Istri Kecil Mr.Arrogant

Istri Kecil Mr.Arrogant
Part 43


__ADS_3

Perlahan lahan Araya melangkah menghampiri Evan yang sedang duduk sembari bersandar di dipan ranjang dengan tangan yang terikat di sisi ranjang.


Evan yang tadi nya menunduk kini mengangkat kepala nya. "Keluar dari kamar ku" satu kalimat yang menusuk hati Araya namun Araya tetap melangkah mendekati Evan.


Araya melihat keringat yang mengucur deras di dahi Evan, nafas yang sesak serta tangan yang terus gemetaran. "Menjauh dari ku".


Gadis nakal itu sama sekali tidak gentar dengan apa yang dia lakukan. "Aku ke sini hanya ingin mengobati luka anda" dengan berani Araya membuka ikatan tangan Evan.


Brak..


Tepat setelah kedua ikatan tangan Evan lepas, Evan mendorong tubuh Araya lalu mengunci nya di bawa tubuh nya. "Mengapa kau perduli padaku?" tatapan mereka bertemu dalam sesaat mereka saling menatap.


"Aku.."


"Aku membenci mu gadis bodoh!!" bentak Evan namun terdengar seperti orang putus asa. "Jangan perna tunjukan perhatian mu pada ku karna itu sangat menyakit kan bagi ku"


Deg


Deg


Araya menatap wajah Evan saat sebuah cairan bening jatuh ke pipi nya. "Dia menangis" batin Araya saat melihat mata Evan memerah.


"Pergilah gadis bodoh, aku membenci mu!!!" berkali kali Evan mendarat kan pukulan di atas ranjang tepat di samping kepala Araya. "Aku membenci mu lebih dari hidupku sendiri, apa kau mengerti!!" suara Evan memelan dan lirih.


Sekali lagi air mata Evan kembali jatuh di pipi mulus Araya. "Aku tidak ingin pergi. Tolong jangan mengusir ku lagi" tangan mungil Araya mendarat di bibir seksi Evan. "Biar kan aku mengobati luka anda terlebih dahulu" suara Araya seperti obat bagi Evan untuk memenangkan amarah nya.


Evan membisu saat mendengar kata-kata lantang istri nakal nya yang tidak perna takut pada Evan."Mengapa kau pergi bersama pria lain tanpa seijin ku" guman Evan namun masih terdengar jelas oleh Araya.


Evan yang masih berada di atas tubuh mungil istri nya dengan kesadaran yang penuh mengucapkan kalimat yang membuat jantung Araya berdetak begitu cepat.


Mata Araya terbelalak. "Anda cemburu?"


Tes

__ADS_1


Tes


Di saat yang bersamaan hujan turun sangat deras dengan angin kencang membuat kedua insan yang masih berada dalam posisi intim itu saling tatap dalam diam.


Beberapa saat kemudian Evan berdiri dan turun dari ranjang tanpa menjawab pertanyaan Araya. "Keluar dari kamar ku" kata Evan sembari berdiri di beranda kamar membelakangi Araya yang masih berbaring di atas kasur.


Araya bangun lalu duduk di sisi ranjang. "Bagaimana kalau aku tidak mau"


"Pergi" tanpa menatap Araya Evan terus saja mengusir Araya. "Pergilah dari hidup ku jika kau ingin bahagia" suara Evan bergetar saat mengatakan kalimat ini dengan rasa sesak di dada nya.


"Aku tidak akan pergi tanpa anda" Araya maju mendekati Evan lalu memeluk tubuh Evan dari belakang. "Mengapa kita tidak pergi sama-sama saja dan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita" Araya menangis di balik punggung Evan seperti anak kecil. "Anda adalah sumber kebahagian ku" lanjut Araya dengan terisak.


"Dimana pun aku, aku tidak punya tempat bahkan di keluarga ku sendiri"


"Tapi anda punya tempat di hati ku. Apa itu tidak cukup untuk pergi dari sini?"


