Istri Kesayangan Tuan Muda Yuan

Istri Kesayangan Tuan Muda Yuan
Episode 89


__ADS_3

.............


...Kota E sudah di gemparkan kembali dengan berita terbaru dari Tuan Muda Leng, Keluarga itu kini menjadi bahan tertawaan seluruh kota E, Xiao Li juga melihat beritanya di ponsel. Video yang berdurasi beberapa menit itu mencengangkan kota, Dia tersenyum cerah membayangkan betapa malunya sekarang keluarga Leng masih tersisa. Berbagai komentar bermunculan. Xiao Li membacanya dengan penuh minat....


..."Tuan Muda Leng ini, apakah dia seorang idiot,"...


..."Bisakah dia membuat keributan yang lebih malu dari ini,"...


..."Benar-benar sesuatu yang di harapkan dari Tuan Muda Leng, yaitu mempermalukan dirinya sendiri,"...


..."Tidakkah keluarga Leng yang masih tersisa ingin mengubur dirinya,"...


..."Tuan Muda Leng tidak bisa membayar barang yang dia beli, haruskah kita membuat acara donasi,"...


...Semua komentar di penuhi dengan ejekan dan cemoohan, mereka menertawakan kekonyolan Tuan Muda Leng, Dimasa lalu mereka semua tau jika Tuan Muda Leng adalah pria playboy yang kaya raya. Namun sekarang Pria itu tidak lebih dari sekedar lelucon belaka. Dulu banyak para wanita yang mengantri untuknya. Namun sekarang mereka bahkan tidak ingin di sangkut pautkan dengan keluarga Leng. ...


...Xiao Li tersenyum puas dengan berita yang dia baca. Yuan yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat istrinya tersenyum senang dan dia tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya. Yuan menghampiri Xiao Li dan mencium pipinya kemudian dia duduk di tempat tidur dan menempatkannya dalam pangkuannya....


..."Li'er, apa yang membuatmu membuatmu begitu senang,"...


...Xiao Li mencium aroma sabun mandi dari tubuh Yuan, pria ini baru saja selesai mandi dan masih mengenakan kimono mandinya. Xiao Li melihat kimono Yuan yang tersingkap di bagian dadanya dan memperlihatkan dadanya yang bidang. Xiao Li menelan ludah, dada yang terlihat bersinar terpampang jelas di depannya. Meskipun dia bahkan sudah memiliki anak dengan Yuan, namun pesona yang Yuan miliki masih tetap sama. Terlebih pria itu selalu pergi untuk berolahraga. Membuat bentuk tubuhnya tetap bagus dan enak untuk di pandang....


...Yuan menatap mata Xiao Li yang terlihat sedikit malu-malu. Dia melihat wajahnya yang memerah bahkan menyebar hingga ke telinganya. Yuan menahan tawanya yang akan keluar. Xiao Li terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Yuan kemudian mencium bibir Xiao Li....


..."Apa yang kau lihat hingga membuatmu memerah seperti itu,"...


...Xiao Li merasakan malu dan rasa wajahnya terasa panas, dia segera mengalihkan pandangannya....


...Xiao Li menunjukan video yang sedang dia lihat, adegan dimana Tuan Muda Leng yang membuat keributan di sebuah toko, ...


..."Lihatlah, ini benar-benar memalukan. Dia menjadi bahan tertawaan seluruh warga net,"...


...Yuan melihatnya dan kemudian menautkan sebelah alisnya....


..."Tuan Muda Leng ini memiliki selera yang unik, dia menyukai barang-barang mewah namun tidak bisa membayarnya, tidak ada yang lebih idiot dari pada dia,"...


...Xiao Li mengangguk setuju, "Anak tertua Leng benar-benar bisa membuat seluruh kota E mencemoohnya, aku dengar dimasa lalu dia memiliki kredibilitas seorang playboy. Dia lebih sering pergi ke bar dan berfoya-foya. Ck..Ck.. Pantas saja dia melakukan hal seperti ini,"...


...Yuan memperhatikan Xiao Li yang terus mengoceh, bibirnya mengerucut, nafasnya naik turun. Bulu matanya yang panjang berkedip berkali-kali, Hidungnya terlihat mungil dan juga dia memiliki fitur wajah yang lembut....


...Yuan selalu menyukai wajah ini, tidak peduli apapun, itu seperti candu di dalam dirinya. Dia sangat menyukai Xiao Li, kepribadiannya yang hangat dan suaranya yang lembut. Yuan begitu ingin mengurung Xiao Li dalam dekapannya. Dimata Yuan Xiao Li adalah wanita yang tercantik....


..."Li'er aku ingin memakan mu,"...


...Sontak Xiao Li melebarkan matanya dia menatap mata Yuan yang sudah di penuhi kabut gairah. Posisi duduk Xiao Li juga tidak bagus dan itu membangkitkan sesuatu yang ada pada diri Yuan. Yuan tersenyum menyeringai. Dan Xiao Li merasakan bahaya sedang mengancamnya. Alarm di kepalanya berbunyi. Menandakan bahwa dia harus segera melarikan diri....


