Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 34


__ADS_3

"Saya ucapkan selamat, Pak, Bu! Bu Andrea sedang hamil enam minggu ..." 


Begitu lega perasaan Andrea saat ini. Misi agar ia bisa hamil lebih cepat telah tercapai. Ia tidak menyangka di usia pernikahan mereka yang masih menginjak dua bulan, Andrea telah diberi kepercayaan memiliki momongan. 


"Terima kasih, dokter," ucap Andrea ketika ia dan Aron beranjak dari kursi. 


"Sama-sama, Pak, Bu." Dokter lalu menyarankan, "Tolong jaga kandungan Ibu, ya. Perhatikan asupan makanan yang masuk. Jangan lupa minum susu dan vitaminnya, ya." 


"Baik, dokter," sahut Andrea. 


Pasangan suami-istri itu ke luar dari ruangan dokter dengan perasaan yang jauh berbeda. Jika dalam isi kepala Andrea—ia hamil, itu tandanya berakhir pernikahan mereka. Sesuai isi kontrak yang dibuat, pernikahan Andrea dan Aron tidak akan berlanjut. Mereka akan bercerai dalam waktu dekat—setelah Aron dengan sengaja akan membuat skandal. 


Sementara dari sudut pandang Aron sendiri, ia tengah mencari cara agar pernikahannya bersama Andrea tidak berakhir. Ia yang sudah jatuh ke dalam pesona Andrea, lantas tidak rela berpisah dari perempuan itu. 


Andrea telah mengubah Aron yang dingin, tidak percaya cinta, dan perempuan—malah jatuh cinta kepada Andrea—yang sama dinginnya. Andrea tidak percaya cinta dan pria. Aron bisa merasakan betapa dalam luka hati Andrea sampai-sampai tidak mempercayai pria di belahan dunia mana pun. 


"Sepertinya, aku akan mengadakan pesta." Andrea bicara sendiri di dalam mobil. 


"Pesat menyambut kehamilan kau?" sahut Aron. 


"Perpisahan kita," jawab Andrea jujur. "Kau harus menepati janjimu, Aron. Mulai dari sekarang renungkan skandal apa yang akan kau rencanakan. Cepat atau lambat, kita harus berpisah seperti rencana sadari awal." 


Aron menyeringai. "Sepertinya aku lupa mengatakan kepada kau." 


"Tentang apa?" 


"Aku berubah pikiran." Andrea mengerutkan dahinya. "Aku urung berpisah darimu. Aku mulai jatuh hati padamu, Andrea ..." 

__ADS_1


*** 


Tepat di hari Andrea dinyatakan hamil anak pertamanya, maka di hari yang sama pula, Aron menunjukkan siapa dirinya kepada Andrea. Pria itu membayar sejumlah pria berbadan besar untuk menjaga Andrea secara ketat di rumahnya. 


Andrea memberontak, ia merasa tidak terima karena telah dibohongi oleh Aron. 


"Diamlah, Andrea. Kalau kau terus berteriak, kau bisa kelelahan. Ingat, kau sedang hamil anakku sekarang." 


"Aku tidak peduli!" Andrea mencak-mencak. "Ini tidak sesuai dengan perjanjian kita! Aku tidak ingin hidup lama-lama dengan kau! Jadi, lepaskan aku, sialan! Aron!" 


"Tidak akan aku lepaskan. Kau itu milikku. Ibu dari anakku, bagaimana bisa aku melepaskan kau? Lebih baik mulai sekarang kau harus belajar menerima pernikahan ini, Andrea. Bukankah kau yang dari awal menginginkannya?" 


"Iya, benar! Tapi untuk selamanya. Ingat, sementara!" amuk Andrea kehabisan kesabaran. "Kau pria mengerikan, Aron! Kau bukan mencintaiku, tapi terobsesi padaku!" 


Aron seolah menutup kedua telinganya. Tidak peduli Andrea menolak dirinya, Aron tetap pada pendiriannya untuk tidak melepaskan Andrea apa pun alasannya. 


Aron akui, ia tidak menepati janjinya kepada Andrea. Bagaimana tidak, Aron terlanjur mencintai Andrea. Aron rasa, Andrea memiliki magnet pada dirinya, sampai Aron begitu tergila-gila. Padahal kebersamaan mereka terlalu singkat. Kepada kedua istrinya saja, Aron tidak pernah. Bertahun-tahun ia menikahi Leah, dan Anie, sekali pun Aron tidak pernah menaruh hati ke salah satu perempuan itu. 


