Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 15


__ADS_3

Baik Aron maupun Andrea tidak berniat untuk menunda-nunda waktu pernikahan mereka. Jadi, di gazebo mereka mengobrol cukup lama hingga matahari semakin condong kea rah barat, Bersiap kembali ke peraduan. Mereka mengobrolkan tentang beberapa detail dan trik dalam pernikahan mereka sehingga tidak ada yang akan meragukan pernikahan mereka.


Seorang pelayan wanita paruh baya mendekat ketika pembicaraan mereka berada di akhir. “Non, Nyonya Mora mengundang ke dalam untuk minum the sore bersama,” ucapnya sambil membungkuk dengan hormat. Tidak ada yang tidak tahu di rumah ini terkait dengan warisan almarhum Ibu Andrea. Semua orang percaya bahwa cepat atau lambat Andrea akan menjadi penguasa rumah dan dia tidak mudah dipusingkan. Jadi, sejak awal para pelayan tidak pernah berani bersikap kurang ajar kepadanya.


Andrea mencibir. Dia agak penasaran dengan pemikiran wanita-wanita picik itu. Apa mereka sangat penasaran dengan apa yang sedang dia dan Aron bicarakan? Atau mereka masih merencanakan untuk mencari celah di antara hubungannya, yang mereka harapkan palsu? Yang lebih ekstrem, mereka mungkin sedang mulai menyusun rencana untuk membuat hubungan mereka segera berakhir?


“Tidak perlu. Aron akan segera pulang,” jawab Andrea dengan nada suara dingin. Dia lebih baik tidur dari pada harus menanggapi omongan tidak penting mereka.


“Baik, Nona Andrea,” jawab pelayan tersebut, segera mengundurkan diri. Semua orang tahu betapa besar kebencian yang Andrea miliki terhadap keluarganya. Dia cukup sial karena diperintah Mora untuk mendatangi Andrea. Untungnya, tidak ada yang terjadi selain penolakan dingin.


“Jadi, kamu mengusirku? Bagaimana kalau aku justru masih ingin berada di sini?” tanya Aron sambil tersenyum main-main, menatap Andrea dengan menggoda.


Andrea melotot. Suasana hatinya mendadak anjlok karena nama Mora disebutkan. “Pembicaraan kita sudah selesai, jadi, apa lagi yang akan kamu lakukan di sini? Lagipula tidak akan ada yang baik jika berhubungan dengan para monster itu,” tanyanya dengan dagu terangkat.


"Jangan katakan kau cemb–" Andrea dengan cepat menutup mulut Aron, membuat tubuh keduanya nyaris menempel dengan tangan Andrea yang berada di mulut Aron. Melihat senyum menyeringai yang terlihat dari raut wajah Aron, Andrea menjadi salah tingkah dan segera menjauh dari Aron. "Pulanglah!" ketusnya.

__ADS_1


“Dasar kacang lupa kulit,” ucap Aron sambil mengusap rambut gelap Andrea, membuatnya berantakan. Pemilik rambut segera menyingkirkan tangannya dengan kasar dan melindungi kepalanya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Andrea dengan marah. Dia segera berdiri dan mencoba membalas Aron. Tapi kedua tangan Aron bertindak cepat, memegang kedua lengannya. Perbedaan kekuatan yang terasa membuat gerakan Andrea yang emosi segera diperkuat. Kehilangan keseimbangan, Aron jatuh terbaring ke belakang dengan Andrea yang berada di atasnya. Mereka berdua kembali saling menatap dan waktu seolah berhenti.


Aron menatap bibir merah tersebut. Terlihat manis. Dia memejamkan mata dan segera bangkit sambil memeluk pinggang Andrea, menyeimbangkannya. Ini bukan waktu yang tepat jadi dia dengan cepat mengendalikan dirinya.


Pipi Andrea memerah dan dia tidak berani metapa pria campuran di sebelahnya. Hampir saja, nalurinya menuntun untuk mendekatkan bibirnya pada milik Aron. Dia beruntung karena pria tersebut segera mengambil tindakan di tempat pertama.


