Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 21


__ADS_3

Leah bolak-balik di kamarnya penasaran dengan istri baru Aron. Bagaimana wajahnya? Bagaimana sikapnya? Apa yang ia punya hingga Aron terpikat pada wanita itu. Setahu Leah, Aron memang sangat pilih-pilih istri, ia memiliki kriteria khusus, jadi Leah hanya ingin tahu apa keistimewaan wanita itu. 


“Selama ini aku tidak pernah diperhatikan olehnya. Aku bersama Anie ditempatkan di Kalimantan seakan diasingkan oleh pria itu. Aku jadi ingin tahu kenapa wanita itu mau menikah dengan Aron, apakah ia tahu bahwa Aron sudah memiliki istri lain?” tanyanya pada diri sendiri. 


Sejauh ini Leah merasakan iri oleh perlakuan Aron. Ingin Leah pergi, tetapi ia juga masih mencintai Aron. Selama menikah dengannya, Leah tak pernah mendapatkan perhatian khusus, tidak pernah sekalipun Aron kemari untuk satu dua minggu tinggal bersama. Hingga saat ini Leah tidak tahu apa yang dirasakan oleh Aron padanya. Begitulah, Aron memperlakukan kedua istrinya. 


--


Di tempat lain, Andrea dan Aron berada di dalam satu kamar yang sama. Namun, Andrea sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ia menghadap laptopnya sembari sesekali memakan desert yang ia dapatkan sebelum ini. “Ah, aku benar-benar bosan. Seharusnya sekarang aku bisa pergi ke luar. Aku tak suka berlama-lama di dalam ruangan,” keluhnya. 


“Kau mau jalan-jalan?” tanya Aron. 


“Ah tidak untuk saat ini, aku mau membuka sosial media terlebih dahulu. Mencari berita yang menarik,” jawabnya seraya membuka salah satu media sosialnya untuk mencari berita guna menghilangkan rasa bosannya yang cukup mengganggu. 


Andrea masih belum nyaman berada di sini, tetapi ia tak bisa jujur karena mungkin Aron pun sama, belum nyaman dengan adanya Andrea di hidupnya. Jadi, wanita itu hanya berusaha menerima dan melanjutkan apa yang sudah terjadi. Lagi pula sudah terlanjur dan hanya sementara, jadi tak masalah jika ia melakukannya dengan sabar. 


Aron yang semula rebahan di atas sofa, bangkit seraya memegang perutnya yang merasa tak enak. Ia tak tahu apa penyebabnya, tapi seingatnya ia makan sesuatu yang sehat sejauh ini. 


“Kau mau ke mana?” tanya Andrea menyadari raut wajah Aron yang berubah. 

__ADS_1


“Aku akan ke kamar mandi, perutku benar-benar tak nyaman,” jawabnya seraya melangkah meninggalkan Andrea yang masih sibuk menatap layar laptopnya. 


Lima menit kemudian Aron kembali keluar, ia duduk di sofa dan berjalan-jalan kecil di dalam ruangan seraya memegang perutnya. “Ah sial, kenapa perutku? Padahal sepuluh menit lalu aku baik-baik saja, sekarang benar-benar tidak enak,” keluh Aron. 


“Sebaiknya kau telepon nomor apotik terdekat dan minta padanya untuk mengantarkan obat yang kau butuhkan. Jika kau tak minum obat, kau akan seperti ini terus-menerus. Kau tidak akan sembuh sampai besok. Maka dengarkan saranku dan teleponlah nomor apotik yang kau tahu,” pinta Andrea seraya mengunyah makanannya. 


Memang cukup risi melihat Aron yang bolak-balik di depannya dengan memasang wajah mulas dan itu membuatnya tak nyaman. “Jika kau tidak punya, aku bisa keluar membantumu atau kita memesannya melalui ojek online. Kau pilih saja salah satunya, aku tidak suka melihat kau seperti itu. Kalau kau sakit sampai besok, kau tidak akan bisa bekerja,” lanjut Andrea. 


“Ah baiklah, aku akan menelpon salah satu apotik terdekat.” Atas saran Andrea, Aron langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan mulai menghubungi nomor salah satu apotik yang diketahuinya. “Halo, saya Aron. Saya tidak tahu kenapa perut saya tidak enak. Saya membutuhkan obat untuk meredakannya. Tapi saya tidak bisa keluar untuk saat ini, jadi saya minta tolong untuk mengantarkannya ke alamat yang tertera,” kata Andrea. 