"Aron! Aron, buka! Lepaskan aku!" teriak Andrea hendak berlari ke luar kamar. 


Brak! 


Terlambat. Karena Aron telah menutup pintunya dari luar. Andrea telah mencoba menarik knop pintu, tapi usaha Andrea seakan sia-sia. 


"Perketat penjagaan di rumah ini. Saya tidak mau dengar Andrea kabur dari rumah. Jika itu terjadi, maka nyawa kalian akan menjadi taruhannya. Mengerti?" peringat Aron kejam. 


*** 

__ADS_1


Andrea menolak untuk makan sejak ia menjadi tahanan di rumah suaminya sendiri. Tidak, semula Aron tidak mengaku bahwa rumah yang mereka tinggali sejak pertama menikah. Aron bilang itu cuma rumah sewaan, agar dapat meyakinkan kepada orang-orang bahwa mereka menikah karena saling mencintai. Bukan sebatas kontrak. 


Andrea sedang hamil muda. Kesehatannya sedikit menurunkan efek karena mengandung. Andrea menolak makan, bicara, bahkan minuman di gelasnya pun masih utuh. Andrea mengancam Aron—kalau ia lebih baik mati kelaparan, daripada harus mempertahankan pernikahannya dengan Aron. 


"Aku membawakan makanan kesukaan kau, Andrea." Aron duduk di hadapan istrinya. "Kau boleh marah padaku. Tapi tolong jangan hukum calon bayi kita juga," bujuk Aron. 


Andrea mendongak. Ia menatap tajam pria di hadapannya. "Aku tidak akan mau makan—sebelum kau melepaskanku!" 


"Tidak, Andrea. Jawabannya tetap tidak." Aron menggeleng tegas. 


Aron malah berencana membawa Andrea ke Kalimantan. Ia, Andrea, serta kedua istrinya yang lain akan tinggal di satu atap yang sama. Aron khawatir Andrea bisa saja kabur sewaktu-waktu kalau tetap tinggal di kota ini. Andrea mungkin akan menghubungi anggota keluarganya, agar bisa ke luar rumah Aron. 


Andrea kini menyesal kenapa meminta Aron menikah dengannya kala itu. Andrea pikir, Aron adalah pria miskin yang hanya akan mementingkan uang, daripada perasaan. Kalau saja Andrea tahu Aron gila, lebih baik Andrea mencari pria lain. Sekarang ia terjebak, tidak bisa ke mana-mana. Seluruh bagian rumah dijaga ketat oleh banyak pengawal. 


"Kau benar-benar tidak akan makan?" Suara bariton Aron memecahkan keheningan. 


"Tidak. Buang saja makanan itu." Andrea melengos. Ia berbaring memunggungi Aron. 


Tanpa Andrea duga, pria itu malah ikutan berbaring di sebelahnya. Memeluk tubuh Andrea dari belakang seperti kebiasaan pria itu selama ini. 


"Kalau begitu, aku temani kau tidur saja. Kalau kau sudah berubah pikiran, kau bisa makan makananmu di atas meja. Aku akan pura-pura tidak melihatnya." 


Dengan begitu mudahnya Aron jatuh tertidur sambil memeluk Andrea. 


Kenapa Tuhan mempertemukan Andrea dengan pria seperti Aron? Kini Andrea hanya bisa menyesali keputusannya. Andrea ingin kabur, tapi bagaimana caranya ia bisa kabur, kalau ada  banyak pengawal? Belum lagi CCTV yang dipasang di sana dan sini. 


"Dasar pria berengsek," umpat Andrea lirih. "Kenapa bisa aku tertipu oleh Aron selama ini? Betapa bodohnya aku—tidak mencari tahu tentang Aron lebih dulu sebelum menikahi pria itu! Ya, Tuhan ... kenapa aku bodoh sekali?!" Andrea meremas ujung bantalnya. 

__ADS_1


Nasi sudah menjadi bubur. Menangis, menyalahkan diri pun tidak ada gunanya. Seperti kata Aron tadi, lebih baik Andrea belajar menerima pernikahan mereka. Aron akan melainkan apa saja untuk mendapatkan Andrea, walau dengan cara paling ekstrim sekali pun. 


Andrea menurunkan pasangan, menatap sepasang tangan Aron yang melingkari perutnya. 


__ADS_2