
Anie menyadari sejak awal bahwa tidak ada yang dicintai oleh Aron di antara Leah atau pun Anie. Mereka bisa menikah, semuanya atas campur tangan orang tua. Mungkin itu alasan Aron enggan pulang menjenguk Leah dan Anie di Kalimantan lebih sering. Hanya saja, Leah terus saja berusaha agar Aron melihat dirinya. Padahal mau dicoba seperti apa pun, Aron tidak pernah menaruh hati kepada kedua istrinya. Tidak tahu juga kalau ke Andrea.
Aron ke luar kamar mendengar suara teriakan Andrea dari area dapur. Saat sampai di sana, Aron melihat air dari wastafel dapur jadi terciprat ke mana-mana.
"Kenapa dengan keran air-nya, Andrea?" tanya Aron, ia lantas mencari kain untuk menutupi keran air yang bocor.
"Tidak tahu. Tiba-tiba saja sudah begini," jawab Andrea mengusap wajahnya yang basah.
Setengah bunuh Andrea telah basah kuyup. Aron mencoba menghentikan air-nya, dan Aron pun berhasil.
Sementara itu Andrea masih sibuk mengusap wajahnya. Tanpa sadar, Aron tengah menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada apa?" Andrea kelihatan bingung.
__ADS_1
Sepasang mata Aron tertuju pada tubuh Andrea. Kaus besar Andrea berwarna putih tersebut ternyata terawang, Aron bisa melihat belahan dada Andrea yang cuma terhalang kaus tipis itu. Ditambah lagi celana pendek biru muda yang mengekspos kaki jenjang nan mulus istrinya.
Aron mendekat pada Andrea. Sesuatu di dalam dirinya tengah berkobar, ia tidak munafik. Saat ini Aron menginginkan Andrea.
Sebelah tangan Aron melingkari pinggang Andrea, bersiap mencium bibir Andrea, namun perempuan itu mencoba menahan Aron dengan mendorong dada suaminya.
"Kenapa? Kau menolak untuk segera memiliki bayi?" bisik Aron di telinga Andrea.
Mendengar kata 'bayi', Andrea jadi teringat dengan misinya. Andrea menimbang, jika ia menolak, Andrea tidak kunjung mendapatkan anak.
Pada akhirnya Andrea pasrah. Tangan besar Aron menjamah tubuhnya, bibirnya mencecap setiap inci tubuhnya tanpa ampun. Di dalam dapur yang masih berantakan, Aron memaksa Andrea untuk melepas bajunya—walau Andrea menginginkan di kamar saja.
"Sensasinya akan beda," gumam Aron. Ia lantas meloloskan kaus Andrea, membuang benda itu ke lantai dapur yang basah.
__ADS_1
***
Pernikahan mereka boleh sebatas kontrak, bahkan pernikahan Andrea dan Aron hanya siri. Namun soal urusan ranjang, sepertinya mereka sama-sama menikmati, walau Andrea enggan mengakui.
Kegiatan ranjang antara Andrea dan Aron berjalan sesuai pasangan pada umumnya. Mulanya Andrea selalu gugup, terkadang ia malu. Namun seiring berjalannya waktu, Andrea mulai terbiasa dengan kegiatan itu. Terlebih Aron yang mudah terpancing—hanya dengan melihat Andrea berpakaian mini, atau tanpa sengaja melihat Andrea berganti pakaian di kamar. Setelah itu bisa kalian tebak apa yang akan dilakukan Aron kepada tubuhnya.
"Apa lagi yang belum kau beli?" tanya Aron.
"Ikan," jawab Andrea.
Pasangan pengantin baru itu tengah berbelanja bahan-bahan dapur. Mereka pergi berdua, mendiskusikan bahan apa saja yang akan mereka beli, dan dibutuhkan.
"Andrea, kau kenapa?" Aron berhenti mendorong troli-nya karena Andrea tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
Tidak lama setelahnya Andrea mengaku mual. Perutnya seolah seperti diaduk-aduk.
"Aku ingin muntah!" seru Andrea. "Aku ... mau ke kamar mandi. Kau tinggi di sini saja!" seru Andrea, lari menuju ke toilet, dan meninggalkan Aron di depan rak ikan.