
Anie bertanya-tanya dari mana Leah mendapatkan kepercayaan diri hanya dalam satu malam saja?
Jangan kira Anie tidak tahu kalau Leah terlihat tegang beberapa hari terakhir ini. Leah tahu-tahu demam setelah menerima panggilan dari seseorang. Anie menduga kalau si penelpon seseorang yang ditakuti oleh Leah. Tapi, siapa orang itu rupanya? Setahu Anie, Leah cuma takut kepada Aron. Sekali pun Leah tengah berusaha keras untuk berontak kepada suami mereka, nyatanya Leah tetap takut kepada Aron.
"Jika benar orang itu adalah Aron, apa yang dikatakan Aron kepada Leah, sampai Leah tegang begitu? Tapi ... Leah kelihatan baik-baik saja hari ini, kok. Apa cuma perasaan aku saja, ya? Aku terlalu khawatir dengan Leah beberapa hari terakhir ini."
"Kenapa makanannya kau aduk-aduk saja? Apa makanannya tidak cocok di lidah kau? Kau bisa katakan itu kepada chef, agar chef membuatkan makanan yang baru untuk kau." Leah tiba-tiba bersuara. Membuyarkan lamunan Anie.
"Makanannya enak, kok." Anie dengan cepat ia sadar. "Leah, aku ingin bertanya pada kau. Tapi ..." Anie menggosok belakang lehernya.
"Apa? Jangan ragu. Katakan saja, Anie." Leah menyuapkan daging ke dalam mulutnya.
"Kau terlihat baik-baik saja. Padahal kemarin ...,"
"Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Bukannya kau harusnya senang karena aku tidak sakit lagi?" Leah menunjukkan senyum angkuh. "Aku sudah jauh lebih baik. Sekarang aku sudah siap bertarung," ucap Leah ambigu.
"Bertarung? Maksud kau apa, Leah?" tanya Anie mendesak, perempuan itu sangat penasaran sekali bagaimana bisa Leah berubah hanya dalam waktu singkat.
"Kau tidak perlu tahu, Anie." Leah meneguk air putihnya. "Kau hanya perlu duduk, dan melihat aku berjuang untuk kedudukan kita berdua."
"Hah?" Anie membeo.
***
Tangan Andrea dengan cepat memutar keran westafel. Lagi-lagi Andrea muntah—hampir setiap hari saat bangun di pagi hari. Tidak jarang Aron sampai bangun karena suara Andrea yang cukup keras.
"Andrea?" panggil Aron menyibak selimutnya.
Pria itu lantas melompat turun dari ranjang, menyusul sang istri ke kamar mandi. Andrea membiarkan pintunya terbuka, karena ia tidak sempat menutupnya akibat terburu ingin muntah.
Aron berdiri di belakang Andrea, memijat belakang leher Andrea seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini saat istrinya muntah-muntah.
__ADS_1
"Apakah sudah lebih baik, Andrea?" tanya Aron menatap Andrea dari pantulan cermin di depannya.
Pria itu menarik tissue, menyeka air di sudut-sudut bibir istrinya. Andrea menarik tissue dari tangan suaminya. Ia menyekanya sendiri, memejamkan mata menahan diri yang ingin muntah lagi.
"Aku buatkan kamu teh hangat, mau, ya?" Aron menawari Andrea. "Sekalian aku buatkan sesuatu agar perut kamu terasa hangat."
Andrea mengangguk saja. Ia memang ingin makan makanan yang bisa membuat perutnya lebih tenang. Andrea mulai lelah karena semakin hari, Andrea semakin sering muntah-muntah. Tidak cukup di pagi hari. Terkadang saat Andrea tanpa sengaja melihat makanan, maka perut Andrea seperti diaduk-aduk. Alhasil, Andrea tidak bisa menahan diri agar tidak muntah.
Tubuh Andrea sangat kelas karena energinya telah dikuras sehabis memuntahkan isi perutnya. Kedua kaki Andrea bahkan tidak bisa berdiri lebih lama.
"Aku bisa jalan sendiri. Kau bisa pergi ke dapur untuk membuatkan aku teh hangat," kata Andrea mengusir Aron dari kamar mandi.
"Aku bantu kau berbaring dulu." Aron akan meraih tangan Andrea, namun perempuan itu tetap saja menolak. "Kau bisa saja pingsan, Andrea. Ayolah, aku hanya ingin membantu kau," ujar Aron.
