Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 35


__ADS_3

"Maaf, Anda cari siapa?" 


"Aron dan istrinya. Apa dia ada?" 


"Pak Aron sedang ke luar. Tapi di dalam ada istrinya ..." Pengawal itu melirik ke arah rekannya. Ragu untuk meneruskan mengingat kondisi rumah tangga Aron—yang menurut mereka aneh. 


Bagaimana tidak aneh, kalau Aron mengurung istrinya sendiri kamar mereka. Apa lagi dengar-dengar istrinya sedang hamil muda. Bukankah seharusnya hubungan mereka tambah harmonis setelah tersiarnya kabar bahwa Andrea sedang mengandung darah daging Aron? Namun situasi di rumah pria itu malah sebaliknya. Tidak jarang para pengawal mendengar teriakan Andrea dari dalam—ingin dilepaskan. Tapi Aron terus mewanti-wanti kepada semua penjaga di rumahnya agar jangan sampai kecolongan. Jika sampai mereka kecolongan, maka nyawa mereka menjadi jaminan. 


"Boleh saya bertemu dengan istri Aron?" Dua orang penjaga belum memberi jawaban apakah wanita itu boleh bertemu Diandra atau tidak. "Saya keluarga Aron dari jauh, ingin bertemu dengan dia dan istrinya. Apa kalian mau dipecat oleh Aron?" ancamnya. 


Tentu saja mereka tidak mau dipecat oleh Aron. Lebih-lebih jika Aron mengancam nyawa mereka. Pada akhirnya kedua penjaga tadi mempersilakan seorang wanita setengah baya masuk ke dalam rumah Aron dan Andrea. 


Tidak heran jika rumah yang ditinggali oleh Aron dan Andrea terasa sangat sepi sekali. Di sini mereka cuma tinggal berdua—sementara pengawal berjalan di luar rumah. Ada sih, seorang asisten rumah tangga, namun tidak terlalu banyak interaksi dengan Tuan dan Nyonya di rumah itu. 


"Silakan, Bu." Salah satu pengawal mengarahkan tangannya ke arah dalam. "Kami akan hubungi Pak Aron jika ada keluarganya yang datang mencari." 


"Okay, terima kasih." Wanita itu duduk dengan anggun di atas sofa. Mengedarkan pandangan ke sekitar, lalu tatapannya berhenti pada sebuah foto pernikahan Aron dan Andrea yang dipajang di ruang tamu dengan ukuran cukup besar. 


*** 


Suara Andrea hampir habis akibat terus berteriak meminta dilepaskan oleh Aron. Andrea menarik-narik knop pintu kamarnya dengan harapan bisa dibuka. 


Andrea telah mengerahkan seluruh tenaganya. Tapi usahanya terasa sia-sia. Andrea telah kehabisan tenaga, suara, napasnya pun terengah-engah. 


"Aku bisa tersiksa batin berada di sini terus. Tinggal di sebuah rumah besar tidak akan menjamin seseorang bahagia," ujar Andrea duduk lemas di lantai. "Aku sangat bodoh. Aku akui, aku terlalu terburu-buru mengajak Aron kerja sama saat itu. Jika tahu akan ada kejadian begini, lebih baik aku tidak pernah menikah seumur hidupku!" 


Kedua tangan Andrea lemas menyentuh lantai yang dingin. Ibu hamil tersebut sedang berusaha mengembalikan tenaganya seperti semula. Andrea berpegangan pada knop pintu, berdiri dengan hati-hati. 

__ADS_1


Terlintas sebuah ide di dalam kepalanya. Andrea menggebrak-gebrak pintu memanggil seorang asisten rumah tangga di rumahnya. 


Ya, sejak Andrea tahu siapa Aron sebenarnya. Terbongkarnya identitas Aron, pria itu memperkerjakan seorang asisten rumah tangga—yang sehari-harinya merawat Andrea selama Aron sibuk di luar. Andrea tetap konsisten menolak untuk makan apa pun. Namun kadangkala Andrea perlu makan agar tetap hidup. Ia akan memastikan Aron melihat dirinya bisa hidup bebas dari jerat pria gila itu. 


"Bi! Tolong aku! Bi, perutku sakit!" Andrea memukul-mukul pintu kamarnya. "Bi, akh! Tolong siapa pun! Perutku sakit sekali!" 