...Namun Yuan tidak membiarkan itu terjadi, dia mengunci Xiao Li dalam pelukannya. Xiao Li sudah mengetahui apa yang akan selanjutnya terjadi. Dia kemudian berkata dengan suara serak....


..."Yuan,"...


...Yuan yang mendengar suara Xiao Li yang sedikit berat kemudian menatap ke dalam matanya....


..."Ya istriku, aku disini,"...


...Xiao Li kembali berucap...

__ADS_1


..."Yuan,"...


...Yuan semakin tidak sabar....


..."Ya istriku,"...


...Yuan kemudian mendorong tubuh Xiao Li dan membuat Xiao Li berada di bawah kungkungan nya. Yuan tidak membiarkannya merespon dengan keadaan. Segera dia melancarkan aksinya. Dia mencium Xiao Li dengan intens. Ketika Xiao Li membutuhkan oksigen Yuan baru melepaskannya. Hidungnya bersentuhan dengan hidung Xiao Li. Keduanya mengambil nafas dalam-dalam....


...Xiao Li mendorong Yuan agar sedikit menjauh....


..."Besok kau ada rapat penting, sebaiknya kita tidak melakukannya,"...


...Yuan tersenyum mendengar ucapan Xiao Li....


..."Aku bisa menundanya hingga siang,"...


...Xiao Li menjadi gugup, dia kemudian menggeleng...


..."Yuan, aku lelah,"...


...Yuan membelai rambut Xiao Li. dia tersenyum dengan lembut...


..."Kau pasti bisa menahannya. Setelah ini aku akan membiarkanmu beristirahat sepanjang hari,"...


...Xiao Li tidak bisa lagi berkata-kata, dia akhirnya pasrah pada predator di depannya....


...Setelah beberapa saat Xiao Li merasa kekuatannya sudah habis, Yuan seperti binatang buas. Siapa yang tau Yuan yang dingin akan berbeda ketika menyangkut masalah itu. kata-kata 'jangan menilai buku dari sampulnya'. Xiao Li kini setuju dengan itu, termasuk untuk menggambarkan Yuan saat ini....


...Setelah aktifitas bersama Yuan Xiao Li merasa sangat lelah. Perlahan-lahan dia tertidur. ...


...Yuan kemudian keluar dari kamarnya dan mulai turun ke lantai bawah. Dia berjalan ke meja makan dan menatap semua makanan yang sudah di buat Xiao Li, melihatnya membuat perutnya terasa lapar, itu wajar karena dia sudah menghabiskan begitu banyak energi....


...Yuan akhirnya makan sendiri dengan lahap....


..............


Sore Hari


...Langit sudah menunjukkan warna oranye, memberikan pertanda bahwa hari menjelang sore. Yuan menyesap tehnya dan membaca koran dengan serius. Shao Shen juga sudah pulang dari sekolahnya....


...Dia mencari-cari keberadaan Ibunya, Shao Shen mengerutkan keningnya....


..."Ayah, kenapa Ibu tidak terlihat,"...


...Yuan mengalihkan pandangannya dari koran yang sedang dia baca, dia kemudian menatap lekat ke arah putra kesayangannya....


..."Ibumu sedang tidur, dia sangat kelelahan setelah melakukan berbagai macam gerakan olahraga,"...


...Yuan mengatakannya dengan senyum yang terus terpampang di wajahnya. Shao Shen bingung memikirkan 'gerakan olahraga' yang Ayahnya katakan. Apakah Ibunya ikut senam bersama para tetangga. Shao Shen mengangkat sebelah bahunya apapun itu sepertinya itu tidak terlalu bagus....


...Yuan kemudian menaruh koran yang berada di tangannya. Dan menemani Shao Shen untuk bermain. Bermain yang di maksud adalah membaca tumpukan buku yang cukup tebal....


...Shao Shen sangat menyukai wangi buku, itu membuatnya bersemangat dan jantungnya berpacu. Semua buku adalah ilmu dia tidak ingin menyia-nyiakan ilmu yang tersuguh di hadapannya. Dia membaca dengan serius. Sampai sebuah suara cempreng memasuki gendang telinganya....


..."Sayang,"...

__ADS_1


...Panggilan yang sudah beberapa Minggu ini dia dengar, tanpa menoleh pun dia tau dari mana sumber suara itu berasal. Meskipun bukan pertama kalinya Shao Shen tetap tidak merasa tidak nyaman dengan panggilan barunya....


...Yuan menatap cerah ke arah menantu perempuannya. Hari ini dia memakai baju berwarna merah dan juga sepatu merah, semuanya merah benar-benar merah. Tapi anehnya semua terlihat cocok dengannya....


...Chu Ran berlari ke arah Shao Shen, tidak lupa dia menyapa Yuan....


..."Halo, Paman Yuan,"...


...Yuan mengangguk sebagai balasan. Chu Ran terlihat cantik dengan pakaian merahnya. hidung mungilnya sedikit kemerahan mungkin karena udara yang sedikit dingin....


