
Anie mengamati punggung Leah. Posisi Leah tengah memunggungi Anie, ia cukup sibuk dengan ponsel di tangannya. Anie tanpa sadar berjalan mengendap bak maling saja. Ia penasaran apa yang tengah dilakukan istri pertama Aron tersebut.
"Tidak mungkin Aron sudah tidur." Leah menarik benda persegi dari telinganya. "Atau malah dia sengaja menghindari teleponku? Apa ... Aron malah sedang bermesraan dengan istri barunya?" gerutu Leah curiga.
Kepala Anie terangguk paham kenapa Leah sangat fokus dengan ponsel di telinganya. Anie mendapati Leah tengah menelpon ke nomor suami mereka, Aron.
"Baik teleponku atau teleponmu tidak akan diangkat oleh Aron, Leah." Suara Anie memecah keheningan.
Istri kedua Aron tersebut melangkah mendekat ke Leah dengan kedua tangan disilang ke belakang pinggang.
Leah tentu saja sangat terkejut mendapati Anie tahu-tahu muncul di hadapannya. Tanpa terdengar suara jejak langkah, Anie muncul bak hantu saja.
"Kenapa kau masih saja sibuk menghubungi Aron, kalau sudah tahu jawabannya seperti apa." Anie menanggapi lebih santai. "Jangan mencari penyakit sendiri. Kau akan merasa tersiksa kalau memaksa menelpon pria itu."
Leah menurunkan ponselnya ke bawah. Sorot mata Leah berubah sendu. Anie merasa kasihan kepada Leah. Aron pun keterlaluan kepada kedua istrinya di Kalimantan.
Seharusnya Aron bisa bersikap adil kepada semua istrinya. Jika Anie yang diperlakukan kurang istimewa oleh pria itu, Anie bisa maklum karena ia hanyalah istri kedua Aron. Namun kepada Leah, tidak bisakah Aron bersikap lebih baik?
Situasi yang terjadi di sini jelas membuat Leah dan Anie memiliki status yang ambang, abu-abu. Dibilang janda, suami mereka masih hidup. Bahkan baru saja melangsungkan pernikahan beberapa hari yang lalu. Namun kalau pun disebut punya suami, Aron bahkan sudah berbulan-bulan tidak pulang ke Kalimantan. Hanya uang bulanan mereka saja yang dikirim secara teratur.
Mungkin Aron lupa, seorang istri bukan hanya membutuhkan uang suami. Tapi juga perhatian, serta kasih sayang. Aron terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, sampai melupakan dua istrinya itu.
"Terkadang, aku membenci diriku sendiri. Kenapa aku tidak pernah hamil," gumam Leah menatap perutnya yang rata. "Jika saja aku bisa hamil, dan melahirkan seorang anak untuk Aron, mungkin saja Aron akan bersedia tinggal di sini bersama kita. Dia tidak perlu menikah lagi dengan Andrea ..."
Satu hal yang terlintas di kepala Anie sejak pria itu menikah lagi. "Benarkah Aron menikah lagi karena menginginkan seorang anak?"
__ADS_1
"Aku tidak setuju jika ada orang yang menyatakan uang adalah segalanya." Leah mengangkat kepalanya ke atas memansangi lampu gantung di langit-langit rumahnya. "Di rumah ini kita punya segalanya. Tapi apa kita bahagia? Kalau anak pun, tidak punya. Suami? Malah sibuk menikah lagi."
Anie memahami perasaan Leah, sebagai sesama istri dari pria bernama Aron itu. Minimal, Aron meluangkan waktunya untuk mengangkat telepon kedua istrinya. Terkadang Anie dan Leah khawatir terjadi sesuatu kepada Aron. Namun Aron terlalu dingin, perhatian Leah dan Anie dianggap tidak penting.
Anie serba salah ketika akan memberi tanggapan atas kesedihan yang dirasakan oleh Leah. Anie takut salah bicara, lantas membuat perasaan Leah semakin tersinggung.
Ada perasaan tidak rela mampir di hati Anie atas pernikahan ketiga Aron. Namun berbeda dari Leah yang pemikir, Anie jauh lebih tenang dan santai. Selama Aron tidak pernah lupa mengirim uang belanja, Anie masih bisa menghibur dirinya dengan pergi belanja, ia akan senang-senang menggunakan uang pria itu sebagai bentuk pelampiasan.
