogant, angkuh, nyebelin!!" umpat Araya dengan suara tertahan.
"Padahal aku udah takut banget tadi kalau di ngelarang aku pergi" Araya menjeda ucapan nya. "Ternyata oh ternyata dia sangat cuek pada ku" kesal Araya sembari menghentakan kaki nya di atas lantai mahal itu.
"Kau berharap apa pada pria angkuh seperti nya"
"Yaa, setidak nya dia bilang gini kek..." Araya menjeda ucapan nya lalu mengikuti cara bicara Evan. "Istri ku, kau mau kemana? biar aku yang menemani mu agar..." seketika mata Araya membola sempurna saat tersadar akan sesuatu dan menoleh menangkap sosok pria yang sedang menertawakan kebodohan nya.
"Kak Alvin, sejak kapan di situ?" tanyak Araya dengan rasa malu yang luar biasa.
"Sejak kau terus mengoceh tidak jelas di sini" Jawab Alvin masih dengan sedikit tawa di bibir nya.
Araya hanya terdiam sembari menggigit jari telunjuk nya karena rasa malu yang dia rasakan. "Oh iya, aku tadi mendengar jika kau ingin ke rumah sakit, benar?" tanyak Alvin.
Araya mengangguk. "Iya kak" jawab Araya singkat.
"Yaudah barengan aja, aku juga mau ke rumah sakit"
Araya nampak berfikir. "Sudah tidak usah berfikir lagi. Ayo pergi bersama ku" Alvin menggenggam tangan Araya menuju mobil nya.
"Kakak yakin ini tidak apa-apa" tanyak Araya sebelum masuk ke dalam mobil Alvin.
"Apa kau takut?"
"Bukan.. Bukan begitu, hanya saja aku belum minta izin ke Tuan Muda jika kita akan berangkat bersama. Takut nya akan timbul masalah baru"
"Jangan khawatir tidak akan ada yang marah pada mu atau pun pada ku. Ayo masuk dan duduk lah dengan nyaman" Alvin membuka kan pintu untuk Araya lalu sedikit mendorong tubuh Araya agar masuk ke dalam mobil dan mau tidak mau pun Araya terpaksa ikut bersama Alvin ke rumah sakit.
.
__ADS_1
.
.