
Andrea merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Jam di atas nakas menunjukkan pukul enam pagi.
"Dia tidur nyenyak sekali," gumam Andrea menatap ke arah pria yang tidur di sampingnya.
Wajah tampan itu terlihat begitu tenang, meski baru bertemu tetapi sikap Aron padanya benar-benar seperti pria yang mencintai wanitanya. Aron tidak bersikap seolah semuanya sandiwara sebab semua yang Aron lakukan seakan benar-benar tulus padanya dan itu terkadang membuat Andrea sulit membedakan kebenarannya.
Andra perlahan menurunkan tangan Aron yang melilit di pinggangnya.
Ia menyibak selimut tebalnya sebelum menurunkan kedua kakinya ke lantai. Andrea berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan tubuhnya sendiri. Kedua tangannya berangkat mengikat rambutnya dengan terampil. Walau tidak cukup rapi, tapi Andrea terlihat sama cantiknya seperti biasa.
Setelah mencuci wajah, dan menggosok gigi, Andrea lantas berlalu menuju ke dapur berada. Andrea memeriksa isi kulkas lebih dahulu, memeriksa sisa-sisa bahan yang bisa ia olah untuk dijadikan menu sarapan.
"Menu rumahan yang enak buat dijadikan sarapan apa, ya?" Andrea berdiri di depan kulkas. "Bikin sayur sop, sama perkedel kentang mungkin ... ah, kebetulan masih ada sisa daging cincang juga!"
Tangan Andrea menyambar bahan-bahan yang ia perlukan. Pertama, Andrea mengupas kentang lebih dulu sebelum beralih pada sayuran sop.
__ADS_1
Tidak heran kalau Aron begitu kagum kepada istri ketiganya itu. Andrea sangat terampil dalam urusan dapur. Apa pun makanan yang Andrea buat dengan tangannya sendiri, akan terasa sangat enak sekali. Aron telah membuktikan itu sendiri.
***
Aron terbangun saat Andrea sudah tidak ada di sebelahnya. Sisi ranjang Aron telah kosong, menyisakan selimut tebalnya telah turun menjuntai ke bawah. Aron tersenyum menatap sisi ranjang di sebelahnya, kenyamanan benar-benar Aron rasakan pada istri barunya itu. Mengingat istri membuat Aron menoleh mencari keberadaan ponselnya.
Ingatan Aron kembali pada panggilan telepon yang berasal dari nomor Leah. Aron menyelipkan tangannya ke bawah bantal, menarik benda persegi itu ke luar dari tempat persembunyiannya.
"Karena benda ini aku hampir tidak bisa tidur nyenyak semalam. Bersyukur ada Andrea yang dapat membuatku nyenyak," keluh Aron memegangi belakang lehernya. "Lain kali aku tidak boleh meninggalkan ponsel secara sembarangan. Rencanaku akan berakhir kalau Andrea tahu—"
"Tahu apa, Aron?" sela Andrea yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Selamat pagi istriku," ucap Aron berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Pagi. Tahu apa maksudmu?" tanya Andrea lagi.
__ADS_1
"Tidak," jawab Aron tenang. "Memangnya aku bilang apa tadi?" tanya Aron pura-pura tidak paham.
Andrea menyipitkan matanya. "Kau kelihatan sangat mencurigakan. Bukankah gerak-gerik yang kau tunjukkan seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Apa itu? Katakan padaku sebelum aku mencari tahunya sendiri!" sindir Andrea.
"Tidak ada yang aku sembunyikan dari kau, Andrea." Aron pura-pura lelah. "Itu cuma perasaan kau saja. Oh ya, sepertinya kau baru selesai memasak? Perutku sangat lapar sekali. Aku ingin makan sesuatu yang segar," kata Aron sengaja kembali mengubah topik obrolan mereka.
"Sudah." Andrea mengangguk. "Aku baru saja selesai memasak. Tapi kau harus pergi ke kamar mandi lebih dulu sebelum pergi makan!" seru Andrea galak.
"Astaga, istriku galak sekali ..." Aron mengerlingkan matanya, mencoba menggoda Andrea.
"Diamlah, Aron! Atau sandalku ini melayang ke wajahmu!" ancam Andrea. Aron tertawa, ia sudah tahu respons apa yang akan ditunjukkan oleh perempuan itu.
"Jika kau marah begitu, kau sangat menggemaskan sekali. Aku jadi ingin mencium bibirmu," celetuk Aron berada di depan pintu kamar mandi.
Andrea memegangi belakang lehernya. Menghadapi pria itu perlu membutuhkan kesabaran yang banyak. "Coba saja kalau kau berani!"
__ADS_1
"Tidak, mencium kau saja tidak cukup. Aku akan meminta lebih," balas Aron menahan kekehannya.
Andrea sama sekali tidak goyah dengan godaan yang dilayangkan Aron baru saja. Andrea agaknya terbiasa dengan tingkah, dan ucapan Aron yang sering random.