Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 28


__ADS_3

Leah mencoba untuk menghubungi beberapa temannya yang bisa ia manfaatkan untuk mengantarnya pergi ke kota di mana suaminya dan istri barunya itu tinggal. Tak tahu di mana keberadaan mereka, Leah hanya mencoba berusaha sebaik mungkin mencarinya lagi dan lagi. 


Ia menghubungi salah satu temannya. Diteleponnya sebuah nomor saat dirinya berada di ruang tamu. Terlihat bahwa wajah wanita itu terlihat sangat gusar seperti seseorang yang penuh dengan masalah. 


“Halo, Leah. Tumben kau menelpon, ada apa?” tanya seorang pria dari seberang. 


“Kau bisa membantuku? Aku ingin menemui suamiku di kota, tapi aku tidak bisa ke sana sendirian. Aku bingung akan naik apa, dan aku juga tidak tahu jalannya. Apa kau bisa mengantarku?” tanya Leah, nada suaranya terdengar putus asa. 


Pria di seberang tak langsung menjawab, sebelum akhirnya terdengar deheman. “Oh, kau ingin mencari suamimu itu? Lebih baik kau menyerah saja dan jangan mengejarnya lagi. Sejak menikah dengannya kau benar-benar kehilangan dirimu sendiri. Lebih baik kau bersenang-senang saja di Kalimatan dengan madumu, dan lupakan dia. Tidak penting kehadirannya jika uang yang dia berikan lancar padamu,” saran pria di balik telepon itu. Bukannya memberi solusi yang Leah minta, ia malah membuat kepala Leah terasa makin panas. 


Tangan Leah terkepal sempurna, seakan siap untuk memberi bogeman mentah pada pria itu. “Gini, ya, ini bukan lagi tentang uang dan uang. Kau kira aku ini mata duitan? Tapi ini tentang tanggung jawab dia pada para istrinya. Kami seakan ditelantarkan. Maka dari itu aku ingin mengejarnya ke kota dan mencari keberadaannya. Aku ingin pergi ke sana secepatnya,” geram Leah. 


Tanpa berminat untuk mendengarkan jawaban pria itu, Leah langsung mematikan sambungan teleponnya dan bergegas menuju keluar. Ia benar-benar ingin sekali pergi dari pulau ini dan menggebrak Aron dan istrinya. 


“Sial, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan alamat baru mereka. Lagi pula aku tidak berani untuk ke Jawa sendirian. Aku membutuhkan seorang teman yang bisa diandalkan,” lirih Leah. 


Kakinya kembali masuk saat pikirannya terasa buntu. Wanita itu merasakan benda pipih di tangannya mulai berdering nyaring, dan dilihatnya nama ‘Anie’ tertera di layar. Bingung Leah akan mengangkatnya atau tidak, karena ia sudah memiliki firasat jika nanti Anie pasti akan mengomel lagi padanya. Leah sudah muak, tetapi Leah juga tak bisa menghiraukan Anie karena hanya wanita itu yang dapat mengerti perasaannya. Bagaimana pun mereka satu nasib, jadi bagi Leah, Anie sudah seperti saudaranya sendiri. 

__ADS_1


Akhirnya diangkatlah panggilan tersebut. “Halo, Anie, ada apa?” tanya Leah. “Aku berniat untuk pergi ke kota hari ini, tapi aku belum mendapatkan teman, apa kau benar-benar tidak mau pergi denganku?” tanya Leah. 


Terdengar embusan napas Anie dari seberang. “Leah, aku sudah mengatakan berapa kali padamu untuk jangan cari masalah pada Aron. Jika kau pergi ke kota, kau sama saja mencari mati dengan pria itu. Lebih baik kau tetap di sini dan menerima semuanya dengan baik. Kedatangan kau ke sana hanya akan menjadi sebab kemarahan Aron, bagaimana jika nanti kau diceraikan, hah?” Anie menasihati. Sudah berkali-kali memang dirinya menahan Leah untuk tidak pergi karena ia tahu bagaimana watak Aron yang sesungguhnya.


