
Merelakan suami menikah lagi memang sungguh sakit. Apa lagi ini bukan pertama kalinya sang suami menikah lagi. Jika ditotal, suaminya telah menikah untuk yang ketiga kalinya.
Ya, benar. Suaminya telah menikah sebanyak tiga kali—atau setelah pernikahan ketiganya—Aron berniat akan menikah lagi? Entahlah. Leah dan Anie tidak sanggup membayangkan Aron akan menikah dengan empat, lima, atau bahkan enam perempuan secara berturut-turut?
Rumah besar nan mewah bak istana yang ditinggali kedua istri Aron tersebut seolah tidak memiliki nyawa. Rumah itu cuma ditinggali Leah dan Anie, ditemani oleh beberapa asisten rumah tangga, serta tukang kebun dan sopir yang menempati kamar khusus untuk orang-orang yang bekerja di rumah Aron yang ada di Kalimantan.
Leah, salah satu istri Aron sama sekali tidak semangat menjalani hari-harinya. Sebenarnya suasana hati buruk seperti ini tidak akan bertahan lama. Sama seperti saat Aron izin menikahi Anie, pada akhirnya Leah lama-lama bisa menerimanya. Bahkan hubungannya bersama Anie terbilang cukup dekat.
"Leah, sedang apa kau pagi-pagi melamun di meja makan? Ini masih terlalu lagi untuk makan," decak Anie menghampiri istri pertama Aron, Leah.
Leah menatap Anie tanpa minat. Apakah cuma Leah saja yang merasa sedih atas pernikahan ketiga sang suami? Sungguh, ini seperti kembali ke masa lalu. Baru saja Leah bisa menerima kehadiran Anie, sekarang Leah berada di situasi yang sama persis.
"Tidak, ini bahkan lebih menyedihkan untukku sebagai istri pertama Aron," decak Leah menarik tangannya dari dagu.
Anie mengamati wajah istri pertama Aron dengan seksama. Sejak Aron meminta izin untuk menikah lagi—tidak, lebih tepatnya pria itu cuma memberitahu akan menikahi seorang perempuan muda berusia 24 tahun bernama Andrea, suasana hati kedua istri Aron, serta suasana di rumah mendadak menjadi sendu.
"Apa yang kau bicarakan Leah?" Anie menarik kursi di seberang. Melipat kedua tangannya di atas meja makan. "Kau kelihatan lemas sekali, Leah. Kau sedang sakit?" tanya Anie hati-hati.
Anie setengah mengangkat bokongnya kala mengulurkan tangan menyentuh kening Leah. "Tidak panas," gumamnya heran.
"Karena yang sakit bukan di situ." Anie melirik Leah selama dua detik. Leah membawa sebelah tangannya, meletakkan telapak tangannya ke depan dadanya. "Tapi di sini, Anie ... tidakkah kau merasakan hal yang sama denganku, hah? Tidak mungkin kau tidak merasa tersisih. Jujur saja aku belum rela membiarkan Aron menikah kembali."
"Ah." Bibir Anie terbuka. "Jadi kau memikirkan Aron yang baru menikah lagi?" Leah mengangguk. Wajahnya memelas.
__ADS_1
Sebenarnya Anie pun merasakan hal yang sama. Dia pikir Aron akan berhenti menikah lagi setelah menjadikan Anie istri keduanya. Namun, saat mendengar pria itu akan menikah lagi, Anie pikir Aron suatu hari akan mengumpulkan banyak perempuan untuk dia jadikan sebagai istri.
"Ternyata seperti ini perasaannya waktu itu," batin Anie diam-diam melirik Leah yang lesu.
Aron tetaplah Aron. Pria itu hidup sesuai apa yang pria itu sukai. Aron seringkali membuat keputusan tanpa mengajak Leah atau Anie berdiskusi. Sama halnya ketika Aron mengaku akan menikah lagi, Leah dan Anie diberitahu secara mendadak. Lalu, apa yang bisa mereka lakukan setelahnya? Tidak ada. Leah dan Anie terpaksa mengangguk saja tanpa melakukan protes apa-apa.
"Aku sudah cukup kecewa dengan keputusan Aron untuk menikah lagi." Leah memainkan kesepuluh jari tangannya. "Tapi aku jauh lebih sakit hati atas perlakuan tidak adil Aron kepada kita berdua."
