Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 30


__ADS_3

Bagi kaum perempuan di belahan dunia mana pun, jika membahas masalah berat badan adalah sesuatu yang sensitif. 


Sebenarnya yang memulai duluan adalah Andrea sendiri. Aron cuma menawarkan membeli kue. Kata orang-orang, suasana hati yang kurang baik akan sembuh setelah memakan makanan manis. Jadi, cukup baik kan niat Aron sebagai suami? Tapi reaksi Andrea malah di luar dugaan.  


"Kalau tidak mau kue ya sudah. Kenapa kau malah marah-marah? Lagi pula kau sudah cantik, mau seperti apa pun berat badan kau, aku tetap menyukainya." 


"Ah, jadi kau merayuku, karena aku cantik di matamu? Kau tipikal pria yang lebih menyukai paras daripada hatinya, ya?" celetuk Andrea. 


Astaga, ya, Tuhan! Kenapa lagi dengan perempuan ini? Apa saja yang Aron ucapkan adalah sebuah kesalahan. Tadi soal kue, sekarang masalah fisik. Aron sama sekali tidak membahas fisik Andrea. Malahan Aron mencoba meyakinkan kalau istrinya akan tetap terlihat baik-baik saja walau berat badannya naik. Namun, usaha Aron terasa sia-sia. 


"Ya sudah. Baiklah. Aku minta maaf pada kau." Akhirnya Aron mengalah. "Kalau kau tidak mau makanan, dan kue. Jadi kau menginginkan apa dariku?" tanya Aron. 


"Kau—berhentilah menggangguku!" pekik Andrea, lantas mengakhiri panggilan secara sepihak. "Akh! Menyebalkan sekali pria itu. Lama-lama dia sangat cerewet," gerutu Andrea kesal. 


*** 


Aron menarik benda persegi dari telinganya menjauh. Sambungan telepon diakhiri begitu saja sebelum Aron selesai bicara. 


"Astaga," pekik Aron menahan tawanya. Ia agaknya kecewa dengan reaksi Andrea. "Jadi begini rasanya ditolak seorang perempuan?" 


Aron terbiasa dikejar banyak perempuan. Dari berbagai kalangan, sifat, sampai usia pun ada. Namun baru sekarang Aron merasakan yang namanya ditolak. Dan perempuan itu adalah Andrea, istri ketiganya. 


Usut punya usut, Andrea tidak menyukai pria. Jika saja Andrea tidak diberi amanah oleh mendiang ibunya, sepertinya Andrea tidak akan nekat membuat perjanjian bersama Aron. 


Andrea tipikal perempuan dingin, tidak mudah disentuh hatinya. Aron mencoba mendekati Andrea dengan memberi banyak perhatian, tapi agaknya PR Aron terlalu banyak untuk bisa menembus dinding tinggi yang dibangun oleh Andrea. 


"Sialan," umpat Aron setengah meringis. "Andrea perempuan pertama yang telah mengubah diriku terlalu banyak. Kepada Leah, dan Anie saja, aku tidak pernah begini." 

__ADS_1


Hanya dalam hitungan hari saja, Aron terlalu mudah jatuh ke dalam pesana Andrea. Mulanya Aron hanya penasaran perempuan seperti Andrea tidak mungkin sungguhan membenci kaum adam. Dengan rasa penuh percaya diri, Aron yakin Andrea akan jatuh ke dalam pelukannya.  


Tapi lagi-lagi Aron tidak berhasil. Rasa penasarannya justru berkembang, menjadi perasaan suka kepada Andrea. Semakin lama Aron biarkan perasaan itu, perasaan Aron semakin menggebu-gebu. 


"Andrea ... Andrea ..." Aron tersenyum lebar setiap kali menyebut nama istri ketiganya. 


*** 


Leah terlalu nekat jika ingin memberontak kepada Aron. Seharusnya sebagai istri pertama Aron, Leah jauh lebih tahu dan paham seperti apa pria itu—daripada Anie. Tapi Leah susah diberitahu. Terakhir kali Anie menginterogasinya, Leah malah tersinggung, hingga akhirnya muncul suasana agak tegang. Beruntung saja Anie lebih memilih mengalah daripada ia dan Leah malah bertengkar. 


