Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
bab 29


__ADS_3

"Dari mana saja kau, Leah?" 


Suara familiar Anie menyapa Leah dari sofa di ruang tengah. Istri kedua Aron tersebut lantas beranjak dari tempat ia duduk demi menghampiri Leah. 


Sorot mata Anie tampak berbeda daripada biasanya. Leah merasakan adanya aura tak lain dari perempuan itu. 


"Selama kau di luar, kau tidak membuat masalah kan, Leah?" selidik Anie mengamati wajah Leah yang tenang. 


"Maksud kau apa, Anie? Kau sedang menuduhku?" Leah tersinggung. "Apa setiap kali aku pergi, aku harus meminta izin darimu? Apa kau sudah beralih statusmu sebagai orang tuaku?" 


Anie menyadari Leah tersinggung kepadanya. Anie menghela napas panjang tanpa kentara, ia tidak bermaksud membuat Leah seperti sedang diinterogasi. 


Semenjak Aron menikah lagi, sikap Leah berubah cukup signifikan. Leah menunjukkan gerak-gerik menjadi pemberontak. Anie hanya khawatir Leah melakukan sesuatu di luar batas. 


Hubungan Anie dan Leah cukup hangat jika dibandingkan dengan madu-madu lainnya. Leah dan Anie sudah seperti saudara perempuan yang saling menyayang, melindungi. Itu yang Anie lakukan sekarang. Ia mencoba melindungi Leah, agar Leah tidak melakukan tindakan yang akan membuat Aron marah besar. Leah bukan hanya terancam diceraikan saja, tapi akan mendapat masalah. 


"Kau tenang saja, Anie. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatku rugi." Leah menatap Anie, dingin. "Kalau pun aku melakukan sesuatu yang merugikan, itu hanya akan terjadi padaku saja. Aku tidak akan menyeret kau dalam masalah yang telah ku buat." 


"Maksud kau, Leah?" gumam Anie bingung. 


Leah enggan menjawab pertanyaan Anie. Ia berlalu meninggalkan madu-nya menuju ke kamar miliknya yang ada di lantai atas. 


Perlahan tubuh Anie bergerak mengikuti ke mana arah Leah pergi. Anie curiga, Leah tengah merencanakan sesuatu di belakangnya. Namun entah itu apa, karena Anie pun tidak bisa menebaknya. 


"Aku harus sering-sering mengawasi Leah. Bohong kalau nantinya aku tidak ikut terseret," ujar Anie penuh rasa khawatir. 


*** 

__ADS_1


"Tidak usah memasak. Aku tidak ingin melihat kau ada di dapur—dengan alasan ingin memasak mi instan sekali pun!" 


Entah cuma perasaan Andrea saja atau memang Aron saja yang tengah menaruh simpati kepadanya—karena kondisi kesehatannya menurun beberapa hari terakhir ini. 


Ini tidak seperti ada yang di dalam kesepakatan mereka dari awal. Aron lama-lama terbawa perannya sebagai seorang suami. Baiklah, Aron dan Andrea memang melakukan hubungan suami-istri karena—tujuan Andrea menikah—agar bisa memiliki seorang anak. Itu ia lakukan semata-mata agar bisa memenuhi wasiat mendiang ibunya. 


"Kalau aku tidak memasak, lalu aku makan apa nanti siang?" protes Andrea mengepalkan kedua tangannya. 


"Tinggal delivery saja kan bisa," jawab Aron santai. "Jangan bertingkah seolah kau tidak punya uang, Andrea," sindir pria itu. 


"Aku tidak suka makanan di luar. Kau tahu, belum tentu makanan yang di jual jelas higienis atau tidak! Kau mau tanggung jawab kalau aku tambah sakit?" ancam Andrea. 


Jawaban Aron selanjutnya sama sekali tidak pernah berada di kepala Andrea sebelumnya. Karena pria itu menyahut, "Bahkan dengan menikah dengan kau, ini salah satu bentuk tanggung jawabku. Kalau kau minta tanggung jawab lagi, aku harus apa?" 


Andrea salah tingkah, tapi masih bisa menahan diri. Namun semburat di pipi perempuan itu tidak dapat ia sembunyikan. 


"Justru karena aku bertanggung jawab atas kau, karena kau istriku. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Jika kau sakit, aku bersedia merawat kau sampai sembuh. Jadilah, menurutlah kepadaku," punya Aron. 


