Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 11


__ADS_3

Bahkan setelah Andrea bersikap jujur dan menceritakan masalahnya. Pria bule dengan wajah tampan di hadapannya tersebut masih terdiam, enggan memberikan respon. Mau tidak mau Andrea merasa agak kesal dengan keheningan yang tidak menyenangkan tersebut. Dia merasa pria itu bersikap terlalu sombong.


Angin pantai berhembus menerbangkan helai rambut Andrea. Kedua tangan wanita itu terlipat di depan dada, sementara dagunya terangkat, menonjolkan fitur wajahnya yang cantik dan menawan. Beberapa pria yang lewat tidak bisa menahan untuk tidak menoleh dan menatap kembali padanya. Wanita itu tampak tidak terpengaruh seolah hal tersebut sudah biasa terjadi. “Kamu harus tahu, kamu tidak akan mendapat pekerjaan menarik dengan bayaran besar seperti ini di lain kesempatan,” sindirnya dengan suara yang lembut, membuatnya terdengar cukup lucu.


Sebelah alis Aaron terangkat, menatap gerak-gerik Andrea yang menarik. Selain cantik, wanita yang muncul di hadapannya tersebut memiliki temperamen sombong yang lucu dan menggemaskan.


“Andrea,” panggil Kharisma dengan suara lirih, berusaha mengingatkan sahabatnya. Tetap saja, apa pun alasannya dia merasa bukan hal yang baik untuk bekerja sama dengan orang asing dengan urusan yang begitu pribadi. Dia khawatir kalau pria berdarah campuran tersebut bukan orang yang baik.


“Tenang, Kharisma. Aku tahu apa yang sedang kulakukan,” potong Andrea, balas menatap sahabatnya dengan pandangan menenangkan.


Kharisma menghela napas, menyerah. Jika Andrea sudah memutuskan, sulit bagi siapa pun untuk menghalanginya. “Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu di tempat lain.” Dia meninggalkan keduanya untuk berbicara dengan lebih privat.


“Aku akan memperjelasnya, kesepakatan ini akan selesai setelah aku melahirkan dan mendapatkan kembali hakku. Sementara itu, kamu akan mendapatkan bayaran besar yang kujanjikan.” Andrea mengerucutkan bibirnya, kembali menatap pria di hadapannya setelah kepergian Kharisma. Jika pria itu masih diam saja, bahkan setelah dia menjelaskannya, dia tidak akan bersikap sabar lagi.

__ADS_1


Aaron menatap dalam-dalam pada wanita asing di hadapannya yang tiba-tiba menawarinya menjadi suami bayaran, hal yang tak pernah dia bayangkan akan terjadi dalam hidupnya. Sebelah sudut bibirnya sedikit terangkat saat dia bertanya perlahan, “Apakah kau siap dengan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi?”


Andrea merasakan perasaan tidak nyaman saat bertemu dengan sorot misterius yang terpancar dari kedua mata pria tersebut. Dia mengenyahkan segera perasaan aneh yang tiba-tiba muncul lalu mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Aku sangat siap,” jawabnya tanpa keraguan. Dia selalu melakukan apa yang dia katakan. Apalagi ini berkaitan dengan kekayaan warisan ibunya. Dia tidak akan membiarkan pria tua dan kedua istrinya itu terus menggunakan uang ibunya dengan semena-mena.


Sudah cukup selama ini dia memberi mereka ruang selama dirinya di Inggris. Setelah kembali, Andrea tentu saja tidak akan diam saja melihat ketiganya berbahagia dengan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Itu adalah hal paling penting saat ini yang harus dia lakukan, jadi, kesepakatan ini tidak bisa dianggap enteng. Entah kenapa dia merasa yakin dengan pria di hadapannya, bukan hanya tentang penampilannya yang sangat tampan dan menarik. Harus Andrea akui, pria itu memiliki rasa godaan dan stabilitas di saat yang sama. Dia tahu kali ini dia melakukan segalanya terlalu tergesa-gesa. Ini seperti pertaruhan. Jika beruntung, dia bisa mendapatkan segalanya. Jika tidak, Andrea hanya berharap itu tidak akan menjadi yang terburuk.


“Baiklah. Aku setuju,” ucap pria berdarah campuran tersebut, Aaron, sambil mengangkat sebelah tangannya, menawari Andrea untuk saling berjabat tangan.


Andrea menatap sebentar pada tangan besar nan kuat yang terulur padanya sebelum menyambut dan menggenggamnya dengan tangan putih kecil miliknya. Kekuatan yang membungkus tangan kecilnya membuat wanita itu merasa aneh. “Kerja sama kita disepakati,” balasnya menyembunyikan perasaan senang yang muncul. Pria bule tersebut menatapnya dengan senyum menawan, sementara dia, yang berdiri di hadapannya, balas tersenyum yang tampak benar-benar dipaksakan.


“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Aaron, yang dengan cepat menerima situasi kerja sama di antara mereka.


Andrea menundukkan kepalanya. Ekspresinya berubah serius. Bukannya pertama kali gagasan untuk mencari suami bayaran ini muncul. Dia sudah memikirkan banyak skenario, dari yang biasa hingga dramatis. Kali ini dia akan benar-benar menggunakannya. “Itu sederhana,” jawabnya sambil mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Aaron tidak pernah melepas pandangannya dari setiap gerak maupun perubahan ekspresi di wajah cantik Andrea. Dia bahkan mengamati kerutan halus di dahi mulus wanita tersebut saat sedang berpikir dengan sungguh-sungguh. Ketika mata mereka bertemu, ada perasaan meletup ringan yang tidak dia sadari.


“Aku akan membawamu ke keluargaku sebagai kekasihku. Kita harus bisa meyakinkan semua orang. Setelah berhasil, kau akan berpura-pura melamarku. Lalu kita menikah dan kemudian aku akan hamil. Hanya itu,” jelas Andrea panjang lebar. “Tapi, kita harus melakukannya dengan benar. Tidak boleh ada celah untuk kecurigaan. Mengerti?”


“Itu saja?” tanya Aaron dengan nada suara enteng.


Andrea sedikit mendengus dan mengangguk sebagai jawaban positif.


“Itu adalah hal yang mudah. Tidak akan ada kecurigaan sama sekali kalau kau mau bekerja sama denganku sepenuhnya,” kata Aaron yang berada di hadapan Andrea sambil menyunggingkan senyum menawan lainnya, yang lagi-lagi membawa perasaan misterius.


Kening Andrea sedikit berkerut. “Tentu saja aku akan bekerja sama!” jawabnya dengan ketus. Dia benci bagaimana senyum kurang ajar pria tersebut bisa menjadi begitu menarik di matanya.


Aaron terkekeh perlahan. “Tapi, sebelum kita memulai sandiwara itu, aku harus kembali terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusanku.”

__ADS_1


“Baiklah. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau,” jawab Andrea dengan ketidakpedulian dalam nada suaranya. Dia hanya peduli bagaimana kesepakatan mereka berjalan dengan lancar. Lagi pula, dia bukan orang yang terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain.


Andrea dan Aaron segera berpisah setelah meninggalkan nama dan kontak untuk satu sama lain..


__ADS_2