Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 32


__ADS_3

Andrea mencium aroma wangi di kamarnya. Sepasang mata perempuan muda itu terbuka perlahan, menatap dekorasi kamar tidurnya dengan seksama. Ranjang besar itu hanya berisi dirinya, tubuhnya masih dibungkus selimut tebal yang terpaksa ia bagi berdua bersama Aron semalam. 


Kedua tangan Andrea direntangkan. Bibir kecilnya bergerak seiring ia menguap. "Baunya wangi sekali. Aku jadi lapar," gumam Andrea memegangi perutnya. 


Andrea teringat kembali dengan nasi goreng miliknya semalam. Karena ulah Aron, Andrea terpaksa membiarkan makanannya masih tersisa banyak. 


Perlahan Andrea mengubah posisinya menjadi duduk di tengah ranjang. Rambut panjang Andrea tergerai berantakan, menjuntai ke bawah. Andrea ingin berlari menuju ke dapur untuk mengisi perut lebih dulu daripada mandi. 


"Pagi, Sayang," sapa Aron menyembulkan kepalanya ke celah pintu. 


"Berhenti memanggilku dengan sebutan bodoh itu! Atau aku akan melempar kau dengan bantal dan guling!" ancam Andrea kesal. 


Aron tertawa geli. Ia mendorong pintu kamarnya lebih lebar, tangannya memegangi sebuah nampan—berisi makanan dan segelas air putih. 


"Kau pasti kelaparan sekarang. Aku tahu, karena semalam aku telah menguras energi kau," celetuk Aron tanpa malu. 


"Kau bisa diam tidak, sih? Aku muak mendengar kata-katamu yang menggelikan itu," omel Andrea.   


Aroma wangi berasal dari makanan yang Aron bawa tercium semakin dekat dan jelas. Andrea melirik makanan di piring, ia membenci momen di saat dirinya lapar, tapi ia gengsi memakan makanan yang dibawa oleh Aron. 


"Tidak perlu malu. Aku sengaja memasak makanan yang enak untuk kau. Anggap saja sebagai ganti nasi gorengmu semalam." Aron meletakkan nampannya ke atas paha istrinya. "Ayo, makan. Akan aku pastikan setelah ini kau semangat lagi." 


Andrea mendengus. Ia sudah masa bodoh sekali pun makanan itu dibuat oleh Aron. Ia lebih mementingkan perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi. 


Tanpa banyak bicara, Andrea tampak lahap mengunyah makanannya. Aron menggeleng sembari tersenyum tipis melihat Andrea begitu lahap. Ia pikir Andrea tidak akan mau memakan masakan yang ia buat khusus pagi ini. Tapi Aron bersyukur, karena Andrea kelihatan menyukainya. 


"Asal kau tahu ya. Aku memakan masakan yang kau buat, karena aku sedang lapar!" seru Andrea memberi alibi. 


"Tapi rasanya enak, kan?" 


"Lumayan," jawab Andrea. Aron menahan kekehannya. 


Fokus Aron jatuh kepada rambut Andrea yang menjuntai mengenai bahu perempuan itu. Aron lantas beranjak dari tepi ranjang, membuka laci satu per satu mencari ikat rambut. 

__ADS_1


Setelah mendapatkan benda yang ia cari, Aron merangkak naik ke atas ranjang, duduk di belakang Andrea tepat. 


Hampir saja Andrea memuntahkan kembali makanannya. Keberadaan Aron di belakangnya membuat Andrea tidak bisa bergerak, tubuhnya seolah sedang terkunci. 


"Makanlah dengan tenang." Aron tahu Andrea mematung. "Aku cuma membantu dirimu mengikat rambut. Itu saja," tutur Aron lembut. 


"Mm," gumam Andrea sebagai balasan. 


Dalam hati Andrea bergumam, "Kenapa Aron tidak segera turun dari ranjang, sih!" 


Andrea merasa tidak nyaman. Lebih tepatnya seolah terancam akan kehadiran Aron. Ditambah lagi, Andrea belum sempat memakai pakaiannya. Tubuh polos Andrea cuma dibalut selimut. Bisa saja sewaktu-waktu selimut yang ia pakai melorot ke bawah. 


Aron turun dari ranjang. "Aku akan mencuci piring di dapur. Kalau kau sudah selesai makan, kau tinggal meletakkannya saja di atas meja, ya." 


"Ya." Cuma itu jawaban singkat dari Andrea. 


*** 


"Tumben sekali kau menelponku. Ada apa, Aron?" Anie dikejutkan panggilan telepon dari Aron. 