“Sebelumnya apakah Anda mengalami kesulitan buang air besar?” tanya petugas itu. 


“Baik, kami akan mengirimkan obatnya segera,” putusnya. 


Setelah itu ponsel dimatikan dan ditaruh kembali di atas meja kecil. Sekali lagi Aron masuk ke kamar mandi, keluar dan kembali bolak-balik di dalam ruangan merasakan tubuhnya mulai tidak nyaman. “Kenapa jadi seperti ini? Padahal aku tidak makan makanan yang tidak sehat,” tanyanya pada diri sendiri. 


Andrea tak menggubrisnya dan tetap membaca artikel pada layar laptop. Lagi pula ia bukan perawat atau pun dokter yang bisa memberikan tindakan pada Aron, jadi ia hanya menunggu obat Aron tiba dan memintanya untuk segera meminumnya. Tak ada yang harus ia lakukan saat ini kecuali membaca di dalam ruangan ini menghilangkan bosannya yang hampir membunuhnya perlahan. 


Kembali Aron masuk ke dalam kamar mandi. Namun lima menit kemudian, gawainya berbunyi. Andrea bangun dari duduknya dan melihat nomor asing terpampang di layar. Karena ia yakin bahwa penelpon adalah seseorang yang mengantarkan obat, jadilah Andrea langsung mengangkatnya. 

__ADS_1


“Halo,” sapanya. 


“Halo, kepada Bapak Aron, saya sudah di depan rumah Anda untuk memberikan obat.”


“Baik, saya akan keluar sekarang.”


Andrea mematikan sambungannya, lalu menaruhnya lagi di meja seperti semula sementara dirinya langsung keluar untuk mengambil obat milik Aron. Ternyata di depan memang sudah ada seorang pria berjaket yang sudah menunggunya di depan rumah. 


“Terima kasih,” kata Andrea seraya mengambil spunbond berisi obat. “Apakah petunjuk penggunannya sudah tertera di dalamnya?” tanyanya dengan ramah. 


“Sama-sama, Bu. Benar, petunjuk penggunannya sudah ada di dalamnya. Namun jika Bapak Aron masih bingung, sangat dianjurkan untuk menghubungi pihak apotik lagi agar tidak terjadi kesalahan yang fatal, itu akan membahayakan,” jawabnya.


“Baik, saya mengerti.”


Setelah itu Andrea kembali masuk menuju ruangannya untuk melanjutkan membaca artikel dan memberitahukan Aron bahwa obatnya sudah tiba. Namun, saat ia baru saja melangkahkan satu kakinya terdengar dering dari benda persegi panjang milik Aron. Siapa? Kali ini Andrea mulai ragu mengangkatnya karena barangkali berasal dari orang penting. Pikirnya Aron sudah tidak ada hubungan lagi dengan pihak apotik terdekat. 


“Aron,” panggil Andrea dengan lantang. “Aron, obatmu sudah ada, jadi segeralah keluar jika kau sudah selesai melakukan ritual di dalamnya. Kau harus segera meminum obatmu dan istirahat setelah ini. Keluarlah segera,” lanjutnya seraya menaruh obat di atas meja dekat pintu. 


Ponsel milik Aron sudah kembali mati karena Andrea tak mengangkatnya, tetapi ketika wanita itu hendak duduk, benda pipih itu kembali berdering. Andrea ragu untuk mengangkatnya atau tidak, karena ia tak mau ikut campur urusan Aron, tetapi bagaimana jika panggilan itu penting? Andrea berjalan mendekati ponsel Aron untuk melihat siapa gerangan yang menelpon pria itu. 

__ADS_1


Sementara di lain tempat, Leah menggerutu karena panggilannya tak dijawab oleh Aron. “Kau ke mana? Apa kau tak memiliki waktu sekadar untuk menjawab panggilanku? Tolonglah, aku ingin tahu siapa istri barumu itu yang bisa memikat hatimu sekali lagi.” Leah berkata pada dirinya sendiri, bersiap untuk melayangkan protes jika Aron menjawab panggilannya. 


__ADS_2