
Setelah mengobrol via chat, Andrea tahu bahwa jadwal penerbangan meninggalkan Bali miliknya dan Aaron ternyata berada di hari yang sama, tepatnya tiga hari kemudian. Jadi, keduanya sepakat untuk mengambil beberapa gambar yang akan Andrea unggah di akun media sosialnya.
“Kita bisa memulai rencana kita dengan ini, agar orang-orang tidak terlalu curiga,” kata Andrea kembali menjelaskan saat mereka bertemu. Dia pikir akan terlalu mendadak jika dia membawa Aaron pulang ke rumah begitu saja. Jadi, dia memikirkan cara populer di kalangan anak muda untuk mengumumkan dan memamerkan kekasih baru, yaitu media sosial. Pasti berita ini akan menyebar dengan cepat, yang lebih efisien baginya.
Aaron dengan mudah setuju, dan dia sudah mengatakannya dalam obrolan pesan mereka. Saat melihat Andrea kembali menjelaskan seolah takut dirinya salah paham dengan orientasi perilakunya yang murni, mau tak mau dia tersenyum geli. “Baiklah, aku tahu. Tapi, aku punya sebuah permintaan.”
“Apa?” tanya Andrea sedikit kesal saat melihat Aaron menertawakannya. Pria bule itu selalu suka tertawa tiba-tiba di hadapannya, membuatnya merasa seolah menjadi badut yang lucu. Dia tidak suka perasaan tersebut.
“Bisakah kau memblur wajahku sebelum mempostingnya?” tanya Aaron pada Andrea. Dia punya alasan yang tidak bisa dia katakana pada wanita di hadapannya. Tapi, dia yakin Andrea pun tidak akan bertanya saat ini. Dia merasa sedikit demi sedikit mengenal Andrea dari pembicaraan mereka dua hari terakhir.
Dalam hatinya, Andrea memiliki banyak pertanyaan tentang alasan kenapa Aaron menolak untuk memperlihatkan wajahnya di media sosialnya. Tapi, setelah berpikir sebentar memang ada orang yang tidak menyukainya, dan lagi tidak ada kesepakatan ini di antara mereka pada awalnya. Sejujurnya, selama itu tidak mengganggu rencananya, Andrea tidak akan bersikap kejam. “Oke. Kita akan berfoto dari beberapa sudut di mana wajahmu tidak akan terlihat,” jawabnya dengan nada suara enteng.
“Omong-omong, di mana temanmu?” tanya Aaron sedikit penasaran.
“Dia berada di restoran menungguku. Jadi, kita harus cepat. Ayo,” ajak Andrea, berjalan mendahului Aaron, yang segera mengikutinya.
Kemarin, Andrea sudah melihat-lihat referensi foto dengan pacar di sebuah situs gambar online. Jadi, dia dengan mudah mengambil beberapa gambar romantis bersama Aaron dalam waktu singkat. Pada awalnya, dia merasa canggung dan risih. Tapi, seiring berjalannya waktu, kehangatan lengan Aaron yang membungkus pinggangnya tidak terlalu menjijikkan.
__ADS_1
Mereka mengambil beberapa foto berpelukan, bermain pasir, dan masih ada satu foto lagi.
“Bagaimana dengan foto ini?” tanya Andrea sambil memperlihatkan sebuah referensi foto dua anak muda saling berciuman dengan latar belakang pantai.
“Itu bagus.” Aaron menatap Andrea dengan tatapan gelap.
“Kita akan membuatnya seolah-olah berciuman. Bukan benar-benar berciuman!” tegas Andrea, tidak nyaman dengan pandangan Aaron.
“Baiklah,” balas pria tersebut sambil terkekeh.
Mereka meminta bantuan turis lain. Lalu memosisikan diri seperti gambar sebelumnya. Wajah Aaron hanya beberapa senti dan hembusan napas maskulinnya seolah menyelimuti tubuh Andrea. Itu hanya beberapa detik. Tapi, Andrea merasa hampir kehabisan napas.
Andrea merasa sedih saat tiba waktunya bagi dirinya dan Kharisma untuk kembali. Beberapa hari ini adalah hari paling damai dalam hidupnya. Berada di negaranya sendiri bersama sahabat baiknya. Setelah ini, dia harus kembali pada hidupnya yang amat menyedihkan, satu rumah bersama orang-orang yang dia benci. Tapi, dia memang harus kembali. Ada pertempuran yang harus dia menangkan setelah ini.
Di sisi lain, di rumah Andrea, keributan terjadi setelah Andrea mengunggah fotonya dengan Aaron.
“Bagaimana bisa?” Yamini menatap foto di ponselnya beberapa kali, tapi, dia masih merasa terkejut dan kesal. “Kenapa Andrea yang membenci lelaki tiba-tiba punya kekasih?” Perasaan tidak nyaman menjalari tubuhnya. Itu adalah kabar buruk jika Andrea benar-benar menikah dengan seseorang.
__ADS_1
“Ya! Ini tidak masuk akal, kan? Atau jangan-jangan, gadis gila itu hanya berpura-pura?” Mora menanggapi dengan kejam. Dia masih kesal dengan apa yang terjadi di hari kedatangan Andrea waktu itu.
“Pasti!” timpal Yamini, menyetujuinya. “Dia hanya ingin menguasai seluruh harta keluarga! Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi.”
“Kita harus mengatakannya pada Mas Hilmar!”
“Benar. Tunggu sampai dia pulang kerja.”
Saat makan malam di meja makan.
“Mas, kau sudah lihat foto yang diunggah Andrea? Dia bermesraan dengan seorang lelaki asing,” kata Mora saat melihat makanan di piring Hilmar sudah habis.
“Benar, Mas. Tapi, kami curiga jika Andrea cuma pura-pura untuk merebut perusahaan dari tanganmu,” timpal Yamini, mengompori.
Hilmar mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia sudah mendengar hal ini dari sekretarisnya siang tadi. Jujur saja, dia juga memikirkan hal yang sama seperti kedua istrinya. Tapi, dia tahu dia tidak ingin terus berpikir hal semacam itu pada Andrea yang baru saja kembali. “Jangan melakukan apa pun untuk saat ini. Andrea bukan orang yang mudah diprovokasi,” ucapnya dengan suara yang dalam.
Dia tentu saja tidak akan diam saja jika Andrea tiba-tiba bersama orang asing yang datang entah dari mana. Hanya saja saat ini waktunya kurang tepat. Lagi pula ini hanya foto. Dia akan melihat apakah Andrea bisa benar-benar membawa seseorang ke rumah atau itu hanya permainan anak-anak saja untuk membuat resah orang lain.
__ADS_1
Yamini masih ingin menanggapi ketika Mora melemparkan kedipan mata padanya, tanda untuk diam. Yamini mungkin belum mengerti, tapi, Mora menyadari ekspresi di wajah Hilmar saat ini. Dia mengerti suaminya itu pasti juga sedang memikirkan apa yang dilakukan Andrea. Jadi, mereka tidak perlu melakukan apa pun untuk saat ini.