Anie mengangkat wajahnya. "Soal Andrea yang sudah punya rumah sendiri? Atau soal Aron akan tinggal bersama istri barunya di rumah itu?" tanya Anie belum paham.
Leah menatap Anie, sinis. "Tentu saja dua-duanya! Bukankah ini tidak adil untukku dan untuk kau, Anie? Bayangkan saja, Andre baru dinikahi, tapi sudah mendapat perlakuan berbeda! Bagaimana kalau Andrea bisa memberi Aron seorang anak?"
Sejenak, Leah memikirkan berbagai hal tentang suaminya itu. Dia dan Anie dibiarkan tinggal di Kalimantan, dan—hanya akan dijenguk sesuai kata hati pria itu.
"Kalau begitu, kenapa kau memberi Aron izin menikah lagi?" tanya Anie membawa tangannya ke atas meja.
"Jika pertanyaan itu aku lempar lagi padamu, maka jawaban apa yang akan aku dengar dari mulutmu, Anie? Memangnya kau berani membantah kata Aron? Kau ingin melihatnya murka?" cecar Leah. Kedua bola matanya melebar seiring perempuan itu bicara.
"Tidak, sih." Anie meringis. Dia kemudian menggeleng lamban. "Kau saja tidak berani membantah apa kata Aron. Apa lagi aku, hah? Aku tidak ingin mencari masalah dengan pria itu!"
"Kenapa nasib kita jadi seperti ini, ya? Bahkan untuk bertemu Aron saja, belum tentu dia akan pulang satu bulan sekali." Leah tidak berhenti mengeluh. "Sedangkan Andrea yang baru Aron nikahi saja sudah diberi perlakuan spesial ..."
"Apa karena Aron menikahi kita akibat perjodohan?" celetuk Anie cepat.
__ADS_1
Leah lantas membungkam bibirnya rapat. Celetukkan Anie baru saja seolah menjelaskan segalanya kenapa perlakuan Aron kepada Andrea—jika dibandingkan dengan Leah dan Anie tampak sangat berbeda.
Dari awal, Aron tidak pernah mempercayai apa itu cinta, dan ketulusan seorang perempuan. Baginya menikah hanya akan buang-buang waktu saja. Aron tidak berniat menghabiskan hidupnya dengan bersama seorang perempuan—hingga akhirnya Aron dijodohkan dengan Leah—istri pertamanya.
Mengetahui dirinya akan dijodohkan dengan pria tampan seperti Aron, tentu saja Leah tidak menolak—sekali pun pernikahan mereka dilangsungkan keesokan harinya.
Dalam bayangan Leah, dia akan hidup bahagia dengan menikahi seorang pria tampan. Namun, ekspetasi Leah dihancurkan oleh realita.
Bertahun-tahun lamanya Aron dan Leah menikah, pasangan itu tidak kunjung dikaruniai seorang anak. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan Leah akan hamil. Leah putus asa, namun Leah tidak akan menyerah untuk terus berusaha sampai dia bisa hamil suatu hari nanti.
Tidak, bukan bayi yang Leah dapatkan. Bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Aron, pria itu malah dijodohkan untuk kedua kalinya oleh keluarganya. Betapa hancurnya perasaan Leah. Alasan Aron menikah lagi karena Leah tidak kunjung memberi pria itu putra atau putri.
"Aku akan sangat senang bila berada di posisi Andrea." Isi kepala Leah berselancar.
"Tapi mereka tinggal bersama kurang lebih selama satu tahun saja," timpal Anie.
Leah mengangkat ponselnya. Dia dan Anie sama-sama mengamati foto pernikahan Aron dan Andrea hanya lewat ponsel saja.
Karena Aron tidak akan mungkin mempertemukan kedua istrinya kepada Andrea. Soal status Aron yang sebenarnya suami orang, Andrea belum tahu menahu. Perempuan muda itu mungkin berpikir di zaman modern ini masih ada pria seusia Aron masih melajang.
"Aku jadi penasaran ingin bertemu dengan Andrea secara langsung," gumam Anie.
"Aku pun," timpal Leah penasaran.
__ADS_1