Andrea mendengar suara langkah kaki seseorang di luar pintu. Andrea lantas berjalan mundur ke belakang, berpura-pura badannya lemas—padahal memang sungguhan lemas. Tekad Andrea sangat besar untuk kabur dari Aron, lantas membalas perbuatan Aron kepadanya selama ini. Andrea tidak terima karena sudah dibohongi pria itu! 


"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Pintu terbuka dari luar. Andrea lantas duduk di sebelah pintu dengan posisi setengah berbaring di lantai. "Ya, Tuhan! Nyonya!" 


Teriakan asisten rumah tangga di rumah itu segera menarik perhatian para penjaga di luar. Bi Rami, asisten rumah tangga Andrea duduk berjongkok di sebelah Andrea. Ketika wanita setengah baya itu telah berada di dekatnya, Andrea lantas mendorong wanita itu hingga jatuh terduduk di lantai. 


"Aduh!" pekik Bi Rami melengking. 


Dengan sisa tenaga yang Andrea miliki, ia lari sekuat tenaga menuju ke luar rumah. Para penjaga mendengar suara Bi Rami berteriak meminta bantuan. Andrea mulai panik, ia pun mempercepat langkah, hingga akhirnya berpapasan dengan sosok wanita setengah baya di ruang tamu. 


"Kamu ... Andrea?" tanyanya. Senyumnya tipis, namun terasa misterius. 


"Oh, jadi kau istri ketiga Aron? Benar?" 


Bibir Andrea bergerak tanpa suara. Sepasang alis perempuan itu saling bertaut. Ia mendengar pertanyaan wanita setengah baya di depannya dengan ragu. 


"Maksud Anda ... apa? Siapa istri ketiga maksud Anda, Bu?" tegur Andrea tidak terima. 


*** 


Di antara jajaran kursi dari dalam ruangan—dengan di kelilingi dinding kaca tersebut terdapat sosok pria. Menatap pria lainnya tengah melakukan presentasi. 

__ADS_1


Pria itu adalah Aeon. Ia duduk di salah kursi berbaur dengan para klien, serta staff yang ikut dalam acara rapat kali ini. Aron secara serius mengamati selama presentasi berlangsung. 


Rapat berlangsung cukup lama hingga Aron mengeluh tidak terasa. Berjam-jam di dalam sana mengamati salah seorang bawahannya melakukan presentasi. Sepertinya Aron benar-benar menikmati perannya yang sesungguhnya. 


Sekarang Aron tidak perlu menyembunyikan identitasnya lagi di hadapan Andrea. Sekarang Aron bebas melenggang sebagai dirinya. Menunjukkan kuasanya sebagai seseorang yang cukup berkuasa di negaranya. 


Tepat ketika rapat selesai dilangsungkan, ponsel Aron berdering. Ia berdeham, meminta maaf kepada seorang klien meminta izin untuk mengangkat telepon. 


"Ya, halo?" Aron ke luar dari ruang rapat sembari menempelkan benda persegi ke sebelah telinganya. 


"Pak Aron, di rumah Anda kedatangan tamu seorang wanita. Beliau mengaku kerabat jauh Anda." 


"Lalu?" tanya Aron menaikkan sebelah alis tebalnya. 


"Karena Anda tidak ada di rumah, wanita tersebut ingin bertemu dengan Nyonya Andrea," terang pengawal Aron di telepon. 


Aron tidak memiliki janji temu dengan siapa pun. Apa lagi di rumah yang ia tinggali bersama Andrea. Kalau pun Aron memiliki janji penting, biasanya Aron akan bertemu di hotel berbintang, restoran, atau langsung menemuinya di kantor. 


Aron merasa ada yang mengganjal. Pria itu lalu bertanya kepada penjaganya. "Kau sudah tanya siapa nama wanita itu?" tanya Aron. 


"Sudah, Pak." 


"Siapa namanya?" 


"Bu Rianti, Pak. Katanya beliau keluarga jauh Pak Aron dari Kalimantan." 


"Apa? Rianti?" pekik Aron terkejut. 

__ADS_1


Aron mencoba mencernanya. Satu-satunya wanita yang ia kenal dengan nama Rianti adalah ibunya Leah. Ibu mertua Aron yang tinggal di luar negeri. Tapi ... sejak kapan Rianti berada di Indonesia? Apa lagi sekarang di rumahnya? 


"Jangan biarkan wanita itu bertemu dengan Andrea!" perintah Aron panik. 


__ADS_2