
Setelah mampir dari kedai, Araya dan Alvin segera ke rumah sakit namun saat sampai di rumah sakit seorang perawat mengatakan jika pasien bernama Lina sudah pulang dua minggu yang lalu.
"Kalau begitu aku akan pergi ke rumah paman, pasti ibu ada di sana" Araya tersenyum manis saat mengetahui jika ibu nya sudah kembali ke rumah.
"Biar aku mengantar mu".
"Tidak usah kak, biar aku saja" jawab Araya sungkan
"Tidak apa-apa. Jadwal ku juga masih tiga jam lagi jadi masih banyak waktu untuk mengantar mu. Ayo aku antar" Alvin menggenggam tangan Araya lalu menuntun nya berjalan menunu lift dan turun ke baseman untuk mengambil mobil nya yang terparkir rapi.
***
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit kini Araya dan Alvin sudah sampai di rumah paman Araya.
Araya turun dengan wajah ceria, juga senyuman manis dab tanpa berpikir panjang Araya berlari di halaman muka rumah nya lalu masuk ke dalam. "Assalamuaikum" kata nya sembari membuka pintu. "Ibu Araya datang" teriak Araya.
"Araya" seorang gadis cantik yang menutup kepala nya menggunakan jilbab berlari menghampiri Araya lalu memeluk nya dengan erat. "Bagaimana kabar mu? Aku sangat merindukan mu" kata gadis itu dengan tangisan seperti anak kecil.
"Aku juga sangat merindukan kak Aisya" kata Araya sembari membalas pelukan sepupu nya. "Oh iya, ibu dimana? Aku sangat merindukan nya" Araya melepas pelukan nya lalu memegang ke dua pu dak Aisya dan menatap wajah Aisya yang terlihat murung.
Aisya menunduk tidak menjawab pertanyaan Araya hingga beberapa detik kemudian Aisya meraih tangan Araya lalu menuntun nya ke sebuah kamar. "Masuklah, ibu sedang istirahat" kata Aisya dengan mata yang memerah seperti menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk mata nya.
__ADS_1
Perlahan lahan Araya membuka pintu kamar itu dan melangkah masuk dengan perasaan gusar. Saat Alvin ingin masuk menyusul Araya dengan cepat Aisya menutup pintu. "Biar kan Araya bersama ibu nya sebentar saja" kata Aisya dengan tersenyum.
Deg
Deg
Entah mengapa saat melihat Aisya tersenyum ada perasaan nyaman dan adem melihat senyuman itu. Aisya sangat cantik walaupun tubuh nya memakai gamis dan jilbab namun itu tidak mengurangi kecantikan nya. Malah aura Aisya lebih indah di banding senja di sore hari.
**
"Ibu.." lirih Araya saat melihat sang ibu terbaring lemah dengan infus dan alat bantu pernafasan.
"Ibu bangun lah, Araya sudah datang bu" lirih Araya dengan perasaan khawatir namun sedetik kemudian ibu Lina membuka mata dan menatap Araya sembari mengelus puncank kepala Araya.
"Ibu.." Araya menangis di depan sang ibu seperti anak kecil. Tangan Araya bergetar dan terus menangis.
Ibu Lina yang sudah lama tak melihat putri semata wajang kini tersenyum haru. "Araya putri ku" suara lembut sang ibu menghentikan tangisan Araya lalu menatap sang ibu dengan perasaan haru.
"Ibu maaf kan aku" kata Araya lalu mengambil tangan sang ibu dan mencium nya berkali kali dengan linangan air mata.
Bu Lina berusah duduk dan bersandar di dipan ranjang di bantu oleh Araya. "Mengapa kau menangis" tanyak Bu Lina dengan wajah yang tersenyum dan menyekai air mata Araya.
__ADS_1
Araya sesegukan. "Aku sangat merindukan ibu" Araya menggenggam tangan Bu Lina lebih kuat lagi.
Tangan Bu Lina yang dingin menyentuh kepala Araya lalu merapikan rambut Araya. "Putri ibu sudah dewasa" Bu Lina tersenyum. "Jangan khawatir ibu baik-baik saja di sini bersama Aisya" Araya hanya mengangguk mendengar ucapan Bu Lina. "Apakah kau bahagia di kelurga baru mu?"
Deg
Araya menatap sang ibu yang terlihat sedang tersenyum. "Ya aku bahagia" meski kalimat ini sulit Araya ucap kan namun Araya terpaksa berbohong agar Bu Lina tidak kepikiran dengan Araya.
"Ibu tau bagaimana kondisi suami mu" Bu Lina menatap Araya lalu kembali berkata. "Jangan ambil hati jika dia berkata kasar. Ibu yakin dia pasti pria yang sangat baik hanya saja suami mu butuh perhatian lebih karena penyakit nya"
Entah mengapa Araya seperti di tusuk ribuan anak panah saat Bu Lina mengakatan ini. Araya tidak tahu jika ibu nya mengetahui penyakit suami nya.
"Ibu tahu, pasti sangat sulit menerima pernikahan ini tapi ibu mohon Araya jangan mudah menyerah. Kalau bisa di pertahan kan pernikahan nya karena pernikahan itu bukan mainan"
Seketika Araya kembali menangis saat mendengar ucapan Bu Lina. Bagaimana mungkin Araya mempertahan kan pernikahan ini sedangkan dia saja hanya di kontrak setahun oleh Tuan Abraham untuk melahir kan seorang anak.
Araya berbincang dengan Bu Lina dengan dalam waktu yang cukup lama hingga tanpa terasa langit sudah berwarna jingga dan saat nya Araya untuk pamit kepada sang ibu.
"Lain kali aku akan datang lagi" Araya tersenyum melihat sang ibu lalu mecium punggung tangan Bu Lina.
"Hati-hati sayang" suara Bu Lina sangat lembut dan perlahan lahan Araya keluar dari kamar Bu Lina lalu pamit dengan Aisya setelah itu melangkah pergi menuju mobil milik Alvin yang sudah terparkir rapi.
__ADS_1