Anie menaikan sebelah alisnya. "Kau menelpon Leah? Semalam?" tanya Anie tidak percaya. 


"Iya, benar." Aron kemudian menambahkan, "Apa dia sedang sibuk?" 


"Tidak." Anie menggeleng. "Tapi tadi subuh, Leah mengaku tidak enak badan. Dia kelihatan pucat saat aku lihat di kamarnya." 


"Oh, ya? Benarkah?" sahut Aron. "Baiklah. Sayang sekali aku tidak bisa bicara dengan Leah. Kalau begitu sampaikan salamku kepada Leah. Aku harap dia tetap sehat sampai kami bertatap muka." 


Anie tampak bingung. Ucapan Aron terdengar cukup ambigu. "Apa kau berniat akan pulang, Aron?" 


"Mm, begitulah." Anie tersenyum sumringah. "Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi aku akan pulang sebentar lagi setelah urusanku selesai." 


"Baguslah! Aku akan menunggu kau pulang," seru Anie bersemangat. 

__ADS_1


Sambungan telepon telah berakhir setelah Aron selesai bicara. Sementara itu di dekat pintu kamar Anie, Leah mendengar Anie sedang bicara di telepon. Tapi Leah belum tahu kalau telepon itu berasal dari nomor Aron, suami mereka. 


"Anie, mau bicara dengan siapa di kamar?" Leah muncul dengan wajah pucat akibat demam. 


"Masuklah, Leah," balas Anie menyapa Leah. "Baru saja Aron telepon padaku. Dia mencari kau. Tapi Aron bilang, kau tidak mengangkat telepon darinya. Memangnya benar, ya? Tumben sekali kau tidak cerita padaku," dengus Anie kecewa. 


Wajah Leah tambah pucat. Bibirnya mengatup rapat. Sontak Leah melangkah mundur seolah ingin kabur. 


"Sepertinya Aron akan pulang ke Kalimantan. Tapi aku tidak tahu itu kapan," cerocos Anie. "Ah, ya! Dia juga menitipkan salam padaku untuk kau ..." 


"Apa ... kata Aron, Anie?" cicit Leah takut. 


"Dia berdoa untuk kesembuhan kau, Leah. Dia ingin memastikan kau tetap sehat sampai Aron pulang ke Kalimantan," jawab Anie jujur. 


Anie tidak menyadari bahwa istri pertama Aron itu tengah gemetaran menahan takut. Pesan yang dititipkan Aron kepada Anie, seperti menjadi sebuah ancaman bagi dirinya. 


"Leah, wajah kau tambah pucat. Apa tidak sebaiknya kita panggil dokter untuk memeriksa dirimu? Aku khawatir kau sakit sesuatu," ungkap Anie. 


"Tidak perlu. Aku ingin tidur saja," jawab Leah. 


*** 


Leah tidak bisa duduk dengan tenang. Makan pun tidak enak, Leah sungguhan ditekan oleh rasa takut, perasaan waspada, membuat Leah setengah berhalusinasi Aron akan melakukan sesuatu yang buruk kepada dirinya. 


"Aku sudah tahu semuanya, Leah! Berani sekali kau mengirim mata-mata padaku? Kau sudah tidak ingin menhirup udara di sekitar kau lagi?" 


Semalam, Aron mengancam dirinya. Entah bagaimana bisa orang suruhan Leah bisa ketahuan oleh Aron. Leah tentu saja gemetaran. Karena ancaman Aron pula lah, akhirnya Leah jatuh sakit. 


Leah tersentak kaget hanya karena suara dering ponselnya. Leah setengah takut ketika akan memeriksa layar ponselnya untuk memastikan siapa yang menelpon. Leah berjaga-jaga kalau itu dari Aron. Namun rupanya dugaan Leah salah. Ternyata yang menelpon dirinya adalah orang tua Leah. 


Dengan tangan yang gemetaran, Leah menggeser layar ponselnya, menerima panggilan itu. "Halo, Mom?" sapa Leah menahan suaranya yang agak gemetaran. 


"Hai, Sayang! Anak Mommy, bagaimana dengan kabarmu? Sudah lama Mommy tidak bicara dengan kau, Leah," tutur ibunya Leah. 

__ADS_1


"Baik, Mom," jawab Leah. 


"Syukurlah, Leah. Oh ya, Mommy hanya ingin memberi kabar pada kau. Kalah Mommy akan pulang ke Indonesia minggu depan. Mommy ingin bertemu dengan kau, Leah. Mommy sangat rindu. Kau bisa menjemput Mommy, kan?" 


__ADS_2