Aron berdehem, mencoba meredakan ketegangan penuh godaan di antara mereka. “Jadi, aku akan pulang dulu dan segera menyiapkan segalanya, jangan khawatir. Aku bisa menjamin tidak akan ada kegagalan dalam rencana kita,” ucapnya sambil tersenyum pada Andrea.


Andrea tiba-tiba merasa rumit. Sepertinya Aron lebih mampu dalam hal ini dibanding dirinya, bos nyata di antara kerja sama mereka. Dia merasa sangat beruntung saat ini. “Terima kasih banyak, Aron,” katanya dengan suara perlahan. Dia memang sombong, tapi, dia tahu kapan harus berterima kasih dan meminta maaf kepada orang lain, tentu saja pengecualian orang-orang yang dia benci.


Setelah kepergian Aron, seorang pelayan lain kembali muncul di hadapan Andrea, menundanya kembali ke kamar. “Ada apa?” tanyanya dengan tangan berlipat di depan dada. Jujur dia sangat lelah. Barusan dia membicarakan terlalu banyak hal dengan Aron dan otaknya lelah berpikir.


“Tuan Hilmar dan kedua nyonya memanggil Nona di ruang keluarga.” Pelayan itu menundukkan kepalanya, ketakutan karena ketidakramahan Andrea.

__ADS_1


Andrea berdecak kesal. Dia memikirkannya sebentar, toh, dia dan Aron akan menikah. Jadi, masalah-masalah ini harus segera diselesaikan. Langkahnya berubah arab menuju ruang keluarga. Meskipun tidak menyenangkan untuk melihat wajah orang-orang itu, saat ini dia hanya bisa menahannya.


“Ada apa?” tanyanya masih berdiri sambil menatap ketiga orang yang sudah duduk bersebelahan dan menatap dirinya seolah siap untuk menginterogasi seorang penjahat.


“Andrea, kami merasa hubunganmu dengan Aron terlalu tiba-tiba dan kami merasa khawatir,” jawab Hilmar mencoba memulai percakapan yang tenang di antara mereka. Dia tahu putri sulungnya penuh temperamen dan sangat mudah marah, apalagi sejak kematian Sara, ibu Andrea, dan pernikahannya dengan istri-istri barunya.


“Ya, kami sangat mengkhawatirkan mu, Andrea,” timpal Yamini dengan raut kesedihan yang dibuat-buat.


“Kekhawatiran kalian tidak diperlukan. Semuanya terjadi seperti apa yang dikatakan Aron. Kami memang menyembunyikan hubungan kami sebelumnya. Dan saat ini kami akan menikah, jadi, kami memutuskan untuk memublikasikan hubungan kami,” jawab Andrea dengan nada suara sinis dan ekspresi dingin. Cukup menjijikkan melihat tingkah orang-orang yang munafik di hadapannya.


“Kalau itu memang benar, kamu harus menunjukkan buktinya kepada kami!” tantang Mora pada Andrea. Dia mencoba berpegang teguh dengan kemungkinan sekecil apa pun bahwa Andrea dan Aron tidak nyata.


Ekspresi dingin Andrea tidak berubah, tapi, jantungnya berdebar kencang. Bukti? Bukti apa? Saat di Bali mereka hanya mengambil foto untuk kebutuhan media sosial. Ah, dia merasa dirinya sangat bodoh.


Tiba-tiba ponselnya bergetar berturut-turut. Saat dia memeriksa ternyata itu pesan dari Aron yang mengiriminya banyak foto mengatakan kalau itu bisa digunakan untuk mengelabui keluarganya. Senyum tipis muncul di bibir merah Andrea. Dia segera menunjukkan foto-foto editan yang terlihat sangat nyata tersebut pada ketiga orang di hadapannya. Bahkan ada beberapa foto yang memiliki tanggal dalam jangka waktu satu tahun ke belakang. Aron benar-benar sempurna!

__ADS_1


“Lihat sendiri! Ini buktinya!” Andrea tidak repot-repot menyembunyikan emosinya.


Setelah melihat foto-foto tersebut, mau tak mau Hilmar dan kedua istrinya harus menghilangkan rasa curiganya terhadap hubungan Andrea dan Aron.


__ADS_2