Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 31


__ADS_3

"Yakin kau tidak cemburu?" 


Satu pertanyaan Leah dengan nada memanas-manasi Anie terdengar jelas di telinga istri kedua Aron. Anie mendengar percakapan di antara Aron dan Andrea hingga benar-benar selesai. 


Anie belum memberikan reaksi lebih selain diam sambil memasang ekspresi wajah yang datar. Leah mengamati wajah Anie, ia pikir ia perlu mencari seseorang yang mau dengan sukarela berada di kubunya. 


Selama ini, Anie terlalu cuek kepada Aron. Tidak pernah sekali pun Leah melihat Anie layaknya istri yang cemburu suaminya menikah lagi. Semula Anie memang mengeluh kalau ia tidak setuju Aron menikah lagi. Tapi lama-lama Anie kelihatan tidak peduli. Istri kedua Aron lebih mempedulikan uang kiriman suaminya, daripada perhatian Aron kepada mereka. 


Tentu sebagai istri, Anie merasa cemburu kepada Andrea. Ia lebih dulu menikah dengan Aron, namun sepanjang Anie mengabdi kepada pria itu, belum pernah sekali saja Aron bersikap romantis kepada dirinya. Aron sosok yang dingin, bicara hanya seperlunya. 


Leah yakin setelah Anie mendengar percakapan Aron dan Andrea yang berhasil direkam oleh orang suruhannya, Anie tidak akan lagi cuek. Anie dan Leah harus bersatu supaya Aron tahu bahwa mereka berdua ingin mendapat porsi yang adil. Setidaknya, Aron harus pulang satu bulan sekali. Toh, mereka semua masih tinggal di satu negara. 


Anie menarik napas panjang. "Dari mana kau mendapatkan rekaman suara ini? Pasti kau mendapatkannya secara ilegal, kan?" 


Air muka Leah langsung berubah detik itu. Ia pikir Anie akan mencak-mencak seperti reaksi pertamanya. Namun, Anie malah mengajukan pertanyaan yang sulit Leah jawab. 


"Dari mana, Leah?" ulang Anie. Dibanding kemarin Anie kelihatan mengalah, kali ini Anie menunjukkan ketegasannya. "Kau benar-benar susah diberitahu, Leah. Bisa tidak, jangan mencari masalah dengan orang seperti Aron? Kalau dia sampai tahu kau memata-matainya, kau akan menyesal!" peringat Anie tegas.  


"Tidak usah ikut campur! Aku akan bertindak, sesuai caraku. Aku bukan kau yang hanya peduli dengan uang dan harta! Aku tidak butuh itu semua, karena keluargaku sudah kaya! Aku cuma butuh kehadiran Aron di sisi kita. Apa kau tidak ingin tinggal di satu rumah yang sama dengan suamimu?" 


"Tidak juga." Anie tersenyum tipis. "Karena dari awal, aku sudah tahu Aron tidak pernah mencintai salah satu di antara kita. Aku cukup tahu diri. Kalau saja aku punya pilihan menikahi Aron atau pria lain, maka aku akan memilih opsi kedua." 


"Anie, kau sudah—" Satu jari Leah menunjuk ke hidung Anie. Ucapan Leah berhenti, ia menelannya kembali saat ponsel di tangan kanannya berdering. 


Perlahan Leah mengangkat tangannya menatap layar ponsel yang menyala-nyala. Telepon itu berasal dari orang suruhannya. 

__ADS_1


Leah melengos. Ia menempelkan benda persegi itu ke sebelah teliganya. "Halo, ada apa? Atau kau sudah mendapatkan informasi yang aku mau?" 


"Leah ... ini aku." 


Leah terkejut bukan main mendengar suara pria di seberang sana. Tidak, itu bukan suara orang suruhannya. Melainkan suara seseorang yang amat familiar bagi Leah. Itu suara ... 


"Ini aku, Aron. Kau belum lupa dengan suara suami kau sendiri, kan?" 


Deg! 


Kedua bola mata Leah membeliak. Kakinya gemetaran hingga ia hampir ambruk. Ia lantas melirik Anie yang masih duduk di tempatnya dengan reaksi yang cuek. 


*** 


Andrea menerima nasi goreng, beserta uang kembalian yang disodorkan oleh penjual. Sepanjang berjalan kaki menuju ke rumahnya berada, Andrea menggerutu kesal karena merasa dibohongi oleh Aron.  


