
Andrea tidak pernah suka hari libur. Dia benci saat orang-orang menyebalkan itu berada di bawah satu atap dengannya. Awalnya, dia seharusnya keluar dengan Kharisma, tapi, tiba-tiba sahabatnya itu punya sesuatu yang penting untuk dilakukan, sehingga janji mereka terpaksa harus diundur.
“Ini, Non,” ucap seorang pelayan wanita sambil menyuguhkan semangkuk sup kepiting yang tampak creamy. Tiba-tiba dia menginginkan masakan hotel mewah tempatnya bermalam di Bali waktu itu. Sudah seminggu berlalu tanpa terasa sejak kepergiannya ke Bali dan pertemuannya dengan Aron.
“Apa enaknya seafood saat makan siang?” tanya Yura, saudara tiri Andrea, dengan sinis. Dia melahap salad sayur dengan beberapa potongan ayam yang jarang sambil menahan kesedihan dan kekesalan.
Ini sangat menyebalkan. Dia harus menahan diri memakannya untuk menurunkan berat badan yang akhir-akhir ini naik agar bisa tampil hebat saat pesta ulang tahun teman sekelasnya minggu depan, sementara Andrea bisa makan apa pun yang dia suka tapi masih memiliki tubuh seindah itu. Meskipun berasal dari ayah yang sama, ada perbedaan yang tampak amat jelas di antara mereka. Tuhan sangat tidak adil.
Andrea sama sekali tidak peduli dengan emosi labil seorang gadis remaja yang dikuasai hormon tersebut. Buang-buang waktu. Jadi, dia hanya meliriknya merendahkan sebelum kembali memakan makan siangnya.
“Tenang, Yura,” ucap Ike, yang berusia dua tahun lebih tua dari Yura, mencoba menengahi kedua saudarinya. Jujur, dia tidak pernah menyukai keduanya. Tapi, disbanding Andrea yang mengancam warisannya, dia lebih suka Yura yang masih muda dan cukup bodoh. Apalagi ada orang tua mereka di meja makan saat ini. Itu pasti salah untuk memulai sebuah pertengkaran.
Yura hampir meledak marah ketika pintu depan rumah mereka diketuk oleh seseorang, menginterupsinya.
“Siapa itu?” tanya Hilmar, mengangkat pandangannya dari tablet yang sedang dia tonton sambil makan siang. Sebagai pemegang keputusan di perusahaan, dia harus meluangkan banyak waktu untuk mengontrol apa-apa yang terjadi di perusahaan, baik itu kemajuan maupun kemunduran, meskipun sedang menjalani hari libur.
__ADS_1
“Tidak tahu, Pa. Aku akan memeriksanya,” jawab Ike secara aktif. Tidak seperti Ike yang masih labil, dia sudah memahami posisinya, tujuannya, dan mulai menyusun cara-cara untuk mencapainya. Cari muka adalah salah satunya. Dia akan selalu menjadi anak baik di depan para tetua, untuk membuktikan bahwa dia lebih layak mendapatkan harta keluarga, dibanding Andrea yang penuh kebencian atau Yura yang kkekanakan.
Hilmar mengangguk, menyetujui sebelum kembali menatap tablet di tangannya.
Ike bangkit dari kursinya lalu berjalan dan membuka pintu rumah. Dia tiba-tiba tertegun saat melihat seorang pria berdarah campuran yang sangat tampan sedang berdiri di hadapannya. Pria itu memiliki wajah tampan yang menjadi seleranya! “Ehm, kau, kau mencari siapa?” tanyanya sambil menyisipkan anak rambutnya ke telinga dengan manis.
Pria yang saat ini berdiri di hadapan Ike tak lain adalah Aron. Ekspresi di wajahnya masih minim, tidak terpengaruh sama sekali dengan godaan Ike di hadapannya. Jujur, disbanding kecantikan Andrea, Ike berada sangat jauh di bawahnya. “Saya mencari seseorang.”
“Oh kau mencari Papa, ya?” Ike kembali bertanya sebelum Aron selesai menjawab. Dari pakaian elitnya, dia pikir pria tersebut harus seorang tamu ayahnya. “Ayo masuk,” ajaknya sambil sedikit membungkuk dan membusungkan dadanya. Aron sama sekali tidak meliriknya dan melenggang masuk.
Seluruh keluarga mendongak dengan berbagai ekspresi di wajah. Yang jelas, Andrea menatap Aron, pria yang setuju menjadi suami bayarannya minggu lalu, dengan ekspresi penuh keterkejutan.
“Halo. Maaf semuanya. Sebenarnya saya bukan tamu Pak Hilmar, saya adalah kekasih Andrea,” ucap Aron tiba-tiba sambil menatap Andrea dengan mata penuh senyum.
Raut semua orang segera berubah ketika mendengar perkataan Aron. Andrea yang sudah sadar segera bangkit dari kursinya dan berlari untuk memeluk erat pria berdarah campuran tersebut. “Sayang! Kamu kok nggak bilang kalau mau ke sini?”
__ADS_1
Aron segera membungkus pinggang wanita di hadapannya dengan kedua tangan. “Kejutan untukmu.”
Pemandangan kedua kekasih tersebut amat manis. Tapi, sayangnya, tidak semua orang berpikir begitu.
Mora melangkah maju. “Andrea, siapa dia?” tanyanya dengan suara hampir tercekat. Ini tidak mungkin seperti apa yang dia pikirkan, kan?
Andrea melepas pelukannya pada Aron dan segera berbalik, menatap orang-orang di depannya dengan dagu terangkat. “Ah, aku lupa memperkenalkannya. Dia adalah Aron, kekasihku,” jawabnya sambil menggenggam tangan besar dan kuat milik Aron.
Ekspresi Mora, Yamini, dan kedua anaknya semakin memburuk. Mereka tahu dengan pasti bahwa harta keluarga akan jatuh di tangan Andrea jika dia berhasil mengandung seorang anak. Selama ini mereka merasa aman karena tahu bahwa wanita itu membenci pria. Tapi, apa yang terjadi saat ini? Kenapa sangat tiba-tiba? Atau jangan-jangan dia hanya menipu?
“Kalian saling mengenal dari mana?” tanya Hilmar setelah membuat semua orang kembali duduk di meja makan. Tidak seperti orang lain, yang dia rasakan hanya keterkejutan. Anak perempuan sulungnya, yang selalu menatap laki-laki seperti menatap serangga, akhirnya memiliki hubungan dengan seseorang. Padahal dia hanya mengira Andrea sekedar bermain-main di media sosialnya kemarin. Siapa yang tahu ternyata itu hubungan yang cukup serius hingga dibawa ke rumah. Tentu saja dia tidak bisa begitu santai.
Tubuh Andrea tegang. Dia belum menyiapkan scenario apa pun. Dengan kaku dia menoleh menatap Aron dengan sedikit kebingungan. Sisi lain balas menatap dengan sorot yang menenangkan.
“Kami sudah saling mengenal dua tahun lalu sejak Andrea berada di London. Hubungan kami sudah berlangsung selama satu tahun. Maaf karena saya baru berkunjung ke sini,” jawab Aron dengan tenang. “Saya sangat mencintai Andrea dan saya serius dengan hubungan ini,” tambahnya sambil menatap wanita di sebelahnya dengan senyum menawan.
__ADS_1
Andrea tercengang, dia tidak menyangka akan mendengar kalimat terakhir Aron yang terdengar sangat meyakinkan, membuatnya memiliki ilusi bahwa mereka benar-benar sepasang kekasih yang saling mencintai.