"Tetaplah istirahat di kamar. Aku akan pulang cepat. Kau ingin kubawakan sesuatu saat pulang nanti?" tanya Aron. 


"Tidak ada. Saat aku ingin makan sesuatu, lebih baik aku delivery. Bukankah itu yang kau ajarkan kepadaku tadi?" sindir Andrea. 


"Anak pintar," ujar Aron menepuk puncak kepala istrinya. "Kau cepat tanggal sekali. Aku jadi lebih menyukai kau yang manis begini." 


Andrea mendengus. Ia tidak suka setiap kali Aron mulai bertingkah layaknya seorang pecinta wanita yang gemar merayu di sana-sini. Daripada salah tingkah karena dirayu, Andrea lebih merasa geli saja. 


"Aku pergi sekarang ya. Kau jaga diri baik-baik di rumah. Jika kau sudah menemukan makanan apa yang ingin kau makan nanti, jangan lupa kabari aku." Aron mengerlingkan sebelah matanya. Satu tangannya menarik knp pintu kamar mereka. 

__ADS_1


Tubuh tinggi tetap Aron menghilang dari balik pintu kamar. Andrea menurunkan kedua bahu, setengah heran kenapa bisa-bisanya ia menuruti kata-kata Aron. Kan, Aron cuma suami bayarannya saja! 


*** 


Suasana rumah di siang hari terasa lebih sepi. Ditambah Andrea cuma sendirian saja di rumah. Tadi setelah ia dan Aron selesai sarapan bersama, pria itu pamit pergi karena urusan pekerjaan. 


Aron telah melarang dengan keras supaya istrinya tidak melakukan pekerjaan rumah. Mau memasak, bersih-bersih. Bahkan memegang sapu sekali pun—mungkin Aron sudah mencak-mencak. 


"Aku rasa, dia terlalu terbawa suasana. Apa dia lupa kalau pernikahan kami hanya sebatas kontrak?" Andrea berguling-guling di atas ranjang. "Aku jadi ingin cepat hamil, lantas berpisah dari Aron. Aku tidak bisa tinggal bersama pria seperti Aron. Lama-lama dia seperti suami sungguhan saja," gerutu Andrea memukul-mukul kedua pahanya. 


Di sela-sela lamunannya—padahal terdapat layar ponsel yang menyala menunjukkan sebuah program acara lewat youtube, ponsel Andrea bergetar, detik berikutnya berdering keras. 


"Baru saja aku mengeluhkan pria ini, sekarang dia mencoba menghubungiku." Andrea mengibaskan rambutnya. 


Semula, Andrea enggan mengangkat telepon dari Aron. Namun, pria itu malah mengirim spam, hingga kedua telinga Andrea lama-lama jengah juga. 


"Apa sih? Bukannya kau sedang sibuk bekerja sekarang? Aku ingin tidur!" Andrea marah-marah. Suasana hatinya sering sekali memancing kesabarannya yang memang sudah tipis dari dulu. 


"Kau tidak mengirim pesan apa pun padaku. Jadi aku menghubungi kau untuk mengingatkan. Kau sudah menemukan makanan yang ingin kau makan?" celetuk Aron agak konyol. 


Andrea menarik napas kasar. Daripada terkesan ingin memberi perhatian, Andrea lebih menganggap Aron tengah mengganggu dirinya. 


"Aku kan sudah bilang tidak ingin makan apa pun. Aku ingin makanan yang dimasak sendiri. Tidak mau makanan yang dijual di luar!" amuk Andrea. "Kalau kau ingin makanan itu, lebih baik kau beli, lalu makanlah sendiri!" 


"Sebentar lagi aku akan pulang. Aku ingin membawakan kau sesuatu. Bagaimana kue yang manis?" 


"Kau ingin aku menjadi gemuk?" sungut Andrea. 

__ADS_1


"Astaga! Kau tidak mungkin makan kue-nya sampai satu toko, kan? Tidak akan menjadi gemuk! Kalau kau gemuk juga, aku tidak masalah. Bukankah tambah nyaman untuk dipeluk saat tidur?" goda Aron. 


Andrea semakin jengah. Ingin sekali Andrea membenturkan kepala Aron ke dinding, jika saja pria itu ada di sini! 


__ADS_2