"Tidak. Aku bisa—"
Sebelum Andrea selesai bicara, tubuhnya benar-benar oleng. Beruntung, Aron cepat tanggap dalam meraih tubuh istrinya.
"Andrea ... buka mata kau. Andrea? Kau dengar suaraku, kan?!" seru Aron panik setengah mati.
***
"Tepatnya saya kurang tahu. Tapi semakin hari, istri saya semakin sering muntah. Apa lagi saat bangun tidur, istri saya akan muntah sampai badannya lemas."
Aron menerangkan kondisi kesehatan Andrea yang ia rasa menurun. Aron khawatir kalau Andrea sakit sesuatu yang parah, atau malah susah disembuhkan.
"Bagaimana dengan nafsu makan istri Anda, Pak Aron?" tanya dokter lagi.
"Tidak terlalu, dok," jawab Aron. "Justru setelah Andrea sering muntah tanpa sebab, selera makannya pun menurun. Hanya makanan tertentu saja yang mau Andrea makan. Seperti contohnya, mi instan. Kalau bisa dia makan mi instan setiap hari, Andrea pasti akan makan mi terus. Tapi saya selalu melarang Andrea."
"Mm," gumam dokter manggut-manggut. "Dilihat dari kondisi istri Pak Aron, serta gejala yang dialami Bu Andrea, sepertinya kalian tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Maksud Anda, dok?" tanya Aron bingung.
"Kemungkinan, istri Anda sedang mengadung. Karena dari gejala, serta tanda-tanda yang Bu Andrea alami, Bu Andrea bisa saja hamil ..."
"Hamil?" Aron membeku.
"Ini masih kemungkinan." Dokter kemudian menambahkan, "Agar bisa memastikan sekali lagi, lebih baik Anda bawa Bu Diandra ke dokter kandungan, Pak," saran dokter.
Aron terpaku di tempatnya. Entah ia harus senang atau khawatir jika Andrea sungguhan mengadung darah dagingnya. Tidak, Aron tentu saja senang—karena pada akhirnya ia mendapat keturunan dari salah satu istrinya.
"Ini ada vitamin ingin dikonsumsi Bu Andrea, Pak," ucap dokter. "Tolong perhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi istri Anda, ya. Jangan lupa bawa Bu Andrea ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya."
***
Andrea bangun dengan tubuh yang lebih segar. Ia mengedarkan sepasang matanya ke sekitar kamar. Kala itu Andrea menemukan Aron tengah duduk bersandar ke kepala ranjang.
"Baguslah. Kau sudah bangun," ucap Aron. "Bagaimana tidurmu, Andrea? Kau sudah jauh lebih baik sekarang?" tanyanya.
"Mm, lumayan." Andrea menganggukkan kepalanya. "Ada apa dengan wajahmu? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Andrea heran.
"Ada yang ingin aku sampaikan kepada kau, Andrea," ujarnya. "Aku harap kau tidak akan terkejut setelah mendengarnya." Andrea membuka kedua telinganya lebar-lebar. "Kau ... hamil."
Andrea melebarkan kedua bola matanya tatkala mendengar pernyataan dari Aron baru saja. Andrea sempat linglung, tapi setelah itu Andrea tampak sumringah, menarik napas lega dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Kau serius, Aron? Dari mana kau tahu aku sedang hamil?" Andrea ingin tertawa, akhirnya hari itu pun tiba. Andrea hamil, dan ia dapat terlepas dari Aron.
"Tadi aku panggil dokter untuk memeriksa kau." Aron menengok ke Andrea. "Tapi untuk memastikan apakah kau hamil atau tidak, aku harus membawa kau ke dokter kandungan ..."
"Baiklah. Aku bersedia. Kapan kita akan pergi ke sana?" tanya Andrea antusias.
Aron sudah menebak reaksi Andrea akan seperti apa. Kali ini tebakannya benar. Andrea sontak girang mendengar kemungkinan bahwa dirinya sedang hamil.
__ADS_1
"Kau sangat senang rupanya?" dengus Aron. "Karena hamil darah dagingku?" ejek Aron, membuat Andrea mendengus.
"Tidak, jangan terlalu percaya diri! Aku senang, karena akhirnya misiku akan selesai!" seru Andrea.