Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 20


__ADS_3

Dalam isi kepala Aron sebelum menikahi Andrea beberapa waktu lalu, Andrea hanyalah seorang putri dari keluarga kaya raya yang bisanya cuma ongkang-ongkang kaki di rumah saja, yang apa-apa selalu menyuruh asisten rumah tangganya. 


Tapi, dugaan Aron salah besar karena sosok Andrea telah berhasil membuat seorang Aron terkesima, Aron diam-diam memuji istri ketiganya itu. 


"Bisakah kau angkat kakimu?" Andrea ke luar sambil membawa alat-alat pembersih di tangannya. "Aku sedang ingin menyapu dan mengepel sebelum memasak makan malam." 


Fokus Aron yang tengah menonton TV terbagi menjadi dua, lantaran Andrea menyapu ruang tengah. Aron mengamati istri mudanya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aron sontak mengangkat kedua kakinya kala Andrea memberi isyarat dengan menggerakkan dagunya naik dan turun. 


"Ah, maaf." Aron segera meminta maaf seiring pria setengah bule itu mengangkat kedua kakinya ke atas sofa. 


"Kau sedang melamun apa sih? Sejak tadi aku sudah meminta kau mengangkat kaki. Tapi kau malah bengong seperti sapi," omel Andre lucu. 


"Aku belum pernah melihat sapi bengong," gumam Aron. "Memangnya kamu pernah melihat sapi bengong? Atau itu cuma akal-akalan kau saja untuk mengejekku?" celetuk Aron. 


"Terserah kau saja!" seru Andrea mengibaskan tangannya ke udara. 


Selanjutnya pasangan itu kembali pada aktivitas masing-masing. Andrea sosok perempuan sekaligus istri yang tidak mau banyak diam di rumah. Pagi-pagi sekali Andrea langsung memasak, sembari membereskan rumahnya. Andre mencuci piring, baju, menjemur, menyetrika, dan melipat pakaiannya sendiri serta milik Aron. 


Andrea sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah selama ini. Jadi mengerjakan tugas rumah seperti ini sama sekali bukan hal sulit bagi dirinya. 


"Oh, ya. Kau mau makan malam apa hari ini?" tanya Andrea menarik sapi di tangannya. 


"Kau akan memasak?" balas Aron. 


Andrea mendecakkan lidahnya. "Lalu, apa gunanya aku belanja isi dapur sampai kulkas kita hampir penuh, Tuan?" ejek istri muda Aron. "Tentu saja aku akan memasak makan malam kita sendiri!" 


Aron manggut-manggut. "Baguslah kalau kau masak sendiri." 


"Mm," gumam Andrea mengangkat kedua bahunya. "Jadi, cepat katakan apa yang ingin kau makan untuk malam ini?" 


*** 


Dia telah mengeluarkan bahan-bahan makanan yang dia rasa perlukan untuk memasak menu malam ini ke atas meja dapur. 


Andrea menyambar sebuah apron berwarna ungu. Andre memasang apron itu sendirian, mengikat talinya ke pinggang dan lehernya secara bergantian sembari menghidupkan kompor di dapur. 

__ADS_1


Diam-diam Aron mengintip Andrea yang tengah memasak. Aron agak kurang yakin Andrea bisa memasak—jika dilihat dari background Andrea. 


Di mana-mana putri keluarga kaya raya kebanyakan sangat manja. Mereka maunya dilayani, tidak mungkin melayani karena merasa memiliki banyak asisten rumah tangga.  


Namun, Andrea berbeda satu putri kaya raya lainnya. Bahkan jika dilihat dari gesture Andrea saat memasak dan bersih-bersih rumah, kelihatan sekali kalau Andrea memang telah terbiasa. 


Aron mengetuk pintu dapur dengan iseng. Andrea menengok ke belakang secara sepintas. Dia lantas tersenyum setengah mendengus kala mendapati suaminya sedang tersenyum juga ke arahnya. 


"Apa kau membutuhkan seorang asisten, chef?" goda Aron melangkah mendekat ke dalam dapur. 


"Jika kau bersedia secara sukarela membantuku, maka aku akan menerima tawaranmu," balas Andrea. Dia lantas kembali mengarahkan pandangannya ke kompor. 


"Baik, chef. Aku akan secara sukarela membantu kau. Tapi, chef, apa kau akan memberiku makanan gratis sebagai imbalan?" 


Andrea lantas berteriak, "Hey, berhentilah! Lama-lama aku geli juga," protes Andrea. 