...Shao Shen tidak memperdulikan Chu Ran yang kini sudah duduk di sebelahnya. Dia seperti ingin muntah darah. Setiap hari dia selalu bertemu Chu Ran, dari dia berangkat sekolah di pagi hari hingga dia pulang sekolah, dan setibanya di rumah dia masih harus bertemu Chu Ran. Tidakkah dunia ini begitu kejam. Shao Shen mengeluh dalam hatinya....


...Chu Ran menatap buku yang sedang di pegang oleh Shao Shen....


..."Sayang, sedang membaca buku apa,"...


...Shao Shen seperti ingin melarikan diri. Kenapa Cru Ran selalu memanggilnya seperti itu, tidakkah dia tau arti dari panggilan itu....


..."Aku sudah mengatakan jangan panggil aku seperti itu,"...


...Chu Ran mengerucutkan bibirnya....


..."Tapi kan ini di rumah bukan di sekolah, Bibi Xiao mengatakan dirumah pacaran tidak di larang,"...


...Shao Shen tidak bisa berkata-kata dia merasa malu karena Ayahnya berada disini....


...Yuan tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia tidak menyangka jika Shen kecilnya akan kelabakan menghadapi seorang gadis. Tidakkah itu terlihat seperti dirinya. Dia juga tidak pandai menghadapi gadis-gadis. Dimasa lalu ketika dia di universitas banyak gadis-gadis yang mengejarnya tapi dia hanya mengabaikannya. Lebih parahnya jika gadis itu menggangu dia akan menyingkirkannya....


...Namun sekarang dia mengerti perasaan suka dan sejenisnya. Ketika pertama kali dia melihat Xiao Li, jantungnya berdegup dengan kencang, awalnya dia tidak mengerti semua itu, namun wajah Xiao Li terus terbayang di pikirannya. Dan itu sangat menggangunya. Setelah beberapa lama dia akhirnya mengerti dia menyukai gadis itu, tidak, dia mencintai Xiao Li....


...Shao Shen menatap Ayahnya yang masih terkubur dalam lamunannya. Dia hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Sekarang yang lebih menjengkelkan ada di sebelahnya, yaitu Chu Ran yang terus mengoceh sepanjang waktu. Dia tidak mengerti kenapa para gadis sering sekali mengoceh, mereka bahkan mengatakan hal-hal yang tidak penting dan tidak berguna....


...Shao Shen kemudian pergi ke kamarnya dan disusul oleh Chu Ran. Chu Ran terus mengekor dan tidak ingin terpisahkan dari Shao Shen....


...Yuan melihat kepergian mereka dengan senyum sumringah. Kemudian Yuan melangkah memasuki ruang kerjanya. Meskipun dia tidak pergi ke kantor, namun bukan berarti pekerjaannya terbengkalai. Sisa di kantor dia serahkan kepada Sekretaris Mo. Meskipun Sekretaris Mo menggerutu dengan kesal namun dia tetap menerima perintahnya. ...


...Yuan juga melihat berita yang baru-baru ini terjadi. Dan dia tersenyum puas. Setelah kehancuran deretan keluarga kaya, Yuan yakin ini akan cukup memperingatkan keluarga kaya lainnya agar mereka tidak menyinggung dia dan keluarganya. Mereka yang memiliki niat tersembunyi akan memikirkan dua kali sebelum berani menyerangnya....


..............


...Sementara itu Tetua Leng sangat marah dengan cucu pertamanya. Jadi ketika Cucu pertamanya pulang dia langsung memanggilnya untuk menghadapnya di ruang kerjanya. ...


...Tuan Muda Leng yang mendapatkan perintah dari kakeknya segera menghampirinya. Dia mengetuk pintu kemudian memasuki ruangan. Dia melihat kakeknya duduk dengan aura wibawanya. Tuan Muda Leng menjadi sedikit waspada terlebih dia baru saja melakukan kekacauan. Dan Kakeknya pasti sudah melihat berita itu. Dia mengutuk siapapun yang mengambil video saat dia menyerang si kasir. ...


...Benar saja Tuan Tua Leng sangat marah bahkan urat sarafnya terlihat jelas. ...


..."Kau, ******** idiot, apa yang kau lakukan. Apa kau ingin aku mati dengan cepat. Kau membuat keributan dan semua orang sudah melihatnya, kau benar-benar tidak memberiku wajah,"...


...Tuan Muda Leng membela dirinya, dengan nada tinggi dia berucap....


..."Itu karena kasir itu yang begitu bodoh, dia meremehkan keluarga Leng," ...


...Tuan Tua Leng memijit pelipisnya, dia menahan amarahnya. ...


..."Aku memberimu uang beberapa ratus ribu, tapi kau mengabiskannya dalam satu kali transaksi. Kasir itu tidak salah, uangmu memang sudah habis,"...

__ADS_1


...Tuan Muda Leng yang mendengar penuturan kakeknya menjadi semakin kesal. Dia tau tapi dia tidak ingin mengakui. Dia adalah Tuan Muda yang selalu penuh kemewahan namun tiba-tiba dia jatuh dalam kemiskinan. Bagaimana pun dia tidak bisa menerima, setidaknya harga dirinya masih sangat tinggi. Dan tidak membiarkan orang-orang menginjak harga dirinya. ...


__ADS_2