Andrea dan Aron tidak saling menyapa. Padahal pasangan pengantin baru itu sempat saling melempar tatap. Andrea kemudian meninggalkan Aron sendiri di sofa, ia memilih melangkah ke dapur untuk mengambil alat makannya. 


"Sepertinya pria itu punya dua kepribadian," celetuk Andrea sambil menuang nasi gorengnya ke atas piring. "Kenapa aku bisa menemukan pria aneh seperti Aron, sih? Beruntung, aku tidak akan hidup lama-lama dengannya!" 


Andrea ke luar dapur membawa sepiring nasi goreng, berikut segelas air dingin menuju ke ruang makan. Tidak disangkanya, Aron menyusul Andrea ke ruang makan, lantas mengambil duduk di kursi sebelah Andrea. 


Andrea pura-pura cuek saja. Padahal Aron kini duduk menyamping menghadap ke arah dirinya. 


Aron menyambar kerupuk dari atas nasi goreng istrinya. Andrea mendelik, ia pun protes, "Seharusnya kau belajar sopan santun! Mengambil makanan milik orang lain, sama sekali tidak sopan!" 

__ADS_1


Terdengar suara Aron mengunyah kerupuknya. "Kau bukan orang lain bagiku. Kau kan istriku. Bukankah hal wajar kalau kita saling berbagi makanan?" celetuk Aron. 


Andrea menepuk punggung tangan Aron yang hendak mengambil kerupuknya lagi. Setelahnya ia menjauhkan nasi gorengnya dari jangkauan Aron. "Kalau kau ingin, beli lah sendiri! Jangan mengganggu makanan orang lain!" 


Aron terkekeh. "Dari tadi kau bilang orang lain terus. Atau aku perlu mencium kau sekarang juga supaya ingat status kita apa?" seloroh Aron. 


Andrea mendelik. "Cuma sementara! Setelah aku hamil nanti, aku dan kau akan cerai!" 


Jari-jari Aron menyentuh kancing kemejanya, membukanya satu per satu hingga ke bawah. "Ya sudah, aku ingin menghamili kau sekarang. Tidak masalah, kan?" 


Muncul semburat merah pada kedua pipi Andrea. "Tutup mulut kau! Sekarang aku tahu kau orang seperti apa, Aron!" amuk Andrea. 


"Salahnya di mana? Kita menikah karena kau memang ingin punya keturunan yang bisa menguntungkan dirimu. Kau bukan anak kecil lagi, jadi kau tahu kan bagaimana caranya agar punya anak?" bisik Aron, ia menarik lengan Andrea, kemudian mencium sebelah pipi Andrea. Membuat perempuan itu benar-benar salah tingkah. 


*** 


Dari luar saja, Andrea terkesan tidak menginginkan Aron. Sikap cuek, dingin, yang Andrea tunjukkan kepada Aron selama ini seolah menjadi kamuflase saja. Karena pada faktanya, Andrea tidak bisa menolak sentuhan pria itu. 


Belum sempat Andrea menghabiskan nasi gorengnya, ia sudah digiring oleh Aron menuju ke kamar mereka. Semula Aron hampir menggagahi dirinya di atas meja makan, namun dengan keras Andrea menolak. Ia ingin melakukan intim di tempat yang seharusnya. 


Tubuh polos Andrea yang dibungkus selimut, terbaring lemas di atas ranjang. Andrea membalikkan badan, tidur dengan posisi memunggungi Aron. Perlahan ranjang mereka bergerak, Aron memeluk Andrea begitu posesif. Membuat Andrea semakin bingung dengan pria itu. 


"Kenapa dia jadi menikmati perannya sebagai suami? Apakah kepalanya baru saja terbentur sesuatu, sampai dia hilang ingatan?" batin Andrea heran sendiri. 


Andrea diam saja kala Aron memeluk tubuhnya. Ia bisa mendengar suara napas suaminya. Andrea mencoba memejamkan mata, namun ia tidak bisa. 

__ADS_1


"Kau belum tidur?" tanya Aron sedikit menjauh. Ia menarik Andrea agar menghadap ke arahnya. "Maaf, aku pulang tidak tepat waktu." 


"Aku tidak peduli," sahut Andrea singkat. "Lepaskan. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Sekarang, biarkan aku istirahat. Karena badanku benar-benar lelah!" 


__ADS_2