“Aku tidak peduli lagi hal itu, karena kita memang harus pergi ke sana, Anie. Mau sampai kapan kita membiarkan Aron seperti itu? Dia hidup enak dengan istri barunya itu, sementara dia tidak memikirkan kita yang berada di sini, apa kau tak merasa bahwa kita telah dibuang?” protes Leah. Tak terima dengan perlakuan Aron. 


“Aku merasa, tapi kalau aku protes hanya akan menambah masalah. Oleh sebab itu, aku membiarkannya sampai dia kembali pulang,” jawab Anie mencoba sabar. 


Walau Anie pun tahu bahwa dirinya kesal dengan sikap Aron dan sifatnya yang pilih kasih, tetapi Anie mencoba untuk menahan diri untuk tidak marah pada pria itu. Aron memang sangat keterlaluan dengan membiarkan mereka berdua dibuang ke pulau, sementara dirinya asyik dengan wanita lain, istri barunya. 


“Tidak akan hal itu terjadi. Sudahlah, jika kau tak mau mengikuti ideku, tak masalah. Aku akan melakukannya sendiri,” sergah Leah. 


Tak lama dari itu dilihatnya pesan masuk di gawai. Nama dengan sebuah inisial mengirimkannya sebuah potret yang memperlihatkan seorang wanita dan pria yang terlihat baru saja masuk ke dalam sebuah rumah. 


Di bawahnya tertulis keterangan, “Aron dan istrinya baru saja tiba di rumah mereka setelah berjalan-jalan seharian.”


Leah makin geram, ternyata pria itu bahagia di sana dengan istri barunya, sementara tak sekalipun ia menanyai kabar Leah di sini. 

__ADS_1


--


Sementara Andrea yang terlihat baru saja duduk merasa bahwa kepalanya mulai pusing. Ia terlalu lama berada di luar sehingga dirinya tak mampu lagi hanya untuk sekadar duduk.


“Akhir-akhir ini aku makin lemas. Cuaca panas di luar benar-benar membuat tubuhku makin lemas saja,” keluh Andrea seraya membaringkan tubuhnya du sofa. 


Aron yang baru saja menaruh jaket di gantungan, menoleh. “Apa kita perlu ke rumah sakit? Aku tidak mau kau kenapa-napa. Bagaimana?” tawar Aron seraya mendekat dan duduk di dekat Andrea. 


Pria itu menggenggam tangan Andrea dengan penuh kasih, tatapan matanya begitu hangat menatap Andrea hingga Andrea perlahan dibuat nyaman olehnya. Namun, segara ia menggeleng dan menjauhkan tangannya dari Aron begitu sadar bahwa pria itu hanya suami bayaran. 


“Tidak, aku hanya butuh istirahat saja. Mungkin aku perlu tidur beberapa jam setelah ini. Jika kau mau melakukan kegiatan lain, lakukan saja sesukamu. Aku akan pergi ke kamar.” Andrea bangkit, mengambil tas, lalu pergi ke kamar terlebih dahulu sementara Aron masih duduk menatap kepergian wanita itu. 


“Andrea!” panggil Aron tepat ketika wanita itu telah berada di ambang pintu. 


Andrea menoleh, “Ada apa?” tanyanya. 


“Kalau kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Aku akan membantumu bagaimana pun caranya. Aku akan membuat kamu nyaman berada di sini, okay? Jadi, jangan pernah malu atau apa pun. Anggap bahwa aku benar-benar suamimu. Bukannya ternyata pernikahan ini membuat kita nyaman? 

__ADS_1


Andrea merasa bahwa ada kalimat yang tak ia pahami dari ucapan suaminya itu. Dahinya berkerut. “Baiklah, tapi aku sedang tidak membutuhkan apa-apa,” jawab Andrea, kemudian masuk ke dalam kamar untuk segera istirahat. 


__ADS_2