
Sinar matahari masuk dari jendela, menembus tirai putih tipis yang menutupnya. Tampak kelopak-kelopak mawar tersebar di sekitar ranjang sementara seorang wanita masih bergelung selimut di atasnya sambil menutup mata.
Andrea mengerutkan keningnya, mengangkat lengannya untuk menutupi kedua matanya, silau karena cahaya terang yang mengganggu tidurnya. Dia merasa baru tidur setengah jam. Kenapa ini sudah pagi lagi? Dia menoleh ke ranjang sebelahnya dan tidak mendapati siapa pun ada di sana. Aron sudah bangun.
“Ah, pinggangku,” keluh Andrea sambil membelai pinggangnya yang terasa akan lepas. Seluruh tubuhnya juga seperti remuk. Yang terjadi semalam benar-benar gila. Tidak, lebih tepatnya, Aron benar-benar gila. Setelah kesadarannya cukup terkumpul, dia segera bangkit dari ranjang dan kacau lalu berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi sambil membawa baju santai rumahan yang berada di paling atas tumpukan baju di koper. Ah, Andrea jadi ingat dia harus segera membereskan barang-barangnya yang masih berada di dalam tas dan koper.
"Apa dia kesurupan semalam? Dia meninggalkan banyak sekali jejak di tubuhku," gumam Andrea kembali menatap tubuhnya di cermin.
Andrea menyentuh beberapa titip yang ada bekas kecupan di dadanya dan itu membuat Andrea kembali mengingat sensasi yang semalam dirasakannya. "Astaga, apa yang aku pikirkan," ucapnya berusaha menepis semua ingatannya tentang kejadian semalam.
Setelah berhasil menepis ingatan semalam, Andrea segera mengeringkan rambut gelap dan panjangnya serta menggunakan produk perawatan kulit yang rutin dipakainya, Andrea akhirnya melangkah ke luar kamar, menuju lantai pertama. Telinganya mendengar ada gerakan di dapur, tanpa sadar kedua kakinya terarah ke sana.
__ADS_1
Langkah kaki Andrea berhenti tepat di pintu masuk dapur, di sana dapat Andrea lihat dengan jelas jika pria yang semalam telah memakannya itu tengah memasak. Aron terlihat begitu menguasai dapur dan itu membuat Andrea mempunyai poin tambahan untuk aron yang semakin dapat dikatakan sebagai kategori pria sempurna.
"Selamat pagi istriku," ucap Aron yang sudah menyadari kehadiran Andrea, membalik tubuhnya, menghampiri Andrea dan mengecup sekilas bibir Andrea, membuat Andrea terhanyut akan sikapnya.
Aron sendiri baru tersadar dengan tingkahnya, sebelumnya Aron tidak pernah berlaku begitu hangat pada wanita-wanita yang ada di hidupnya, tetapi berbeda dengan Andrea yang baru hadir dalam hidupnya.
"Jangan melamun, ini masih pagi. Ayo sarapan!" ajak Aron menggandeng tangan Andrea lalu duduk di kursi yang sudah tersedia di ruang makan.
Pagi apanya, ini sudah hampir jam sebelas. Batin Andrea
Keduanya makan dalam keheningan, tetapi Andrea sadar jika Aron beberapa kali mencuri pandang padanya. "Berhenti menatapku?" ucap Andrea tanpa mengangkat kepalnya menatap Aron.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" tanya Aron membuat wajah Andrea kembali memerah saat kenangan semalam kembali terlintas di benaknya.
"Tentu saja sakit, kau seperti orang kelaparan. Memakanku dengan sangat lahap," cibir Andrea sinis.
"Sekarang pun aku juga masih lapar," jawab Aron berdiri mendekati Andrea yang langsung menatap tajam padanya.
"Aron! Jangan macam-macam!" tegur Andrea.
Aron tersenyum dengan tubuh yang perlahan menunduk mendekati Andrea. "Aku suamimu dan kau ingin segera hamil. Bukankah itu bagus jika kau segera hamil?" ucap Aron kembali mengecup bibir Andrea yang lagi-lagi terdiam akan aksinya.
Sial. Dia membuatku benar-benar kembali bergairah. Batin Aron kembali berdiri dengan tegap dan menjaga jarak dari Andrea.
__ADS_1
"Makanlah! Aku perlu mengecek email!" ucap Aron memilih pergi dari sana.
"Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku?" gumam Andrea.