"Suatu hari nanti Aron pasti akan mempertemukan kita dengan Andrea," ujar Anie menepuk sebelah bahu Leah. "Jangan cari tahu sesuatu yang bisa membuat kau merasa sakit hati. Lebih baik kau pergi ke kamar dan istirahat saja."
***
"Siapa yang telepon?"
Andrea menarik tangannya kembali. Ia urung mengangkat panggilan dari ponsel Aron yang tergeletak di atas meja nakas.
Kedua kaki Aron basah, ia baru saja ke luar dari kamar mandi. Perutnya masih saja tidak enak, ia sampai harus wara-wiri ke kamar mandi.
Pria itu menyambar ponselnya, memeriksa panggilan dan pesan-pesan yang masuk. Aron seketika melirik Andrea di atas ranjang, lantas pandangannya kembali tertuju ke layar ponselnya yang menyala-nyala.
"Kenapa? Siapa yang telepon?" Andrea mendongakkan kepala.
"Tidak," jawab Aron menjauhkan ponselnya dari jangkauan Andrea. Parahal Andrea sama sekali tidak berniat melihat isi pesan tersebut. "Bukan hal penting. Cuma pesan spam tidak jelas," jawab Aron menutupi rasa paniknya.
Aron menunjukkan gerak-gerik aneh di mata Andrea. Pria itu wara-wiri sambil menggenggam ponsel di tangan tanpa melepasnya sama sekali.
__ADS_1
Fokus Andrea terbagi menjadi dua. Jujur saja, melihat Aron wara-wiri tidak jelas membuat kepala Andrea mendadak pusing.
"Kau sedang apa sih? Kepalaku pusing melihat kau jalan ke sana kemari mirip alat setrika!" tegur Andrea mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang menyala. "Perutmu sakit lagi?"
"Ya, lumayan." Aron mengangguk kaku.
Perut Aron jauh lebih mulas setelah melihat nomor kontak Leah muncul di layar. Hampir saja Andrea menyentuh ponselnya. Andai saja Andrea mengangkat panggilan Leah, lantas keduanya bicara—hingga tanpa sadar Leah keceplosan tentang siapa dirinya, maka rencana Aron akan terbongkar. Andrea bisa saja meminta berpisah dengannya, sebelum misi perempuan itu selesai.
Andrea akan menutup laptopnya. "Akan aku hubungi dokter pribadi keluargaku untuk memeriksamu. Aku takut ada masalah serius dengan perutmu, lalu kau akan membuatku menjadi sangat repot karena mengurus orang yang sakit!"
Aron mendelik. Andrea terlalu ceplas-ceplos saat bicara. Aron pikir Andrea merasa khawatir makanya berniat memanggil dokter pribadinya segala. Namun alasan di balik itu semua membuat Aron menelan ludah kecewa.
"Tidak perlu, Andrea." Aron menahan Andrea agar tidak menelpon dokter pribadinya. "Aku rasa, perutku ... mulai membaik. Jadi, tidak perlu. Lagi pula aku sudah mengantuk. Aku ingin istirahat setelah ini ..."
"Kau yakin, Aron?" tanya Andrea memastikan.
"Ya. Aku baik-baik saja." Setelahnya Aron pura-pura menguap.
Ia merangkak naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Andrea. "Kau tidak ingin tidur juga? Sekarang sudah malam. Tidak baik untuk begadang," ujar Aron.
"Sebentar lagi ..." Andrea tidak jadi menutup laptopnya.
Aron berbaring memunggungi Andrea. Ponsel miliknya tadi ia simpan di bawah bantalnya, setelah Aron menonaktifkan benda persegi tersebut.
Andrea sama sekali tidak menaruh curiga kepada Aron. Andrea pikir Aron kelihatan aneh karena menahan sakit di perutnya. Jadi Andrea merasa biasa saja.
__ADS_1
Coba bayangkan saja mau sampai Andrea tahu siapa yang menelpon Aron tadi, mungkin malam ini mereka akan bertengkar hebat.
Aron menarik selimutnya lebih tinggi. Ia pura-pura tidur, padahal jantungnya sedang berpacu cepat.