Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 24


__ADS_3

Rasanya, meja makan di rumahnya terlalu luas kalah hanya diisi oleh dua orang saja. Masih ada banyak sekali sisa kursi yang kosong, daripada yang diduduki. 


Suasana hati Leah belum sepenuhnya pulih. Ia masih kesal karena teleponnya tidak diangkat oleh suaminya. Kalau pun Aron sudah tidur tadi malam, setidaknya Aron mengirim sebuah pesan pagi ini. Leah mengenali suaminya yang selalu bangun pagi. 


Anie menyadari kalau Leah belum berhenti memikirkan Aron. Anie menyuap makanan ke dalam mulutnya. Tatapannya terarah lurus pada Leah yang cuma mengaduk-aduk makanan di piringnya. 


"Leah, kau tahu mal yang baru buka satu bulan yang lalu, kan?" Anie memecahkan kesunnyian di meja makan. 


"Mm, iya." Leah masih mengaduk-aduk makanannya. "Memangnya ada apa sama mal itu?" tanya Leah. Kali ia melirik Anie. 


Anie menelan makanannya lebih dulu sebelum kembali bicara. "Aku dengar barang-barang yang dijual di sana banyak sekali yang bagus. Bahkan baju, tas, jam tangan branded cukup lengkap di sana." Anie meneguk air minumnya di gelas. "Bagaimana kalau siang ini kita jalan-jalan ke sana? Sudah lama kita tidak pergi berdua. Kau mau, kan?" ajak Anie. 


"Tidak, kau saja. Aku sedang malas ke mana-mana." Leah meletakkan alat makannya ke atas piring. 

__ADS_1


"Ayolah, Leah." Anie terus menbujuk perempuan itu. "Memangnya kau tidak bosan di rumah terus? Aku bahkan ingin pergi berlibur ke luar negeri," ujar Anie dengan mata menerawang. 


Leah mengerjapkan sepasang matanya. Ucapan Anie baru saja menarik perhatian Leah, hingga muncil sebuah ide di kepalanya. 


"Anie," panggil Leah. Hanya dalam waktu hitungan detik saja, raut wajah Leah berubah lebih berseri-seri. 


"Apa? Kau mau ikut aku jalan-jalan ke mal baru?" Anie menyahut antusias. "Ayolah! Aku akan bersiap-siap setelah ini." 


"Lalu, apa?" Tanggapan Anie santai, ia bahkan menyiapkan makanan ke dalam mulutnya. 


"Kau ingin pergi liburan, kan?" tanya Leah. 


"Iya." Anie mengangguk. "Kenapa? Kau mau mengajakku liburan? Kau sudah mencari destinasi yang tepat?" cerocos Anie. 

__ADS_1


"Anggaplah aku mengajak kau berlibur." Leah tersenyum penuh arti. "Kita bisa susul Aron ke rumah barunya, sekalian kita jalan-jalan ke kota itu." 


Anie memekik, "Apa?" Leah terdiam melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Anie baru saja. "Leah, aku mohon jangan membuat masalah dengan Aron! Dia akan membunuh kita kalau sampai kau dan aku nekat menyusul ke rumah barunya. Apa lagi Andrea kan tidak tahu Aron punya dua istri?" 


"Kalau begitu, kita tidak perlu pergi menemui Aron di rumah barunya. Kita bisa menyewa hotel, dan mengawasi suami kita dari jauh ..." 


Anie menggelengkan kepalanya. "Tidak, berhenti, Leah." Leah menatap Anie, tajam. "Bukannya aku tidak mau menemani kau pergi menemui Aron. Kau tahu sendiri suami kita seperti apa. Orang-orang Aron ada di mana-mana. Jadi, sebelum kita ketahuan, lebih baik kita mencari aman saja." 


Terlalu berisiko kalau sampai Leah dan Anie nekat menyusul Aron—di mana tempat pria itu tinggal bersama istri barunya sekarang. 


Inilah perbedaan Leah dan Anie. Leah terlalu menggunakan perasaannya, padahal ia sudah tahu bagaimana karakter pria itu. Sedangkan Anie, ia terlalu takut mencari masalah kepada Aron. Walau pria itu adalah suami mereka, Aron tetaplah orang yang harus mereka waspadai. Aron layaknya air yang mengalir. Tampak tenang, namun bahaya. Anie tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu kepadanya atau Leah, kalau Aron benar-benar menemukan mereka ke luar dari Kalimantan tanpa sepengetahuan Aron. 


"Aku rindu dengan Aron," gumam Leah. "Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan pria itu, kalau teleponku saja tidak pernah mendapat respons darinya?" keluh Leah nelangsa. 

__ADS_1


__ADS_2