
"Hey, hati-hati dong!"
"Jalan itu pakai mata!"
"Minimal minta maaf! Main pergi aja. Dasar tidak punya sopan santun!"
Andrea membiarkan orang-orang memaki dirinya karena ia mengakui bahwa dirinya memang bersalah.
Bukan maksud Andrea tidak mau meminta maaf ketika dirinya hampir saja menabrak seorang balita berusia dua tahun di lorong dekat rak mi instan. Andrea terlalu panik, ia ingin buru-buru menemukan toilet umum di dalam gedung itu.
Brak!
Andrea mendorong salah satu pintu bilik toilet. Ia tidak peduli kalau pun dirinya akan mendapat umpatan dari orang-orang lagi. Perut Andrea seperti diaduk-aduk, sehingga Andrea tidak sabaran ingin memuntahkan isi dari dalam perutnya.
Andrea menutup pintu bilik toilet yang ia masuki dengan tidak benar. Ia hanya asal menutup pintunya begitu saja tanpa memasang slot kunci.
Perempuan dingin itu duduk berjongkok menghadap ke depan closet, lantas menundukkan kepala mengarah dalam closet, sebelum akhirnya Andrea benar-benar memuntahkannya. Saking kuatnya Andrea muntah, ia sampai terbatuk-batuk, lantas jatuh terduduk di lantai toilet yang setengahnya basah.
"Ahh ..." Andrea menurunkan kedua bahu. Tangannya berpegangan ke bibir closet, ia mencoba mengatur napasnya. "Perutku ..." Bibir Andrea bergerak, tanpa suara. Ia mengusap perutnya perlahan sebelum Andrea beranjak berdiri susah payah.
Ketika Andrea ke luar dari bilik toilet, ia berjalan setengah sempoyongan. Ke arah westafel. Ia membasuh wajahnya, tidak peduli dengan riasan wajahnya yang mungkin saja akan luntur. Tubuh Andrea langsung lemas setelah muntah-muntah tadi.
Andrea mencoba menegakkan punggung. Ditatapnya pantulan wajahnya dari cermin toilet. Seketika wajah Andrea langsung pucat, napasnya terengah-engah.
"Sepertinya aku salah makan ..." Napas Andrea agak berat. "Atau, maag-ku kambuh? Tidak. Rasanya aku makan dengan sangat teratur."
Semenjak Andrea menikah, ia tidak pernah telat makan. Untuk urusan dapur, serta bersih-bersih rumah adalah tugasnya. Walau kadang sesekali Aron membantu dirinya, namun Andrea lebih sering melakukan sendiri.
Entah karena di sini tidak ada yang membuat dirinya kesal, Andrea hidup lebih tenang tanpa adanya manusia penggaggu. Andrea makan dengan teratur, tidur teratur, pikirannya jauh lebih tenang.
"Aku makan apa tadi, ya?" gumam Andrea mencoba mengingatnya.
***
Aron terpaksa menyudahi kegiatan belanja bulanan. Khususnya bahan-bahan makanan di dapur. Aron pergi mencari istrinya yang entah lari ke mana. Namun melihat gerak-gerik Andrea yang lari sembari menyumpal bibirnya dengan satu tangan, membuat Aron berpikir pada satu tempat; toilet.
"Andrea?"
"Aron ..." Andrea menghentikan langkah tepat di ambang lorong toilet. "Apa yang kau lakukan di sini? Tidakkah kau akan dimarahi oleh penjaga toilet," tanyanya.
__ADS_1
Pasalnya, Aron berdiri di depan lorong menuju toilet perempuan. Andrea khawatir Aron akan diteriaki sebagai pria mesum.
"Aku khawatir pada kau," jawab Aron jujur. "Makanya aku menunggu kau di sini. Siapa tahu saja kau membutuhkan bantuan."
"Tidak." Andrea menggelengkan kepala. "Aku masih kuat berjalan walau badanku sangat lemas setelah muntah-muntah."
Aron mengamati wajah Andrea dengan seksama. Sekilas, istrinya kelihatan pucat dan lemas memang. "Kau sedang sakit? Ayo, kita pergi ke rumah sakit terdekat."
Lagi-lagi Andrea menggeleng sebagai penolakan. "Tidak perlu sampai ke dokter segala. Aku istirahat saja di rumah. Nanti lama-lama sembuh juga," tutur Andrea santai.
"Kau yakin? Tapi wajahmu sangat pucat, Andrea," bujuk Aron.