"Haha, maaf." Aron menangkupkan kedua tangannya. 


"Apa yang bisa aku bantu, Andrea?" Aron berdiri di sebelah Andrea. Istrinya sedang sibuk menumis daging. 


Pada akhirnya Andrea memasak ditemani Aron, sesekali pria itu membantu Alea memasak. "Boleh aku jujur padamu, Andrea?" Di tengah aktivitas memasak di dapur, Aron memberanikan diri. 


"Apa? Kau mau bicara jujur soal apa?" tanyanya. 


"Di era ini, akan sulit menemukan perempuan yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Entah itu memasak, mencuci, atau sekadar bersih-bersih rumah. Tapi kau bisa melakukan segalanya sendirian. Mengingat kau pasti dibesarkan dengan kekayaan orang tuamu." 


Pasangan pengantin baru tersebut saling melempar tatap. Andrea menyudahi menatap suaminya. "Kau sedang memujiku?" ejek Andrea, lantas terkekeh. 


"Ya, kau benar!" sahut Aron kelewat jujur. 


Andre menggeleng heran. "Kau bahkan tidak berusaha mengelaknya." 


"Untuk apa? Atau aku tidak boleh bicara jujur kepada istriku sendiri?" 


"Tidak, tidak. Kau boleh bicara jujur semua kau. Bukankah itu lebih baik?" celetuk Andrea. 

__ADS_1


Obrolan Andrea dan Aron berlangsung sangat lama. Sepanjang mereka memasak bersama, sepanjang itulah durasi obrolan mereka. 


Kebanyakan Aron-lah yang melontarkan pertanyaan kepada Andrea. Andrea bertugas menjawab semua pertanyaan pria di sebelahnya. 


"Melakukan pekerjaan rumah sendirian pasti sangat melelahkan," ujar Aron. "Bagaimana kalau kau menyewa seorang asisten rumah tangga saja? Pekerjaan kau menjadi lebih ringan jika memiliki satu saja." 


"Lalu, pernikahan sementara kita akan diketahui oleh ART itu?" Andrea mendengus. "Aku tidak mau, Aron. Aku tidak ingin rencanaku diketahui oleh orang lain. Cukup antara aku dan kau saja. Aku lebih baik mengerjakan semuanya sendirian saja!" 


Selain cantik dan kaya, Andrea memiliki karakter yang kuat, tegas, serta memegang teguh atas apa yang dia ucapkan. 


"Bisa kau ceritakan tentang dirimu?" tanya Aron tiba-tiba. 


"Tanpa aku jawab, kau pasti sudah apa itu, kan?" timpal Andrea lirih. 


Benar, Aron telah mengetahui segalanya tentang Andrea, istri mudanya. 


Jangan pikir Aron akan menikahi perempuan secara sembarangan. Walau Andrea cantik, proporsi badannya sangat bagus, Aron perlu mencaritahu tentang keluarganya, orang tuanya, dan lain-lain. 


Andrea menuangkan air secukupnya ke dalam masakannya sedikit demi sedikit. Andrea tidak mendengar suara Aron memenuhi dapur ini lagi. 


Andrea melirik Aron lewat ekor matanya. Andrea lantas balas bertanya, "Dari tadi kau terus bertanya tentang diriku. Aku bahkan belum pernah mendengar tentang kehidupanmu." 


Aron sontak diam merapatkan bibirnya. Aron bingung harus menjawab apa kepada Andrea. Aron tidak mungkin berkata jujur kalau dia telah memiliki dua orang istri yang dia tinggalkan di Kalimantan sana. 


Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Aron, Andra memastikan suaminya tetap berada di dapur mereka. 


"Kenapa malah diam saja, Aron? Kau tidak ingin bertukar cerita denganku?" sindir Andrea. "Atau ... ada yang mau sembunyikan dariku, Aron?" 


Deg! 


Tubuh Aron seolah tidak dapat digerakkan kala itu. Pertanyaan Andrea terlalu mengejutkan. Namun Aron meyakinkan bahwa Andrea tidak akan tahu rahasianya. 


"Bukan begitu ... aku ...," cicit Aron salah tingkah. "Hanya saja ... tidak ada hal yang istimewa dari kehidupanku." 


"Masa?" timpal Andrea seolah tidak percaya. 

__ADS_1


Aron tambah salah tingkah. Dia cuma takut Andrea tahu segalanya tentang Aron. 


__ADS_2