Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 17


__ADS_3

Setelah acara selesai semua orang kembali pulang begitu juga dengan kedua pengantin baru yang pulang menuju rumah baru mereka. Jujur saja, Andrea tidak tahu apa-apa. Aron menggiringnya masuk ke sebuah mobil lalu bilang bahwa mereka akan pulang ke rumah baru yang sudah dia tunjukkan pada Hilmar sebelumnya, tapi, tidak menunjukkan padanya.


Tapi, tanpa sadar Andrea mempercayai Aron begitu saja. Sampai mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang berada di perumahan mewah. Sejak masuk kawasan perumahan, Andrea sudah menahan kebingungannya, berpikir bahwa mungkin Aron memiliki urusan sebelum mereka pulang. Tapi, siapa yang tahu jika Aron yang menghentikan mobil segera keluar dan membukakan pintu untuknya.


“Selamat datang di rumah baru,” katanya dengan senyum tampan yang memesona.


Andrea mengerutkan kening tapi tetap berjalan keluar mobil sambil menggenggam tangan yang Aron ulurkan untuk membantunya. “Ini rumahmu?” tanyanya sambil menatap pria di hadapannya dengan penuh keraguan. Dia dapat yakin bahwa properti di sini memiliki harga hingga puluhan milyar. Mau tidak mau dia meragukan identitas Aron.


Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Aron menjawab dengan meyakinkan, “Aku menyewa rumah milik temanku yang sedang belajar di luar negeri. Rumahnya tidak ditinggali untuk saat ini. Jadi, kit bisa menempatinya untuk sementara waktu, bukankah ini bagus untuk memuluskan rencana kita?”


“Tapi, kenapa harus semewah ini?” tanya Andrea masih tidak mengerti.


“Sudah ku katakan pemilik rumah ini sangat dekat denganku dan jika menggunakan rumah ini, keluargamu dapat lebih yakin dengan hubungan kita, kan?” Aron bertanya untuk persetujuan.


Andrea berpikir sebentar, tapi, itu memang masuk akal. Banyak orang berpikir bahwa Aron hanya mendekatinya untuk hartanya. Tapi, bagaimana jika kenyataannya Aron lebih kaya atau setara dengan keluarganya? Tidak diragukan lagi bahwa hubungan mereka akan terlihat lebih nyata di mata orang lain.

__ADS_1


“Kau benar! Kalau begitu kau harus mengatakan berapa yang kau bayar untuk rumah ini dan aku akan menggantinya. Kau tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.” Andrea berkata dengan dagu terangkat, mendominasi. “Dan apa pun yang kau keluarkan untuk pernikahan ini, kamu harus melaporkan berapa yang kau keluarkan juga.”


Aron tertawa ketika melihat Andrea yang bertingkah seperti bos kecil. “Baiklah istriku,” jawabnya dengan patuh.


Andrea merasa diejek ketika mendengar nada suara Aron yang seperti seorang murid baik-baik. “Ah, cepat buka pintunya! Aku sangat ingin mandi dan berganti pakaian saat ini!” Dia berjalan mendahului menuju pintu masuk.


Aron segera menyamai langkahnya dengan kedua kakinya yang Panjang. “Oke, istriku.”


“Berhenti memanggilku begitu! Itu memalukan!” seru Andrea dengan kedua pipinya yang memerah karena malu dan marah.


Aron tertawa mendengarnya, twa yang begitu lepas dengan perasaan yang entah mengapa begitu senang.


Andrea terlebih dulu masuk ke kamar mandi. Sementara Aron memilih untuk mandi di kamar sebelah. Saat Andrea selesai mandi, Aron sudah ada di dalam kamar, memeriksa sesuatu di tabletnya. Dia segera mengambil pengering rambut dari tumpukan barangnya dan mulai berkutat dengan rambut basahnya. Pikirannya beterbangan ke arah helaian rambut panjangnya yang cukup menyusahkan, haruskah dia memotongnya menjadi pendek?


Setelah rambutnya sepenuhnya kering, Andrea yang sudah mengenakan piyama konvensional kesukaannya segera berbaring di ranjang, sebelah Aron. Tepat saat itu pula Aron juga mematikan tablet dan menaruhnya di nakas sebelah ranjang. Keheningan aneh tiba-tiba melingkupi keduanya yang tengah berbaring berdampingan di atas ranjang.

__ADS_1


Andrea mengedipkan matanya sebelum menengok ke arah Aron. “Ayo, kita lakukan. Supaya aku bisa cepat hamil,” katanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri maupun pria yang saat ini berstatus menjadi suaminya. Dia pikir kalau dia segera hamil, bukankah ini semua akan segera selesai? Rencananya akan benar-benar berhasil.


Aron pun menoleh, balas menatap Andrea. Dia tertawa karena ucapan Andrea yang aneh dan konyol. Tapi, melihat keseriusan di antara alis berkerut wanita itu, tanpa sadar tawanya berhenti. “Kamu serius?" tanyanya.


“Tidak pernah lebih serius dari ini,” jawab Andrea mulai melepas kancing baju piyamanya, meski dia sendiri berusaha untuk tetap tenang menepis rasa gugupnya.


Aron bangkit, merangkak di atas Andrea, lalu menghentikan gerakan kedua tangannya. “Hentikan.” Dia menelan ludah susah payah saat melihat celah yang terbuka di antara piyamanya. Andrea mengenakan dalaman renda hitam yang sangat seksi. “Aku akan melakukannya.”


Beberapa saat kemudian Andrea yang hanya mengenakan dalaman ditatap dengan intens oleh Aron. Pria itu yang tergoda segera mencium bibir Andrea dengan semangat dan intens. Ciuman tersebut terus turun ke bawah, disambut erangan wanita tersebut yang semakin tinggi.


Ketika foreplay dianggap cukup, Aron segera memulai urusan utama. Tapi, tangisan Andrea menghentikannya. “Ini, ini yang pertama kali bagimu?”


Andrea mengangguk di sela-sela tangisnya, tangis kesakitan serta pilu yang ada di hatinya menghadapi kehidupan yang kejam menurutnya.


“Apa kamu serius dengan keputusanmu, Andrea?” tanya Aron setelah mengumpat dalam hati. Dia tidak pernah menyangka Andrea yang telah menetap di luar negeri cukup lama, mampu menjaga keperawanannya. Ditambah lagi, dengan wajah dan sosoknya, dia yakin ada banyak lelaki yang mengantri untuknya.

__ADS_1


“Aku serius! Lakukan saja!” Andrea menggertakkan giginya. Orang-orang bilang ini menyenangkan, awalnya memang menyenangkan, tapi, sekarang dia merasa sakit sampai mati, serius.


Kenyataannya, perasaan sakit itu tidak bertahan lama dan Andrea segera mengerang penuh kenikmatan. Malam itu tidak pernah ditakdirkan untuk berakhir lebih cepat baginya dan Aron.


__ADS_2