Ada perdebatan di antara Aron dan Andrea di ambang lorong. Aron bersikeras ingin membawa Andrea ke rumah sakit karena istrinya kelihatan kurang sehat. Sedangkan Andrea sendiri, menolak. Ia rasa ia cuma perlu istirahat di rumah saja.
"Jangan paksa aku, Aron," keluh Andrea lama-lama kesal juga. "Aku hanya kurang enak badan saja. Bukan berarti aku sakit parah, sampai harus dibawa ke rumah sakit segala."
"Orang-orang yang datang ke rumah sakit pun karena ingin berobat. Tidak peduli kau sedang sakit parah atau tidak," balas Aron.
Andrea menatap Aron. "Aku cuma ingin pulang." Perempuan itu menegaskan. Sebelum ia dan Aron akan bertengkar di depan umum, Andrea memilih meninggalkan Aron di sana.
***
"Bagaimana dengan perut kau? Masih terasa mual?" tanya Aron perhatian. Ia meletakkan secangkir teh ke atas meja nakas.
"Perutku baik-baik saja. Hanya saja rasanya seperti diaduk-aduk dari dalam." Andrea menggoyangkan lehernya. "Sekarang badanku rasanya lemas sekali," keluh Andrea.
Aron secara mendadak memajukan letak duduknya ke dekat Andrea. Sebelah tangan Aron diluruskan menyentuh kening Andrea. Aron lantas bergumam, "Lumayan hangat ..."
Andrea diam saja ketika Aron memeriksa.
"Aku panggilkan dokter, ya? Kau perlu diperiksa oleh ahlinya. Jangan asal membuat diagnosa sendiri kalau kau masuk angin," celetuk Aron.
"Kau, keluarlah. Aku mau isyirahat," usir Andrea mengibaskan tangannya ke udara.
"Kenapa aku harus pergi dari kamarku sendiri?" Aron menaikan sebelah alisnya. Ia lantas merangkak naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Andrea, lantas memeluk perempuan itu.
"Aron, apa yang kau lakukan!" amuk Andrea, ia mencoba memberontak.
"Memelukmu," bisik Aron.
__ADS_1
"Lepaskan!"
"Tidak mau." Aron semakin merapatkan tubuhnya ke Andrea. "Biasanya, orang yang sakit butuh dimanja oleh pasangannya. Maka dari itu aku ingin memeluk kau seharian ..."
Andrea menyikut lengan Aron. "Tapi aku tidak ingin dimanja oleh kau! Aron, lepaskan!"
Aron sama sekali tidak mendengarkan omelan Andrea. Pria itu seolah menulikan kedua telinganya. Tetap memeluk Andrea, walau perempuan itu ingin melepaskannya.
Lama-lama Andrea lelah juga. Ia pun lantas membiarkan Aron memeluk dirinya di atas ranjang. Sayup-sayup Andrea merasakan kantuk, matanya terasa berat untuk ia buka lebih lebar.
"Kau tidur?" bisik Aron di telinga Andrea.
"Sedikit lagi," jawab Andrea dengan mata yang memejam.
Aron mencium puncak kepala Andrea. "Selamat tidur," ucap Aron, menarik kepalanya menjauh dari wajah Andrea.
***
Andrea terbangun di tengah malam. Perlahan ia melepaskan kedua tangan Aron di perutnya. Dengan hati-hati perempuan itu turun dari ranjang, hendak ke luar kamar.
"Tiba-tiba aku ingin makan mi kuah," ujar Andrea mengikat rambutnya ke atas. "Aku harap di dapur ada sisa stock mi instan," gumamnya.
Bak menemukan harta karun, Andrea senang bukan main kala menemukan satu buah stock sisa mi instan di lemari dapur.
"Sebagai pelengkap, aku butuh cabai dan sayuran." Andrea mengeluarkan kedua bahan tersebut dari kulkasnya.
Air liur Andrea hampir saja menetes, hanya karena membayangkan mi kuah-nya telah matang. Entah kenapa Andrea sangat ingin makan mi instan saat bangun tidur tadi.
Andrea meletakkan satu buah mangkuk kosong ke atas meja dapur. Ia menuang semua bumbu mi instan ke dalamnya.
Saat mi-nya hampir matang, seseorang tengah mengintip di ambang pintu. Kedua tangan pria itu terlipat, lantas menggelengkan kepalanya.
"Kau memang keras kepala," sindir Aron.
"Aron? Kenapa kau di sini?" tanya Andrea.
"Aku sedang mencari istriku yang tiba-tiba kabur," jawab Aron.
"Siapa yang kabur? Aku lapar! Aku ingin makan mi instan. Makanya aku membuatnya," bela Andrea.
__ADS_1