Evan menepis tangan Araya yang memeluk pinggang nya dari belakang lalu memojok kan Araya di tembok di dalam kungkungan nya. "Berhentilah berpura pura perduli pada ku! Ini melukai ku Araya. Aku tidak bisa tidur karena terus mengingat mu. Mengapa kau melakukan ini" Evan mengatakan ini dengan sangat lembut untuk pertama kalinya.


"Aku..."


"Tuan aku..."


"Kau menang Araya, kau berhasil menghancurkan hati ku yang ..."


"Aku mencintai anda" dengan tangisan yang sama dengan suara lantang Araya mengatakan perasaan nya pada Evan "Aku memang terpaksa menikah dengan anda tapi siapa sangka jika aku jatuh cinta pada anda"


Tes


Tes


Hujan dan gemuruh bersahut sahutan setelah Araya mengatakan ini. Evan yang tadi nya sangat emosional kini melemah sendiri lalu menatap wajah Araya dengan tatapan sendu.


"Katakan sekali lagi" lirih Evan.

__ADS_1


"Aku mencintai anda"


Cup


Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir mungil Araya, Evan lalu memegang pinggul sang istri memainkan insting buasnya dan memainkan bibir Araya dengan cara yang seksi.


Araya tidak melakukan perlawanan, dia memejam kan mata nya menikmati sentuhan Evan. Beberapa detik kemudin Evan melepas ciuman nya dan melihat Araya yang sangat pasrah. "Katakan sekali lagi" nafas hangat Evan menyeruak di leher Araya yang dingin.


Dengan spontan Araya membuka mata nya. "Aku mencintai anda" tangan Araya berpegangan kokoh di pundak Evan yang sedang menunduk menikmati tengkuk sang istri.


"Sekali lagi" Evan masih menikmati permainan nya saat ini.


"Aku mencintai anda.. Aahh" tanpa sadar sebuah ******* kecil lolos di bibir mungil Araya.


Evan melepas permainan nya lalu menatap wajah Araya dengan tersenyum tipis. "Aku sangat mencintai mu Araya, bersumpah lah kau tidak akan perna meninggalkan ku"


Dengan cepat Araya meraih wajah Evan. "Aku tidak akan perna meninggalkan anda" dengan agresif Araya memberikan ciuman di bibir Evan berkali kali.


Evan tersenyum lalu menggendong tubuh istri kecil nya ke atas ranjang dan merebahkan nya dengan sangat hati-hati. "Araya boleh aku.."


"Anda suami ku, mengapa anda menahan diri?"


Setelah mendapat izin dari Araya, Evan tersenyum lalu meletakkan tangan nya di leher Araya dan memberikan ciuman tiga kali lipat lebih sensual dari pada sebelum nya.


"Aahh Eehmm" Araya terus mend*sah di bawah kungkungan Evan yang sedang mencium bibir dan leher nya dengan sangat sensual.


Satu, dua, tiga hingga semua kancing kemeja Evan di lepas oleh Araya dan menampakan dada bidang yang sangat seksi membuat mata Araya terbelalak dengan pipi yang bersemu merah.


Dress indah yang di kenakan oleh Araya di robek oleh Evan hanya dalam satu tarikan tanpa sadar membuat Araya mengaga.


Kini dua bukit yang tidak terlalu besar terpampang nyata di mata Evan membuat Araya sangat malu. "Apakah kau yakin" bisik Evan di telinga Araya sembari menjilat ujung telinga Araya.


Araya mengangguk. "Iya.. Aahhh".

__ADS_1


Setelah medapat jawaban dari Araya, Evan mendarat kan kecupan cukup lama di kening Araya membuat Araya tersenyum bahagia. "Aku sangat mencintai mu" kata Evan setelah lama mengecup kening istri nya lalu kembali mencium bibir Araya dengan lebih bernafsu.


Malam ini di bawah hujan yang deras mereka menikmati dingin nya malam bersama sama dengan menyalurkan rasa cinta mereka berdua.


__ADS_2