Leah mengepalkan satu tangannya, menggenggam benda persegi itu kuat-kuat. Dengan mudah perempuan itu mendapatkan rekaman telepon antara Aron dan Andrea. Sontak saja hati Leah menjadi panas. Aron ... hanya mendengar dari suaranya saja, Leah menyadari bahwa suaminya tengah dimabuk cinta kepada Andrea. 


"Apa istimewanya perempuan itu, Aron?" gumam Leah jengah. "Dari sisi mana yang Andrea punya, sampai kau melupakan aku dan Anie di sini?" 


Anie sudah memberitahu Leah agar tidak melakukan tindakan apa-apa. Namun karena pada dasarnya perempuan suka mencari penyakit, Leah adalah salah satu contohnya. 


"Anie harus tahu ini. Dia tidak boleh terus menerus santai!" Leah bergegas ke luar dari kamarnya. "Jika dia terus diam seperti prinsipnya. Maka cepat atau lambat, dia atau aku akan dibuang oleh Aron!" 


"Anie! An!" teriak Leah menuruni anak tangga di rumahnya. 


"Leah! Aku di sini," seru Anie melambaikan tangan di lantai bawah. 


Leah mempercepat langkahnya turun ke bawah. Anie tengah santai menyesap teh di sore hari sembari mengamati majalah fashion yang biasa ia koleksi. 


"Anie, kau harus dengar ini!" Anie agak terkejut, Leah tiba-tiba menyodorkan ponselnya ke depan wajah Anie. 


"Kau mau aku mendengarkan apa sih, Leah? Duduklah di sini bersamaku. Akan aku tuangkan teh untuk kau," ajak Anie. 

__ADS_1


"Tidak! Ini bukan saatnya kita menikmati teh." Leah menarik tangan Anie, meletakkan benda persegi di atas telapak tangan Anie. "Dengarkan sendiri, lalu aku ingin mendengar keputusan yang kau ambil." 


"Hah?" Anie membeo. Ia menggosok belakang rambutnya. 


*** 


"Dasar pria pembohong!" maki Andrea. "Di mana-mana semua pria memang sama!" 


Andrea tengah dikuasai oleh perasaan kesal, penuh amarah. Bagaimana Andrea tidak kesal, kalau Aron tidak kunjung pulang—padahal pria itu tadi mengaku akan pulang saat menjelang sore hari. Tapi sampai jam menunjukkan pukul enak sore, Aron tidak menunjukkan batang hidungnya. 


"Aku bisa mati kelaparan kalau begini!" Andrea memutuskan turun dari ranjang. Masa bodoh kalau Aron nantinya akan marah padanya. "Memangnya Aron siapa? Hubungan kami hanya sebatas kontrak. Setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan terbebas dari pria itu!" 


Andrea melangkah menuju ke dapur. Karena seharian ini Andrea tidak menyentuh alat di dapur sama sekali, dapur pun dalam keadaan bersih. Andrea langsung menyambar panci khusus merebus mi. 


"Di mana Aron menyembunyikan mi instan milikku?!" pekik Andrea. Ia sampai membuka seluruh isi lemari di dapur cuma untuk mencari mi instan miliknya. 


"Sepertinya dia berniat membuatku kelaparan di rumah sendiri. Wah, bukankah ini namanya pembunuhan berencana? Malang sekali nasib anakmu ini, Ma. Aku akan mati di tangan suami kontrakku sendiri!" 


Omelan Andrea sekarang menjadi rekor pertama perempuan itu bicara sangat panjang lebar. Andrea terlalu kesal kepada suaminya. Aron sendiri yang berjanji, Aron pula yang mengingkari. 


"Itu sebabnya aku benci pria," umpat Andrea. 


Alhasil, Andrea tidak bisa memasak mi instan karena ia tidak dapat menemukannya. Aron pasti sengaja menyembunyikan makanan itu dari Andrea. Padahal yang membeli kan, Andrea sendiri! 


"Aku sungguh kelaparan sekarang! Aku pergi ke luar saja membeli makanan. Aku bisa membeli nasi goreng, atau bakso." Andrea tidak mempedulikan jika Aron akan murka. Andrea sama sekali tidak peduli. Karena perjanjian di dalam kontrak, "Tidak ada yang boleh mengganggu kesenangan masing-masing." 


Andrea mengambil dompet ke dalam kamarnya. Ia ke luar rumah hanya mengenakan sepasang piyama lengan panjang, tidak lupa ia membawa uang untuk membayar makanan yang akan ia beli. 

__ADS_1


__ADS_2